BERIMAN TANPA RASA TAKUT
Bab 8 - Kaum Muslim Perlu Bersikap Jujur
“Bertanyalah tentang uang yang Anda sumbangkan ke lembaga amal. …sejumlah lembaga donor tanpa disadari membiayai sekolah-sekolah dan lembaga-lembaga sosial yang dijalankan oleh kelompok fundamentalis Islam. Para fundamentalis ini menekan para lelaki untuk pergi ke masjid (dan) para perempuan untuk membungkus tubuh mereka. Mereka mendorong diakhirinya sekolah yang mencampur lelaki dan perempuan bersama, melarang para gadis untuk belajar sains, olahraga, dan seni. Mereka menganjurkan pendidikan yang mengajarkan kebencian terhadap kelompok lain.”
(Irshad Manji)
“AKU INGAT telah menerima banyak sekali surat yang sangat mengharukan dari orang-orangIslam yang membaca
Ayat-ayat Setan,”
kata Salman Rushdie kepadaku dalamsebuah kesempatan wawancara di tahun
2002. “Khususnya dari para perempuan muslimyang berterima kasih
kepadaku yang telah ‘membuka sebuah pintu’. Kau tahu?” Ya,aku tahu.
Seminggu sebelumnya, sekelompok perempuan telah mengorganisasi
sebuahkonferensi kaum muslim yang haus reformasi di wilayah Toronto.
Sebagian besarpeserta perempuan tidak mengenakan jilbab, yang paling
sederhana sekalipun. Tetapiitu pertanda bahwa mereka cukup perhatian
terhadap Islam karena mau menyempatkanwaktu pada hari Sabtu pagi yang
indah untuk mendiskusikan apa yang akan terjadiberkenaan dengan
keyakinan mereka—dan di mana tempat mereka.
Seorang figur pemberontak berdiri di atas podium. “Mengapa aku membutuhkan tiga puluh ribu buku di perpustakaanku? Apakah karena setiap buku mengatakan hal yang persis sama?” tanya Khaled Abou El Fadl, profesor UCLA yang memelihara anjing-anjing liar untuk menentang para mullah yang berjiwa kejam. “Cara kaum muslim memperlakukan warisan intelektual adalah seolah-olah satu buku dan buku berikutnya harus mengafirmasi ‘kebenaran sederhana’, yaitu Islam dan kita tidak perlu melihat lebih jauh lagi.” Ilmuwan muslim masa kini “pastilah yang paling kering, produk paling membosankan yang pernah dikenal oleh peradaban manusia. Karena masing-masing dari mereka bisa berkata, ‘Apa yang akan aku lakukan dalam hidupku adalah menulis persis sama dengan hal-hal yang telah dikatakan orang selama enam ratus tahun.’”
Mereka yang berkumpul di tempat itu tertawa terkikik-kikik. Ke arah kursi kosong, aku mengangguk kepada seorang gay muslim yang sedang berkencan dengan seorang Yahudi bertopi kippa. Sebelum duduk di kursiku, aku berpelukan dengan seorang Turki Bosnia yang tidak lagi kutemui sejak ia menikah dengan seorang Meksiko yang dibesarkan sebagai orang Katolik. Mereka sekarang bagian dari sebuah tarekat Sufi di kota Meksiko. Inilah hadirin yang sangat kecil kemungkinannya mengusir El Fadl dengan segera.
El Fadl menikmati kehangatan suasana tersebut dan meneruskan bicaranya, “Pernahkah Anda mengetahui sebuah peradaban yang berkembang di atas dasar masyarakat kelas terendahnya? Sebuah peradaban yang bisa aman di tangan orang-orang yang bodoh dan mudah ditipu ketimbang di tangan para geniusnya? Peradaban dibangun oleh para seniman dan sastrawan, yang memiliki kemampuan menghasilkan keindahan dan musik serta metode ekspresi diri yang baru. Peradaban bisa maju ketika orisinalitas pemikiran dihargai, bukan diberi fatwa!” Aku ingin melambaikan tangan, tetapi karena setiap orang asyik mendengarkan, aku men
ekan dorongan itu mirip “jihad di dalam diri sendiri”.
Hanya satu hal yang mengusikku. Jika kata-kata perjuangan El Fadl meluncur dari seorang non-muslim, maka leher metaforik pembicara tersebut akan dipelintir—bukan oleh kaum militan (yang tidak peduli dengan metafora), tetapi oleh kebanyakan kaum moderat yang ada di ruangan itu. Saat itu, tidak terjadi sesuatu yang khas muslim. Ketika komikus Afrika-Amerika Chris Rock bisa membumbui aksinya dengan kata “negro” padahal Jennifer Lopez, seorang perempuan Latin, menimbulkan kegusaran karena menggunakan kata yang sama tanpa niat merendahkan, maka kaum muslim bukanlah satu-satunya kelompok yang disibukkan dengan politik “keterwakilan”.
Tetapi, kenapa keterwakilan tidak bisa bergantung pada nilai-nilai bersama ketimbang pada kemiripan superfisial warna kulit bagi orang kulit hitam, orientasi seksual bagi kaum gay, atau agama bagi kaum muslim? Aku membayangkan, sebagian besar perempuan yang mendengarkan El Fadl hari itu akan mencincang siapa saja yang memerintah mereka mengenakan korset di bawah baju mereka. Lalu, kenapa ada di antara kita yang ingin memaksakan korset kebenaran kepada kaum non-muslim?
Atau, apakah kaum non-muslim menyensor diri mereka sendiri?
