BERIMAN TANPA RASA TAKUT
Bab 7 - Operasi Ijtihad
“…Mohamed Atta, mahasiswa Hamburg dan salah seorang pembajak pesawat dalam peristiwa 11 September ini menelan mentah-mentah Al-Quran seperti ia menelan mentah-mentah pelajaran computer programming. Meski dibesarkan di lingkungan yang agak sekuler, mendapat gelar sarjana teknik di Mesir, dan kuliah pascasarjana di Jerman, ia tampaknya tidak mampu (atau tidak tertarik) untuk mempertanyakan para ahli tafsir Islam yang otoriter.”
(Irshad Manji)
MUNGKIN AKAN tampak menggelikan karena seseorang yang bukan teolog, politisi, ataupun diplomat berani berkomentar tentang apa yang bisa dilakukan untuk melakukan reformasi Islam. Terkadang, ketika mengingat hal itu, aku merasa congkak—tetapi hanya sesekali saja. Aku tidak memedulikan “posisiku”. Perubahan harus datang dari mana saja. Mengapa perubahan itu tidak datang dari seorang perempuan muslim muda yang tak memiliki kepentingan mempertahankan status quo , baik secara emosional maupun yang lainnya?
Inilah beberapa masalah yang telah kudapatkan sejauh ini. Umat Islam terus-menerus memamerkan keahlian merendahkan kaum perempuan dan kelompok agama minoritas. Dapatkah kedua masalah ini diselesaikan pada saat yang sama? Aku telah merajut harapan dari Al-Quran maupun sejarah, untuk melihat kemungkinan reformasi. Misalnya, kaum muslim memiliki hubungan mesra dengan perdagangan selama berabad-abad, yang telah membangkitkan minatku karena dua alasan:
Pertama, perdagangan selalu membantu melumasi roda-roda hubungan, baik antara kaum muslim, Yahudi, maupun Kristen. Kedua, di dalam Al-Quran tidak ada larangan bagi perempuan untuk berbisnis. Kesimpulan sementaraku: Kapitalisme yang sadar akan Tuhan serta ditopang oleh peran perempuan mungkin bisa menjadi jalan untuk memulai reformasi terhadap Islam. Tetapi, adakah orang lain yang berpikiran bahwa ide seperti ini akan berhasil?
Suatu sore di bulan Oktober 2002, aku melihat selintas satu episode Oprah Winfrey Show yang menampilkan keadaan menyedihkan perempuan muslim di seluruh dunia. Oprah menayangkan seorang perempuan yang menghadapi kematian dengan cara dirajam, seorang perempuan yang wajahnya rusak karena siraman cuka, dan seorang perempuan yang mengatakan bahwa di dalam masyarakatnya nilai dirinya sama dengan sepasang sepatu—tidak kurang dan tidak lebih. “Apa yang dapat kita lakukan?” Oprah bertanya di depan kamera secara blakblakan.
Direktur acara menampilkan Zainab Salbi, salah satu tamu Oprah. “Aku kenal seorang perempuan Afghan yang mengatakan bahwa dengan uang seratus dollar, dia dapat memulai sebuah bisnis yang menghasilkan uang,” kata Salbi, ketua advokasi global untuk perempuan, kepada para pemirsa TV sembari meneruskan bicaranya tentang seorang wirausahawan perempuan dari Afghanistan. “Bantulah dia belajar membaca dan menulis sehingga dia tidak menandatangani surat-surat” yang melepaskan hak perwalian atas anak-anaknya. “Bantulah dia mengetahui hak-haknya sehingga dia dapat memberi tahu suaminya atau kepala sukunya: ‘Tidak, Anda tidak boleh melakukan itu kepada saya.’ Bantulah dia mengendalikan perjuangannya!” usul Salbi agar kaum perempuan di Barat mengajarkan keterampilan berbisnis kepada kaum perempuan di dunia muslim. Ketika kaum perempuan memiliki uang yang mereka hasilkan sendiri, ungkapnya, mereka lebih mungkin memulai tugas yang sangat penting dalam mempertanyakan nasib mereka.