Aku memiliki alasan untuk merenungkan pertanyaan itu beberapa hari sebelum penampilan El Fadl. Seorang teman (sebut saja Alex) tengah mendekorasi pusat kegiatan mahasiswa di University of Toronto dengan tanda-tanda yang menggambarkan jari-jari tangan menunjuk ke atas dan ke bawah untuk mengorientasi para pendatang baru. Setelah merancang tanda-tanda ini di komputernya, Alex dengan bangga memamerkan bahwa dia telah membuat jari-jari tersebut tidak putih. Di sebuah tanda, jarinya hitam, di tanda lain berwarna abu-abu (warna paling dekat ke cokelat yang dapat dibuat oleh printernya). Ketika Alex menunjukkan kepadaku tanda-tanda ini, aku tersenyum mendukung. Lalu dia menyebutkan sebuah artikel di surat kabar hari itu tentang ekstremisme Islam di Denmark. “Men-stereotip-kan semua muslim,” dia mencaci surat kabar itu.
Setelah membaca artikel itu, aku tidak setuju dengan Alex. “Aku rasa mereka mengungkapkan hal-hal yang sungguh mengganggu,” kataku. Saat itu juga, dia mendukung kecemasanku bahwa beberapa muslim sedang menyalahgunakan liberalisme Denmark, dan bahwa kebisuan arus-utama memaafkan tingkah laku mereka. Dia menyebutkan sebuah statistik di artikel itu: Meskipun kaum muslim hanyalah lima persen dari penduduk Denmark, namun mereka mengonsumsi empat puluh persen bantuan kesejahteraan Denmark.
Hal itu mencemaskan, karena ketika negara menanggung hidup para pembikin masalah, mereka ini dapat mengisi waktu dengan mengorganisasi dan melakukan rencana. Aku tidak bisa memberi tahu Anda apakah statistik tersebut tepat atau tidak, tetapi jelas statistik itu mengganggu Alex. Tetapi, dalam keinginannya untuk tidak menyinggung jiwa kemuslimanku, dia mula-mula menuduh surat kabar itu telah melakukan kesalahan jurnalistik. Ketidakjujuran Alex yang “tidak berbahaya” sebanding dengan ketidakjujuran yang tidak berbahaya dari banyak sekali kaum muslim.
Jika Anda seorang Alex, tolong dengarkan. Ada lebih dari sebuah cara untuk mengeksploitasi Islam. Beberapa muslim mengeksploitasinya sebagai pedang, dan mereka bodoh karena melakukannya. Tetapi sama banyaknya juga—atau bahkan lebih banyak lagi—muslim yang mengeksploitasi Islam sebagai tameng, dan itu pun juga destruktif. Hal itu memproteksi kaum muslim dari tindakan mempertanyakan diri sendiri dan kaum non-muslim dari rasa bersalah. “Anda tidak punya hak untuk mempertanyakan agamaku,” para pemegang tameng sering kali berkhotbah seperti itu kepada kaum non-muslim. “Anda tidak akan pernah memahami Islam.” (Di antara banyak arti dari pernyataan ini adalah: Aku, sebagai muslim yang merasa tidak aman, tidak ingin memahami dari mana Anda datang). “Anda telah ‘merasialisasi’ orang-orangku di masa lalu dan Anda akan ‘membuat masalah’ terhadap kami lagi.” (Subteks: Kita kaum muslim tidak memiliki kekuatan dari kami sendiri. Itulah yang diajarkan profesor cultural studies-ku kepadaku.)
Terlalu sering aku menyaksikan cara penjelasan ini terasa begitu rumit. Jadi aku akan menceritakannya seperti apa adanya: Sejak aku menginjak dewasa, kaum muslim di Barat menyusu pada puting ketidaktahuan publik tentang Islam, menuntut adanya validasi dalam semua kondisi, dengan biaya seberapa pun. Para komentator lain telah mencatat juga. Bahkan sebelum peristiwa 11 September, jurnalis Inggris Yasmin Alibhai-Brown menulis bahwa ”ide tentang masyarakat kita sebagai sebah pakta yang tidak saling mencampuri urusan antar-kelompok bukan saja salah, tetapi juga tidak mungkin. Kita semua sekarang perlu saling terlibat. “Kita harus menyingkirkan tameng pemisah dan menerima sebuah masyarakat yang terbuka: bahwa kita bisa mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada satu sama lain. Terkadang pertanyaan-pertanyaan itu terfokus. Terkadang di muka publik.
Dalam semangat ini, seharusnya kita tidak membiarkan candu multikultural membius otak kita lagi. Tetapi itulah yang tengah kita lakukan. Misalnya, sebuah proyek bernama Muslims in the American Public Square memuji para pemilih muslim AS. “Menurut urutan alfabet, anggota kami mulai dari orang Albania, Afghanistan, dan Aljazair di satu sisi, dan di sisi lainnya orang Yaman dan Zanzibar,” lengking situs web proyek tersebut. “Hal yang menyenangkan bagi kami adalah kenyataan bahwa di sini di Amerika Serikat...sebuah perasaan solidaritas muslim tengah tercipta.” Divisi-divisi lama memudar, persatuan muncul dari perbedaan. Muslims in the American Public Square menyajikan kisah munculnya zaman klasik.
Kecuali untuk satu hal: Pada pengecekan terakhir, tidak seorang perempuan pun duduk di dewan penasihatnya. Terlebih lagi, proyek tersebut memasang sebuah foto tentang dua puluh lima “pemimpin muslim nasional” yang datang bersama untuk sebuah kelompok terfokus yang diorganisasinya, dan tidak ada satu perempuan pun berada di antara mereka. Aku tidak peduli pada kuantitas yang sama hanya demi kepentingan mereka sendiri. Keluhan muncul berhubungan dengan langkah-langkah dasar yang tidak diambil untuk mengikis Islam tribal. Dengan catatan pelanggaran hak asasi manusia di dunia muslim kontemporer yang luar biasa, termasuk terhadap hak-hak perempuan, berikut ini adalah keberatanku: Tidak ada perempuan berarti tidak cukupnya pluralisme dan perubahan. Apakah ada seseorang yang telah mengingatkan Muslims in the American Public Square tersebut akan adanya jurang “perbedaan” yang sangat dalam di antara mereka, ataukah melakukan hal seperti itu akan mengacaukan kegembiraan multikultural dari perayaan mereka?
Aku ingin mengemukakan lagi sebuah contoh tentang bagaimana kita di Barat ditenangkan oleh getar-getar multikulturalisme. Pada tahun 1994, wakil perdana menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, memberikan ceramah di Georgetown University berjudul “Perlunya Dialog Peradaban”. Anwar mengakui bahwa “kebodohan, ketidakadilan, korupsi, kemunafikan, dan terkikisnya kebaikan moral terjadi cukup merata di masyarakat muslim kontemporer. “Akan tetapi,” dia memperingatkan, “konsumen media massa yang mudah ditipu di masa kini akan membentuk kesan bahwa dunia Islam hanya dihuni oleh para fundamentalis yang keras dan mengancam.” Kenyataannya, peradaban muslim “telah memproduksi banyak kisah cinta.” Anwar memberikan contoh “kisah mempesona” tentang Layla dan Majnun. “Menurut kisah itu, seorang laki-laki muda dicemooh dan ditertawakan karena obsesinya terhadap seorang gadis, karena menurut mata dunia, penampilan fisik Layla yang kurang menawan. Dalam merespons semua perlakuan ini, lelaki muda tersebut selalu menjawab: ‘Untuk melihat kecantikan Layla, seseorang membutuhkan mata Majnun.’”
Dengan menghancurkan romantika kisah tersebut, aku harus bertanya: Apakah Layla punya pilihan untuk tetap melajang ketimbang menikahi Majnun? Bolehkah dia ke luar negeri tanpa persetujuan Majnun? Dapatkah dia memilih kariernya? Dapatkah dia memiliki karier? Apakah ada satu dari pertanyaan-pertanyaan ini yang diajukan keras-keras oleh kaum non-muslim yang menghadiri pidato Anwar Ibrahim? Anwar Ibrahim tidak akan tergoyahkan di bawah interogasi. Dia menuntut hak asasi manusia, dan itulah yang menggusarkan bosnya, Mahathir Mohamad, perdana menteri Malaysia, yang kemudian menjebloskannya ke penjara untuk membungkamnya. Kenapa kita terlampau takjub pada kisah-kisah indah yang mungkin saja mengungkapkan kenyataan-kenyataan yang menyesakkan?
Catatan untuk kaum non-muslim: Bertanyalah pada romantika kisah-kisah yang terlalu diagungkan. Masyarakat terbuka tetap terbuka karena orang berani mengambil risiko bertanya—keras-keras. Pertanyaan-pertanyaan seperti, ”Mengapa begitu mudah mengerahkan ribuan orang Islam ke jalan untuk mencela larangan Prancis yang terbatas terhadap hijab, tetapi mustahil mengerahkan sebagian saja dari para demonstran tersebut ke jalan untuk memprotes pemaksaan menyeluruh atas pemakaian hijab di Arab Saudi?” Dan ketika kaum muslim bersikukuh, “Kami melakukan demokrasi dengan cara kami sendiri,” mereka perlu mendengar pertanyaan ini: “Hak apa saja yang benar-benar dinikmati kaum perempuan dan minoritas-minoritas agama dalam demokrasi semacam itu—tidak dalam teori, melainkan dalam praktik?” Tak diragukan lagi, di antara respons yang diberikan, Anda akan mendengar jawaban bahwa Barat seharusnya melihat dengan lebih baik lagi bagaimana mereka merendahkan kaum perempuan lewat impian payudara dan operasi plastik hanya agar bisa diterima masyarakat. Setuju, Barat seharusnya melihat dengan lebih baik lagi.
Tetapi, selama bertahun-tahun berjuang sebagai feminis di Barat, aku belum pernah bertemu seorang gadis yang ditolak orangtuanya karena tidak mau menginjeksikan silikon ke dalam payudaranya—dan ternyata lebih banyak orangtua muslim yang memarahi anak-anak perempuan mereka yang menentang khitan klitoris. Kaum non-muslim tidak akan membantu dunia dengan bersikap diam pada saat kaum muslim mulai berbicara. Maka, beranilah untuk terus bertanya.
Bertanyalah kepada para pemikir gadungan zaman kita ini—para aktivis perdamaian, misalnya—mengapa mereka bersekutu dengan tokoh-tokoh tertentu dan berharap kita semua bertepuk tangan untuk mereka. Pada bulan Januari 2003, ketika Dewan Keamanan PBB berdebat tentang bagaimana melucuti Saddam Hussein, aku mengamati protes anti-perang di Toronto. Pembicara terakhir hari itu—reporter-utama tim impian anti-perang, jika Anda mau menyebutnya demikian—mempublikasikan sebuah surat kabar yang memberikan penghargaan pada teokrasi gaya Iran.