Bagiku, momen talk show ini meneriakkan kemandirian, martabat, dan, pada akhirnya, reformasi agama. Ketika para perempuan muslim mulai bertanya, mereka berubah dari sekadar sebagai lencana “kehormatan” keluarga menjadi manusia yang bermartabat. Adat kehormatan Arab menuntut pengorbanan individualitas Anda (kaum perempuan) guna mempertahankan reputasi, status, dan harapan suami, ayah, dan saudara laki-laki Anda. Tetapi, mempertanyakan hal semacam ini sebenarnya menunjukkan bahwa Anda bukanlah harta benda milik komunitas Anda. Anda adalah diri Anda sendiri, bertindak atas nama Anda sendiri, mengekspresikan pemikiran Anda sendiri, dan mengomunikasikan pemikiran itu dengan suara Anda sendiri. Anda memiliki martabat. Dan, bagusnya, hal inilah yang diinginkan oleh Nabi Muhammad bagi semua kaum muslim—selayaknya kita mentransendensikan kesukuan dan impuls-impuls neurotiknya yang berpandangan sempit; impuls-impuls yang menjadikan Arab abad ke-7 sebuah lahan yang penuh ketidakadilan, kebencian, dan kekerasan. Dengan memerdekakan talenta-talenta wirausahawan muslimah, kita di abad ke-21 ini dapat membantu mengubah kehormatan menjadi martabat, dan dengan begitu mereformasi bagaimana Islam dipraktikkan.
Mendukung para wirausahawan muslimah akan merupakan tujuan nomor satu Operasi Ijtihad, sebuah kampanye untuk memulihkan kemanusiaan Islam.
Aku tidak sedang menominasikan diriku sebagai pemimpin kampanye yang belum lahir ini. Sebetulnya, aku tidak berpikir keharusan adanya seorang pemimpin. Melepaskan belenggu yang terdapat dalam dunia Islam merupakan usaha ambisius yang menuntut adanya kekuatan gabungan. Orang Barat termasuk di dalamnya, jika kita ingin memberikan tamparan kepada tribalisme. Pertaruhan ini menuntut adanya sebuah visi lintas budaya. Peristiwa 11 September merupakan peringatan yang jelas tentang apa yang bisa terjadi jika kita bersembunyi dari masalah-masalah “orang lain”. Sebuah pelajaran bahwa kewarganegaraan dunia yang baik memberikan keuntungan sangat besar bagi keamanan domestik. Terlepas apakah orang Barat mau menerima kenyataan ini atau tidak, orang Barat harus menerimanya.
Dan mereka harus menerimanya sekarang, karena kaum muslim Arab sedang mengalami booming anak. Sekitar 60% penduduk di negara-negara Arab berumur di bawah dua puluh tahun, dibandingkan dengan hanya 29% persen di Amerika. Banyak kaum muda muslim Arab memiliki pendidikan Universitas, tetapi kebanyakan tidak memiliki harapan bekerja. Anda pasti tahu bahwa hal seperti itu bukan berita yang menggembirakan. Orang yang menganggur sering tertarik kepada organisasi-organisasi radikal yang menjanjikan makanan gratis, aktivitas penuh tujuan, dan katup pelepasan amarah. Asumsikan satu generasi lagi dan jumlah kaum muslim Arab diproyeksikan meningkat sampai 40%—dari hampir 300 juta sekarang ini menjadi 430 juta pada tahun 2020. Siapa pun yang menjauhkan anak-anak ini dari partisipasi ekonomi dan sipil akan menimbulkan kekacauan yang dapat menggemparkan planet ini. Booming anak Arab adalah masalah bagi Barat, sekaligus bagi Timur Tengah.
Separuh kaum muda Arab yang disurvei oleh PBB pada tahun 2001 mengatakan bahwa mereka ingin pindah, dan sebagian besar sangat mendambakan pergi ke Barat. Keinginan itu cukup besar, sehingga di tahun 2000 Australia melakukan kampanye pencegahan perpindahan di Timur Tengah dan Asia Tengah, dengan tujuan memperingatkan para imigran ilegal tentang buaya, ular, dan serangga yang mungkin mereka temui setelah tiba di Australia. Tetapi di sisi lain, Barat tidak dapat maju tanpa kaum imigran. Penduduk Uni Eropa, Amerika, Jepang, Kanada, dan Australia menua dengan cepat, sementara angka kelahirannya kecil. Wilayah-wilayah ini membutuhkan para pekerja baru untuk mempertahankan tingkat konsumsi, penerimaan pajak, dan layanan-layanan sosial—terutama bagi kaum tua. Singkatnya, Barat membutuhkan kaum muslim.