Aku mesti bertanya-tanya, apakah massa yang berteriak dan bersorak itu memiliki hak legal untuk berkumpul jika orang-orang seperti dirinya (pembicara itu) berkuasa. Pada hari yang sama di Washington D.C., para pengorganisir anti-perang menampilkan seorang ulama muslim yang, di bulan Oktober tahun 2001, berpendapat bahwa “kelompok Zionis di Hollywood, New York, dan Washington” berkolusi melawan kaum muslim. Jika AS perlu mempertimbangkan kembali persekutuannya, kelompok progresif Barat harus melakukan hal yang serupa. Tetapi Anda tidak akan tahu betapa mentereng tetapi tidak berharganya beberapa kerja sama sampai Anda berani mengajukan pertanyaan.
Bertanyalah tentang uang yang Anda sumbangkan ke lembaga amal. Menurut Women Living Under Muslim Laws, sejumlah “lembaga donor” tanpa disadari membiayai sekolah-sekolah dan lembaga-lembaga sosial yang dijalankan oleh kelompok fundamentalis Islam. Para fundamentalis ini, pada gilirannya, memperhebat “tekanan terhadap para lelaki untuk pergi ke masjid (dan) terhadap para perempuan untuk membungkus tubuh mereka.” Mereka “memaksakan diakhirinya sekolah yang mencampur lelaki dan perempuan bersama, melarang para gadis untuk belajar sains, olahraga, dan seni, (serta) menganjurkan pendidikan yang mengajarkan kebencian terhadap kelompok lain.”
Jangan juga terlena dengan nama-nama yang terlihat netral. The Benevolence International Foundation, the Mercy International, the Global Relief Foundation—semuanya adalah nama-nama yang terdengar indah, padahal semuanya siap untuk menebarkan teror atas nama Islam. Kemudian, ada Human Concern International, sebuah amal usaha Islam yang bermarkas di Ottawa. Suatu saat, Ahmed Said Khadr, direktur untuk wilayah Pakistan yang kemudian menjadi warga negara Kanada, membujuk kaum muslim Kanada lain untuk menyerahkan perhiasan dan cek guna “meringankan penderitaan umat manusia”. Tampaknya, orang-orang tidak mencium asap beracun bahwa dia mungkin seorang operator senior Al-Qaeda. Setelah otoritas Pakistan menahan Khadr dalam sebuah persekongkolan bom di tahun 1995, Human Concern pun memecatnya. Setelah dilepas, Khadr memulai sebuah amal tandingan di bawah panji perdamaian yang serupa, Health and Education Projects International.
Aku tidak sedang memaksa Anda untuk berhenti beramal. Aku hanya mendorong Anda untuk berhenti percaya begitu saja ke mana donasi Anda diberikan tanpa sikap kritis. Beranilah untuk mengkritisi segala sesuatu yang mencurigakan.
Anda cukup merasa aman saat mengkritik para politisi, bukan? Tidak semenakutkan ketika menuntut tanggung jawab terhadap kaum muslim, bukan? Baiklah. Jika Anda seorang warga negara Amerika, bagaimana Anda tahu bahwa pajak dollarmu tidak mendanai buku-buku teks yang menganjurkan perang di Afghanistan, sebagaimana yang terjadi di era Reagan di bawah US Agency for International Development? Sudahkah Anda meminta informasi kepada anggota kongres Anda? Jika Anda hidup di Norwegia, apakah Anda sadar bahwa sekolah pelatihan berbahasa Inggris yang dijalankan oleh negara Anda (yang dibayar dengan sumbangan uang Anda) kadang-kadang memisahkan perempuan muslim dengan laki-laki muslim, dan dengan begitu gagal memperkenalkan para imigran ini kepada sebuah prinsip dasar pluralisme—pendidikan yang tidak memisahkan lelaki dan perempuan?
Kepada para penduduk Belanda, bagaimana Anda yakin bahwa Dutch Muslim Broadcasting System tidak lagi memasok siaran bermuatan kebencian kepada stasiun TV publik Anda, Nederland 1, sebagaimana yang mereka lakukan pada tanggal 11 September 2001? Kepada orang-orang Kanada, Anda harus tahu bahwa pada peringatan pertama peristiwa 11 September, sebuah kelompok yang didanai oleh pemerintah federal, Toronto Response to Youth (TRY), menyelenggarakan lokakarya tentang perlunya toleransi. Tetapi materi TRY menghubungkan stereotip media tentang kaum muslim dan yang lain dengan “korporasi-korporasi yang dijalankan oleh kebanyakan kaum laki-laki Kaukasus atau Yahudi.” Apakah ini anti-rasisme? Untuk siapa? Alice dan Ali di Wonderland?
Beberapa dari Anda mungkin akan menggerutu sendiri. “Tetapi memang benar bahwa orang kulit putih dan Yahudi mengepalai semua perusahaan multinasional yang menguasai media. Apakah mengatakan yang sebenarnya membuat kita menjadi rasis?” Kesampingkan dulu seorang laki-laki kulit hitam bernama Richard Parsons, CEO di AOL-Time Warner, serta Oprah Winfrey, Sonny Mehta, dan Quincy Jones. Anggap saja Anda benar bahwa orang kulit putih dan Yahudi mengomandoi budaya arus-utama. Selama kita bermain dalam term-term tersebut, penting bagiku untuk membocorkan beberapa rahasia tentang TRY, proyek “anti-rasisme” tersebut. Sebagian besar para pemimpin lokakarya memiliki nama-nama muslim. Mungkin kita seharusnya tidak terkejut dengan kenyataan bahwa anti-rasisme ternyata mengambil bentuk anti-Semitisme ketika kaum muslim menyadarinya. Ataukah “penggambaranku” terhadap individu-individu ini membuatku menjadi seorang rasis? Bukankah “orang-orang yang anti-rasisme” itu juga memprofilkan dengan memvisualisasikan orang kulit pucat dan yarmulke (pakaian Yahudi) di belakang stereotip media? Apakah mereka kurang-lebih, atau secara sederhananya, sama rasisnya seperti diriku? Pada akhirnya, Anda dapat melihat betapa membosankannya kontes semacam itu.
Jauh lebih berharga untuk mengajukan pertanyaan: Mengapa pertanyaan sah dari beberapa kaum (muslim, misalnya) membawa tuduhan rasis sementara pertanyaan sah dari orang lain (misalnya, kaum Amerika non-muslim) tidak? Lagi pula, baik Amerika maupun Islam tidaklah monokromatik. Tidak satu pun merupakan “ras” dalam artian genetika yang bodoh. Jadi apa yang disampaikan? Setidaknya ada tiga hal.
Pertama, warga Amerika menganggap diri mereka sendiri didefinisikan oleh sebuah ide: kebebasan. Meskipun negeri mereka tidak buta-warna, ide kebebasan bersifat buta-warna. Sebagian, itulah sebabnya mengapa tidak masuk akal menyebut para interogator Amerika itu “rasis”. Hanya karena tuduhan rasisme yang merusak itu tidak mendapat dukungan dari para kritikus Amerika, maka kritik mereka boleh mengenai kita. Dan hal itu memang dibolehkan—sebagaimana seharusnya kritik atas negara Islam yang berbeda-beda secara demografi. Kaum muslim yang dengan otomatis mencurigai adanya rasisme pada para interogator Islam tengah melekatkan fiksi bahwa kita semua berasal dari satu tempat. Anda tidak dapat menyalahkan stereotip semacam itu sebagai tanggung jawab kaum Yahudi atau kulit putih.
Ada alasan kedua yang rasanya cukup adil untuk mempertanyakan orang Amerika non-muslim—dan Barat secara umum—tetapi bukan kaum muslim. Orang-orang Barat tidak punya kebiasaan menghancurkan Anda secara fisik akibat menolak otoritas resmi. Tidak setiap orang Amerika menerima fakta bahwa New York Times Magazine mengkritik perkiraan FBI tentang jumlah anggota Al-Qaeda di Amerika, dengan menyebutnya “estimasi yang kurang-lebih bersifat sembrono”. Tetapi, apakah kantor majalah tersebut dibakar, seperti yang terjadi di Nigeria ketika seorang kolumnis tanpa sengaja menyentil kelompok muslim yang berkuasa? Bermacam saluran TV kabel Amerika telah menyiarkan iklan yang bertanya, “Apa yang dikendarai Yesus?” sehingga dengan begitu menggoyang oligarki minyak. Saluran-saluran ini juga menayangkan tuduhan Nelson Mandela terhadap George W. Bush “sebagai seorang presiden yang tidak dapat berpikir dengan baik”. Tetapi, apakah izin mereka dicabut atau jurnalis mereka dikasari? Sebagai perbandingan, Arab Saudi, Kuwait, dan Yordania telah mengusir para reporter Al-Jazeera karena mengkritik rezim mereka.
Ini sebuah bukti seberapa jauh pemerintah AS menoleransi kritik dari dalam, sehingga pasca-11 September, Jello Biafra, pentolan band punk Dead Kennedys di tahun 1980-an, bisa melakukan tur ke kota-kota di Amerika Utara dengan kata-kata kasar tentang Bush. Biafra menertawakan suara sengau Bush saat mengucapkan pernyataan-pernyataan yang secara tata bahasa terbalik-balik, di depan penonton yang bersorak menyambut suguhan itu.
Bahkan Tuhan pun menjadi bulan-bulanan di beberapa wilayah di Amerika Serikat. Suatu kali aku menyaksikan seorang laki-laki di Pantai Venice, California, memainkan gayanya sendiri atas lagu “God Bless America”. Nikmatilah liriknya:
Tuhan, Berkatilah celana-celana dalamku!
Merek yang aku sukai
Beradalah di dalamnya
Naikilah mereka
Di antara dua pantatku ketika aku berkuda
atau bersepeda...
Pelantun lagu itu mungkin seorang yang naif dan gendeng, tetapi celana dalamnya tidak lantas diinspeksi oleh agen-agen FBI atau pantatnya ditendang oleh para pendakwah Kristen. Cobalah berbicara miring tentang Allah di sebuah negara muslim. Kita sudah mengetahui histeria yang terjadi ketika Nabi Muhammad diejek—padahal dia bukan Tuhan!
Kembali ke Amerika, izinkan aku mengatakan bahwa orang-orang presiden sungguh-sungguh menyerang ke mana saja mereka bisa. Menahan secara semena-mena, menggeledah secara acak, menahan tanpa peringatan, menyadap telepon, menyensor surat, mengklasifikasi dokumen-dokumen pemerintah: Seluruh Amerika Serikat mengetahui itu semua. Para tentara di sebuah barak militer di California mungkin menembak mati para aktivis anti-perang yang melanggar batas. Pentagon memiliki kantor komunikasi hiburan yang memutus hubungan dengan Hollywood untuk membersihkan gambaran militer AS dengan mengorbankan akurasi historis. Negara bagian Florida, yang diperintah oleh adik laki-laki George W. Bush, Jeb, baru-baru ini memerintahkan seorang sopir untuk menyerahkan nomor mobilnya karena bertuliskan “ATHEIST”. Dan Clear Channel yang bermarkas di Texas, jaringan radio terbesar di Amerika sekaligus penyokong dana sang presiden, telah mendukung perang melawan teror dengan memboikot hampir seratus enam puluh lagu yang dapat menghinakan sensibilitas pasca-11 September. Ya, memang betul, banyak juga pemaksaan di negeri yang bebas.