Yang tidak dibutuhkan oleh Barat adalah orang-orang semacam Mohamed Atta. Mahasiswa Hamburg dan salah seorang pembajak dalam peristiwa 11 September ini menelan mentah-mentah Al-Quran seperti dia menelan mentah-mentah pelajaran computer programming. Meski dibesarkan di lingkungan yang agak sekuler, mendapat gelar sarjana teknik di Mesir, dan kuliah pascasarjana di Jerman, Atta tampaknya tidak mampu (atau tidak tertarik) untuk mempertanyakan para ahli tafsir Islam yang otoriter.
Akan tetapi, Barat membutuhkan orang-orang Islam yang mampu mengajukan pertanyaan-pertanyaan sulit, dan terjadinya Operasi Ijtihad di luar negeri menjadi penting demi tujuan ini. Mengapa menunggu sampai jutaan lagi kaum muslim muncul di pos-pos pemeriksaan Australia, Jerman, dan Amerika Utara? Alangkah bagusnya jika kaum muslim yang menuju tempat-tempat itu tiba dengan memiliki pemahaman bahwa Islam dapat dipraktikkan dengan cara-cara yang mendukung pluralisme, bukan malah mencekiknya. Lalu bagaimana kita menabur benih-benih reformasi di dunia Islam—tanpa harus menjadi penjajah budaya?
Operasi Ijtihad dimulai dengan memberdayakan lebih banyak perempuan muslim untuk menjadi wirausahawan. Sejak tahun 1980-an, Muhammad Yunus menegaskan bahwa dunia Islam sebetulnya dapat menghasilkan wirausahawan perempuan dengan memberi mereka akses dana minimal untuk memulai usaha. Sebagai ekonom Bangladesh, Yunus mendirikan Bank Grameen. “Grameen” adalah bahasa Bengali untuk “desa”, dan bank ini meminjamkan uang dalam jumlah kecil kepada orang yang dianggap tak tersentuh oleh para pemberi pinjaman standar—terutama mereka yang tidak memiliki tanah, yang kebanyakan perempuan. Menurut No-Nonsense Guide to International Development, “dari tiga puluh satu juta orang, tiga per empatnya perempuan dan dua per tiganya tergolong ‘yang paling miskin dari orang miskin’, telah menerima pinjaman mikro di lebih dari empat puluh negara” sejak Bank Grameen dibuka.
Bank Grameen telah membiayai usaha-usaha mulai dari kosmetika dan lilin sampai roti, payung, kelambu, bahkan telepon genggam. Dan tingkat pengembalian pinjamannya? Sembilan puluh delapan persen kembali, terutama berkat tekanan rekan sedesa untuk menjaga reputasi masyarakat agar tetap bersih dari cap sebagai pengemplang utang. Itulah cara yang lebih sehat untuk menyalurkan dorongan-dorongan kesukuan dibandingkan dengan cara-cara yang biasanya ditempuh oleh kebanyakan perempuan muslim saat ini. Bandingkan dengan tingkat pengembalian pinjaman tersebut dengan sepuluh persen pengembalian yang digembar-gemborkan oleh Bangladesh Industrial Development Bank, yang hanya melayani orang-orang kaya. Tentu bukan tandingannya.
Maka, inilah peluncuran Operasi Ijtihad: Bayangkan jika Amerika Serikat, Uni Eropa, Kanada, Australia, Jepang, dan sekutu-sekutu kaya lainnya meluncurkan Operasi Ijtihad dengan cara mengalokasikan ulang anggaran keamanan nasional mereka menjadi pinjaman usaha mikro bagi para perempuan kreatif di seluruh dunia muslim.
Cara ini tidak sama dengan imperialisme. Pinjaman-pinjaman tersebut tidak akan diselundupkan kepada siapa pun. Pinjaman itu disediakan bagi para perempuan yang melihat adanya kebutuhan tak terpenuhi di komunitas mereka dan percaya bahwa mereka dapat memenuhi kebutuhan tersebut melalui kecerdikan mereka. Sebagai contoh, simaklah orang desa yang menginspirasi Yunus mendirikan Bank Grameen. Seorang perempuan penganyam bangku bambu bercerita kepada Yunus bahwa agar dapat membeli bahan mentah, dia harus meminjam uang dari pedagang yang membeli produk jadinya. Karena bergantung pada pinjaman pedagang tersebut, si pedagang bisa menentukan harga bangku-bangku bambu itu seenaknya, yang menyebabkan dia membawa pulang uang hanya dua sen setiap hari.