Begitu pula kebebasan memberitakan kasus-kasus tersebut. Aku dan Anda tahu tentang kebodohan Amerika karena kita mendengar tentang hal itu terus-menerus. Wajar untuk mencerca suatu negara jika kita tahu cacatnya, dan wajar mempublikasikan cacat-cacat tersebut jika kita tahu bahwa lidah, lengan, atau kepala kita tidak akan dipotong karena membicarakannya. Kaum muslim seharusnya berintrospeksi apakah hal-hal semacam itu (yang dikenal di Barat sebagai “hak”) memberikan kontribusi mengapa kita begitu saja menuding Amerika dan Israel sebagai biang kerok kesalahan, sembari mengesampingkan kritik terhadap negara-negara Islam sendiri. Kelompok non-muslim seharusnya bertanya-tanya kenapa mereka tidak mengajukan pertanyaan seperti itu lebih sering.
Sekarang, saatnya aku menguraikan alasan terakhir mengapa kita memandang baik mengkritisi Amerika tetapi tidak terhadap kritik atas kaum muslim sendiri. Tidak hanya AS akan mendengarkan perincian kegagalan dirinya, AS akan bertanggung jawab atas beberapa kegagalan tersebut. Bahkan ketika sampai pada hal yang paling penting, yaitu uang, Amerika pun terkadang terlibat dalam introspeksi transparan untuk meluruskan keadaan. Selama musim panas tahun 2002, CNBC, saluran TV pilihan untuk masalah keuangan di AS meliput penipuan akunting di perusahaan energi raksasa Enron. “Apa yang Salah?” sorot salah satu grafik CNBC. Enam bulan kemudian, majalah Time mengangkat mereka, para pengungkap kejahatan korporasi Amerika itu, sebagai “Tokoh Tahun Ini”. Dan semuanya perempuan! Semua memiliki sistem hukum, pengadilan, dan politik untuk mengadu kepada mereka yang peduli terhadap apa yang dikatakan oleh perempuan-perempuan ini. Di dunia muslim, di mana Anda akan menemukan perempuan dielu-elukan karena jasa mereka dalam membongkar korupsi?
Maka, bergantung kepada kita di Barat untuk mengakhiri tuduhan-tuduhan reaksioner rasisme terhadap para pengungkap kejahatan dari Islam dan memulai tuntutan adanya perubahan.
Memicu perubahan artinya berhenti untuk memahami Al-Quran secara harfiah dan juga tidak memahami multikulturalisme secara harfiah. Mengapa khitan terhadap klitoris perempuan yang dipaksakan harus dituruti? Mengapa polisi harus diam ketika seorang ayah (atau ibu) mengancam membunuh anak perempuannya yang memilih menikah di luar agama? Mengapa seorang sopir taksi muslim yang memperkosa seorang perempuan cacat mental lolos dari jeratan hukum atas dasar sensitivitas budaya? Mengulangi kata-kata seorang profesor Jerman dan muslim yang taat, Bassam Tibi, mengapa hak asasi manusia harus menjadi milik kaum non-muslim?
Sebagaimana orang-orang Barat menyembah-nyembah multikulturalisme, kita sering bertindak seolah-olah segalanya berjalan dengan baik. Kita melihat kesiapan kita untuk melakukan akomodasi sebagai sebuah bentuk kekuatan—bahkan sebuah bentuk superioritas budaya (walaupun hanya sedikit dari kita yang akan mengakui hal itu). Tetapi kaum fundamentalis melihat insting inklusif kita sebagai sebuah kelemahan yang membuat kita lembek dan tanpa arah. Kaum fundamentalis membenci kelemahan. Mereka yakin bahwa si lemah pantas ditaklukkan. Maka, paradoksnya, semakin kita mengakomodasi sikap berdamai, semakin tumbuh rasa jijik mereka atas “kelemahan” kita. Mungkin paradoks yang paling utama adalah, dalam rangka membela keragaman kita, kita perlu kurang toleran. Sekurang-kurangnya, kita perlu lebih waspada.
Kewaspadaan mensyaratkan sebuah pertanyaan spiritual (tetapi tidak mesti religius): Nilai-nilai apakah yang menuntun hidup kita? Dari seperangkat ideologi dan keyakinan yang berasal dari luar, filter apa yang akan menyaring hampir setiap hak kebebasan berekspresi? Kata-kata lembap seperti “toleransi” atau kata-kata cair seperti “saling menghormati” tidak termasuk nilai penuntun. Mengapa kita justru menoleransi kefanatikan yang cenderung penuh kekerasan? Di mana letak kata “saling” dalam kalimat “saling menghormati”? Amin Maalouf, seorang novelis di Prancis, menegaskan poin ini: “Tradisi patut dihormati hanya sejauh tradisi itu dapat dihormati—yaitu tepat sejauh tradisi itu menghargai hak-hak fundamental laki-laki dan perempuan.” Kita, orang Barat muslim dan non-muslim, perlu memutuskan sebuah nilai yang mencerminkan sensibilitas ini dan memulai tindakan kita dari sana. Apa pun yang tidak menggerakkan masyarakat ke arah nilai tersebut seharusnya tidak ditoleransi. Titik.