Apakah bisa dikatakan imperialistik dengan memberikan sumber daya kepada perempuan untuk mengakhiri perbudakan mereka? Ingatlah juga bahwa tradisi-tradisi Islam penuh dengan misi-misi bisnis. Sebagaimana dinyatakan dalam sebuah ungkapan kuno, “Semoga hajimu diterima, dosa-dosamu diampuni, dan barang daganganmu laris selalu.” Perdagangan dan agama terjalin sangat erat sehingga ada satu teori dalam Al-Quran yang menyatakan tentang kapan pemberi pinjaman dapat menagih—yakni, hanya setelah orang-orang yang diberi investasi menghasilkan keuntungan, bukan sebelumnya.
Untunglah, pinjaman mikro menorehkan sejarah kesuksesan, dan Amerika, setidaknya, mengetahui hal ini. Setiap tahun selama beberapa tahun masa kepresidenan Bill Clinton, AS memberikan dua juta pinjaman semacam itu kepada negara-negara yang hidup dengan susah payah. Seperti ditulis Clinton dalam New Perspective Quarterly tahun 2002 , “Bahwa dua juta harus meningkat menjadi lima puluh juta” di seluruh dunia. Dia mendukung nilai-nilai pinjaman mikro karena dia telah menyaksikan efeknya di antara para pemilik salon di pedesaan Arkansas sebagaimana juga di antara para peternak Afrika. Pada pertengahan tahun 1980-an, Clinton merekrut Yunus untuk menciptakan Good Faith Fund, yang mirip Bank Grameen, di Pine Bluffs, Arkansas. Beberapa tahun kemudian, dan berdasarkan ratusan sukses lainnya, terbit sebuah buku berjudul Beri Kami Kredit; Bagaimana Revolusi Pinjaman Mikro Muhammad Yunus Memberdayakan Para Perempuan mulai dari Bangladesh hingga Chicago.
Tetapi, apakah negara-negara muslim menginginkan hal semacam itu, ataukah Clinton berharap terlalu banyak? Kelihatannya dia sudah berbicara dengan calon peraih Nobel, Hernando de Soto, seseorang yang telah menarik perhatian Indonesia, Pakistan, Aljazair, dan Mesir. Pemerintahan negara-negara tergelitik oleh keahlian khusus de Soto—menghidupkan kembali “modal yang mati” dalam ekonomi yang kembang-kempis. Dua contoh modal yang mati adalah bisnis-bisnis pasar gelap yang beroperasi di luar pembukuan dan pajak, dan lahan-lahan yang diklaim para penghuni liar yang tidak memiliki izin resmi. Pada kasus-kasus tersebut, kita sedang membicarakan aset-aset orang miskin yang tidak dapat mendaftarkan secara legal karena hal itu menyita terlalu banyak kertas kerja pemerintah, waktu, dan biaya.
Longgarkan keruwetan birokrasi, kata de Soto, dan kapital masyarakat kelas bawah yang melakukan wiraswasta akan meledak, berubah menjadi sesuatu yang sangat konstruktif. Para penghuni liar dapat memperoleh jaminan mengamankan harta kekayaan dan membangun hidup yang lebih pasti. Hanya bisnis-bisnis dengan uang tunai yang dapat berkembang menjadi perusahaan-perusahaan legal dan memberikan nilai tambah. Dengan begitu, pemerintah dapat memperoleh pemasukan pajak. Setiap orang merasa menang, terutama perempuan dan anak-anak. Merekalah yang biasanya tinggal di rumah untuk menjaga lahan yang tidak berizin. Lagi pula, laki-laki tetap harus bekerja. Namun, ketika harta kekayaan didokumentasikan, para perempuan dapat meninggalkan tempat hunian mereka dan berjualan di pasar, misalnya, dan anak-anak dapat pergi ke sekolah.
Setelah Peru mengimplementasikan ide-ide de Soto, angka kehadiran di sekolah meningkat sebanyak dua puluh enam persen. Tak heran jika beberapa pemerintahan di negara-negara muslim mengundang de Soto untuk memberikan satu dua masukan, dan ribuan laki-laki muncul mendengarkannya berbicara di Dubai. Tetapi, pesannya bergema jauh di luar lingkaran kekuasaan.
Pada musim panas tahun 2002, PBB menerbitkan Arab Human Development Report yang pertama. Diriset dan ditulis oleh orang Arab sendiri, laporan tersebut menegur pemerintahan-pemerintahan di Timur Tengah karena mengabaikan energi dari setengah penduduk mereka: kaum perempuan. Dalam faktanya, “pemberdayaan perempuan” merupakan satu dari tiga defisit (kekurangan) yang diangkat laporan tersebut, lainnya adalah “ilmu pengetahuan” dan “kebebasan”. Menutupi defisit yang pertama dapat meningkatkan ilmu pengetahuan dan kebebasan. Membantu perempuan memiliki kemandirian finansial secara massal akan menunjang usaha-usaha mereka—yang sering kali dilakukan secara sembunyi-sembunyi—untuk menjadi terpelajar. Mereka tidak harus mempercayai sabda laki-laki jika mereka dapat mengambil kesimpulan sendiri tentang apa yang terdapat dalam Al-Quran.
Bagaimana aku bisa tahu bahwa perempuan memiliki minat menginterpretasikan Al-Quran untuk diri mereka sendiri? Perempuan-perempuan tua Afghanistan, beberapa di antaranya pengungsi, sekarang mengikuti sekolah-sekolah yang diadakan para perempuan muda, dan mereka mengadakan sekolah-sekolah tersebut secara rahasia di masa Taliban. “Aku ingin tahu apakah yang dikatakan para mullah itu memang benar ada di dalam Al-Quran,” kata seorang perempuan tua kepada seorang pengunjung Amerika tentang alasannya belajar membaca.
Bayangkanlah jika sebagai seorang wirausahawan, perempuan ini memiliki aset-aset yang bisa dipelihara. Maka, dia akan memiliki lebih banyak lagi alasan untuk belajar membaca. Bagian yang jarang disampaikan oleh para imam kepada kelas menengah ke bawah adalah, Al-Quran mengizinkan perempuan untuk menegosiasikan kontrak perkawinan yang memenuhi persyaratan-persyaratan pribadi mereka. “Jika seorang perempuan mengkhawatirkan perlakuan buruk…dari pihak suaminya,” kata sebuah ayat di Surah An-Nisa, “bukanlah suatu pelanggaran bagi mereka untuk mencari persetujuan kedua belah pihak, karena persetujuan adalah yang terbaik. Manusia cenderung kepada ketamakan.”
Sekarang ini, persyaratan pribadi seorang perempuan untuk menikah mungkin akan mencakup: “Suamiku tidak boleh mengancam diriku atau penghasilanku. Jika dia melakukannya, aku akan menganggapnya sebagai ‘perlakuan buruk’ dan aku memiliki hak untuk menceraikannya.” Sungguh sebuah dorongan yang hebat untuk mengubah pinjaman usaha mikro menjadi sebuah sukses yang besar. Laki-laki yang berusaha ‘menjambret’-nya akan mendapatkan sebuah bantahan berdasarkan Al-Quran dan sebuah perjanjian pra-nikah yang tidak dapat diabaikan dengan mudah oleh hakim Syariah.
Laki-laki akan memperoleh keuntungan langsung dari Operasi Ijtihad, karena kewiraswastaan yang tersebar akan mendorong penanaman modal asing. Masuknya modal asing ke usaha-usaha lokal tentu saja akan mengurangi ketergantungan pada militer, pasukan keamanan, dan birokrasi pemerintah—tiga ghetto karier yang menjadi tempat berkumpulnya begitu banyak laki-laki muslim sekarang ini. Richard Haas, mantan direktur kebijakan Departemen Dalam Negeri AS, mengakui bagaimana martabat dan kebanggaan laki-laki sebanding dengan martabat dan kebanggaan perempuan. “Masyarakat-masyarakat patriarkis di mana perempuan memainkan peran patuh kepada laki-laki adalah juga masyarakat-masyarakat di mana laki-laki memainkan peran patuh kepada laki-laki.” Gloria Steinem tidak akan dapat menyatakannya dengan lebih baik lagi. Memberi modal kepada pedagang perempuan mungkin merupakan kesempatan paling baik bagi semua orang untuk menggagalkan monopoli-monopoli institusional yang memperkaya para pemuka agama dan tuan-tuan mereka yang berduit.
Sebagai suatu pendekatan untuk meliberalisasi Islam, Operasi Ijtihad terlihat menjanjikan. Tetapi, janji itu bisa tersendat dan akhirnya terganjal selama kode-kode “hak asasi manusia” Islam mengabadikan laki-laki sebagai penyedia kebutuhan keluarga dan melarang perempuan memperoleh penghasilan. Namun demikian, aku harus percaya bahwa kesejahteraan, atau prospek adanya kesejahteraan, bisa menggoyahkan konsensus bahwa laki-lakilah yang harus mencari nafkah. Izinkan aku memberikan ilustrasi bagaimana kebutuhan untuk mencari penghasilan bisa memotivasi pemikiran baru.