Jaring semacam itu akan membatalkan interpretasi-interpretasi tertentu terhadap Islam, dan biarkan saja begitu. Aku akan mengangkat sebuah contoh sensasional, namun asli, tentang apa yang tidak bisa ditoleransi jika kita akan mempertahankan kebebasan berekspresi bagi sebanyak mungkin orang. Pada tahun 1999, “Pengadilan Syariah Inggris yang mengangkat dirinya sendiri” memfatwakan hukuman mati kepada penulis drama Terence McNally. Acara McNally, Corpus Christi, menggambarkan Yesus sebagai seorang laki-laki gay. Menggunakan hak mereka atas kebebasan berekspresi, banyak orang Kristen waswas dalam pertunjukan pertama Corpus Christi di Edinburgh. Syekh Omar bin Bakri Muhammad, seorang hakim di Pengadilan Syariah, melangkah lebih jauh dengan memainkan kartu ‘kehormatan’. Mengecam Gereja Inggris karena “mengabaikan kehormatan perawan Maria dan Yesus”. Syekh Omar menandatangani fatwa atas McNally, kemudian menyebarkannya di London. Kebebasan berekspresi? Begitulah. Namun, jika dilaksanakan, fatwa tersebut akan memotong hidup McNally menjadi lebih pendek, menghilangkan (dan bukan sekadar mengurangi) kebebasannya dalam berekspresi.
Supaya adil, fatwa tersebut menekankan bahwa McNally seharusnya dieksekusi hanya di sebuah negara Islam. Dan fatwa itu memberikan jalan keluar: Dengan masuk Islam, si penulis drama itu dapat lolos dari hukuman mati. Tindakan setengah-setengah, seperti bertobat, tidak bisa membatalkan hukuman mati, tetapi “keluarganya akan diurus oleh negara Islam yang melaksanakan hukuman tersebut dan dia dapat dikuburkan di kuburan Islam”. Sungguh mengagumkan!
Berikan satu saja alasan yang masuk akal mengapa Syekh Omar harus dibolehkan tetap tinggal di Inggris setelah mengeluarkan fatwa hukuman mati. Dewan Muslim Inggris (Muslim Council of Britain) mengklaim bahwa Syekh Omar hanya mewakili tidak lebih dari seribuan muslim dari dua juta muslim di Inggris. Jika itu memang benar, maka kaum muslim Inggris—tepatnya, kaum muslim di seluruh Barat—tidak perlu cerewet terhadap tuntutan atau deportasi atas McNally karena semua bentuk Islam yang menghormati kebebasan untuk tidak beriman, kebebasan menempuh jalan sendiri, akan bertahan terus. Hanya Islam padang pasir yang tidak akan bertahan. Dan, tidakkah kita seharusnya bernapas lega atas kemungkinan seperti itu?
Sebagai nilai penuntun, aku menawarkan agar kita di Barat setuju terhadap individualitas. Ketika kita merayakan individualitas, kita membiarkan hampir semua orang memilih keinginan mereka, apakah mau menjadi pemeluk satu agama, pemeluk semangat kebebasan, atau menjadi keduanya. Bagi sebagian besar orang Eropa, “individualitas” mungkin terdengar nyaring seperti individualisme-nya Amerika. Tidak harus selalu begitu. Individualisme— Aku sendiri untuk diriku sendiri—berbeda dengan individualitas— aku sendiri, dan masyarakatku memperoleh keuntungan dari keunikanku). Pertanyaanku kepada orang Eropa non-muslim adalah: Apakah Anda percaya bahwa enam belas juta muslim di Eropa, sebagai individu-individu, mampu menyumbangkan sesuatu? Maka, pertanyaannya bukanlah apakah mereka mampu atau tidak, tetapi apakah Anda percaya bahwa mereka mampu.
Eropa, kenapa kau ragu untuk membayangkan kaum muslim sebagai warga negara sepenuhnya? Banyak keluarga muslim telah tinggal di Jerman sejak Perang Dunia II. Kenapa mereka masih dianggap sebagai imigran generasi kedua dan ketiga ketimbang sebagai orang Jerman? Ada apa dengan kengototanmu (atas) kemurnian (ras)—sesuatu yang kau benci dari Israel, meskipun Israel telah sejak lama menganugerahkan kewarganegaraan bagi kaum pendatangnya? Aku mohon kepadamu, wahai Eropa, untuk tidak memelihara dalam pemikiranmu suatu persekutuan antara tribalisme padang pasir dengan tribalismemu sendiri. Singkirkan pertahananmu dan belajarlah dari model pluralistik Amerika Utara, di mana kaum muslim dapat menjadi warga negara yang terintegrasi ke dalam masyarakat di sana. Apakah kau ingin melihat pluralisme menyusut karena pluralisme Amerika juga hendak menyusut? Tentu saja, kau akan membuat jengkel orang Amerika, tetapi kau juga akan meragukan nenek moyang liberalmu, dari Ibnu Rusyd hingga Erasmus, dari Kant hingga Voltaire (dan Voltaire, mari kita jujur saja, akan mengangkat gelas anggurnya kepada para Yankee kasar yang menyanyikan lagu “Tuhan Berkatilah Celana-celana Dalamku”.)
Eropa, apakah kau sudah menyerah pada rumor bahwa masamu telah lewat dan dengan demikian kau tidak memiliki peran di masa depan? Dengan cepat kau marah terhadap agresi Amerika di Irak, tetapi imigrasi dari negara-negara muslim harus menjadi isu yang juga menggelisahkanmu. Keberlangsungan hidupmu sebagai sebuah blok tersendiri bergantung pada kaum imigran, setidaknya sama bergantungnya seperti masa depan Amerika Utara. Kau punya kepentingan pribadi yang tercerahkan dalam membantu kaum muslim Arab untuk beradaptasi dengan demokrasi sebelum mereka turun gunung dalam jumlah besar menuju kota-kota di negara-negaramu. Jadi, kenapa kau tidak bersatu melawan rezim-rezim Arab di mana minoritas muslim Sunni mengontrol mayoritas Syiah? Seperti sebagian besar dari dirimu, aku alergi dengan sektarianisme agama. Namun, di manakah sikap antipatimu terhadap apartheid dalam kasus-kasus tersebut?
Apa yang kau katakan kepada Rami Khouri, seorang wartawan Palestina yang menulis bahwa “institusi-institusi masyarakat madani yang independen dan kredibel tidak ada di kebanyakan negara di Teluk Persia, Suriah, Irak, dan Libia; dan institusi-institusi tersebut berada di bawah tekanan di Sudan, Aljazair, Tunisia, dan Yaman”? Eropa, ekonomimu tengah berjuang keras sekarang, dan tentu saja kau harus berjaga terhadap adanya rasisme anti-Arab yang mungkin dipicu oleh adanya malaise ekonomi. Tetapi, berhati-hatilah terhadap rasisme yang muncul akibat over-kompensasi. Menggambarkan kaum Zionis sebagai imperialis atau Nazi Eropa bukanlah jalan untuk menyelamatkan nuranimu yang dirundung derita. Mendukung hak asasi manusialah yang akan membebaskan dirimu dari penderitaan itu. Siapakah yang akan mencegahmu menggerakkan demonstrasi raksasa di jalan-jalan untuk menentang pengekangan terhadap kebebasan asasi manusia?
Mungkin kau akan mengatakan bahwa kebebasan itu tidak universal. Dalam rangka melawan globalisasi—sebuah proses yang dianggap menstandarkan seluruh gaya hidup—kau mungkin berkesimpulan bahwa universalitas kebebasan adalah eufemisme yang licik dari penyeragaman budaya. Lihatlah kenyataan! Di bawah keseragaman globalisasi, tidak seorang pun yang memaksa diriku untuk membebek kepada McDonald. Aku bisa memilih untuk tidak membaca dan memesan menu McDonald. Aku bisa memilih untuk berjoget dalam alunan musik Nusrat Fateh Ali Khan, mengenakan T-Shirt yang bertuliskan kutukan buruh yang dibayar murah, menaiki kereta ke luar negeri untuk ikut dalam satu dua protes tanpa harus terlebih dulu mendapatkan izin dari ayahku untuk bepergian. Sebaliknya, di bawah keseragaman fundamentalisme Islam, aku tidak bisa memilih sama sekali. Tidak juga kau. Menyamakan kejahatan Islam padang pasir dengan dosa-dosa globalisasi adalah sebuah kesalahan yang dilakukan oleh kaum yang memperoleh privilese yang berlebihan. Yaitu, mereka yang tidak pernah sadar tentang sesuatu yang lebih buruk ketimbang teror dan horor yang dijadikan barang dagangan.
Eropa, apakah kau sudah begitu jatuh karena kompleksitas budaya sehingga kau kehilangan pandangan atas kepastian peradaban? Satu kata yang sarat makna: peradaban. Tetapi seperti yang aku tunjukkan, kaum muslim juga turut memberikan sumbangsih bagi peradaban Barat. Kaum muslim bertindak sebagai bidan Renaisan Eropa, sambil selalu mempekerjakan kaum Yahudi, Kristen, dan yang lain, yang pada gilirannya, banyak sekali mengadopsi tradisi-tradisi Yunani, Bizantium, dan sekelilingnya. Tanggung jawab global kita sekarang bukanlah untuk menentukan siapa yang memiliki identitas itu, tetapi menyampaikan kepada generasi mendatang hal-hal yang kita pinjam satu sama lain.
Dengan tujuan seperti ini, aku ingin berhenti di tempat aku memulai: dalam sikap mengapresiasi terhadap apa yang telah dilakukan Barat terhadapku—jelas, terhadap banyak orang Islam lainnya. Aku berutang budi kepada Barat atas keinginanku untuk membantu mereformasi Islam. Dengan segala kejujuran, wahai teman-teman muslimku, Anda pun berutang kepada mereka.
- Kata Pengantar oleh Profesor Khaleel Mohammed
- Sekapur Sirih
- Catatan Pengarang
- Surat Terbuka
- Bab 1 - Kenapa Aku Menjadi Muslim Refusenik?
- Bab 2 - Tujuh Puluh Perawan?
- Bab 3 - Kapan Umat Islam Berhenti Berpikir?
- Bab 4 - Gerbang dan Korset
- Bab 5 - Siapa Mengkhianati Siapa?
- Bab 6 - Wilayah-wilayah Rawan dalam Islam
- Bab 7 - Operasi Ijtihad
- Bab 8 - Kaum Muslim Perlu Bersikap Jujur
- Bab 9 - Terima Kasih kepada Peradaban Barat
- Kata Penutup
- Bacaan-bacaan yang Dianjurkan
- Ucapan Terima Kasih
- Tentang Pengarang
Documentary

Irshad's PBS Documentary: Faith Without Fear follows my journey around the world to reconcile Islam and freedom.
Learn More and View Clips...
Buy Now in the USA
Buy Now in Canada
Get Involved

Irshad is pioneering efforts throughout the world to promote Muslim reform and moral courage. To join her mission, first get informed about all that she's doing.
Click here for concrete actions you can take to support Irshad's work.
Get Updates
Want to know more about what Irshad's doing? Sign up to her confidential mailing list.
Click here to see photos of Irshad's latest events and read her newsletters.
Around the Web
Join conversations about Muslim reform and moral courage around the web.
Click the links below to get involved:
RSS Feed - get the latest updates as soon as they go live