Aku akan memulai dengan satu catatan yang muram. Pada tahun 1997, kaum Islamis membunuh 58 turis di Luxor, Mesir Atas. Pembantaian ini terjadi setelah beberapa pembunuhan skala kecil selama bertahun-tahun—yang mengincar beberapa turis Inggris di sini, beberapa turis Jerman di sana, dan satu dua turis Taiwan. Luxor menimbulkan kegemparan karena sektor turisme Mesir mengalami kerugian sampai dengan dua miliar dollar akibat pembunuhan itu. Peristiwa itu menciptakan opini publik Mesir untuk melawan kelompok teroris dan mendukung Hukum Darurat Sipil yang telah berumur enam belas tahun, yang diperkenalkan untuk menjaga agar kaum militan agama diawasi dengan ketat. Adalah hal yang amat memalukan sebab Hukum Darurat tersebut telah berkarat dan menjadi alat pentungan belaka bagi para pemburu kekuasaan politik. Tetapi, bukan itu perhatian utamaku di sini. Perhatian utamaku adalah: Pada saat terorisme mengancam ekonomi, rakyat Mesir pun balik mengancam kelompok teroris.
Ketika kesempatan mendapatkan kualitas hidup yang lebih baik bagi semua orang ditawarkan melalui kewiraswastaan perempuan, prioritas masyarakat dapat berubah—dari tribalisme menuju perdagangan, dari kehormatan suami sebagai satu-satunya penyedia kebutuhan keluarga menuju martabat timbal-balik antara laki-laki dan perempuan. Mungkin aku kelewat optimistis, tetapi usaha pariwisata dapat menjelaskan kenapa kita melihat titik-titik harapan akan adanya hubungan timbal-balik antara bangsa Israel dan bangsa Mesir di Jazirah Sinai. Orang Israel berlibur di Sinai. Orang Mesir sangat menghargai bisnis turisme ini. Di sana, kaum muslim dan kaum Yahudi memiliki hubungan yang relatif lancar, yang membuktikan bahwa sampai tingkatan tertentu, perdagangan dapat membentuk kontrak-kontrak sosial yang lebih cair.
Namun, aku tidak bisa menganggap remeh keahlian manipulatif dari orang-orang yang memuja Islam padang pasir. Cara-cara yang disusun oleh para fundamentalis untuk membuat gundah hati tergambar secara garis besar di situs Women Living Under Muslim Laws, sebuah jaringan aktivis hak asasi manusia. Kaum fundamentalis, tulis situs itu, “menggunakan teknologi komunikasi secara sangat efektif… Kaset-kaset murah, yang berisi khotbah-khotbah yang mencakup semburan amarah terhadap perempuan, nilai-nilai kesetaraan, dan otonomi yang dianggap berasal dari Barat. Khotbah-khotbah tersebut—yang menghasut orang untuk melakukan kekerasan dan, pada kasus-kasus yang ekstrem, bahkan juga mendorong orang Islam untuk membunuh umat non-muslim—membanjiri jalan-jalan dan pasar-pasar di banyak komunitas muslim. Khotbah-khotbah tersebut disiarkan di bus-bus umum, melalui pengeras suara di masjid-masjid dan radio.
Begitu juga di TV yang sangat mudah diakses, seperti TV Al-Manar di Libanon, yang berafiliasi dengan Hizbullah dan diberi izin oleh pemerintah Libanon sejak tahun 1997. Misi Al-Manar—“meningkatkan peran beradab komunitas Arab dan Islam”—sebetulnya mendukung penyerangan terhadap kaum Yahudi sebagai pilihan taktiknya. Situs web stasiun TV tersebut menayangkan sebuah program bernama Inqilab al-Soura, yang secara garis besar berarti “pembalikan Citra”. Program tersebut berkenaan dengan upaya untuk sadar terhadap media, atau begitulah tampaknya, hingga Anda memperhatikan deskripsi acara tersebut: “ Inqilab al-Soura memonitor semua media dan pers audio visual berbahasa Yahudi milik Zionis; sehingga dengan demikian mengeskpos status dan fakta tersembunyi perlengkapan tempur militer Zionis.” Sisi baiknya, program tersebut diproduksi dan dibawakan oleh seorang “mantan tahanan di penjara-penjara Israel”. Hei, setidaknya ada kehidupan setelah penyiksaan kaum Zionis. Terakhir kali aku lihat, situs tersebut berjanji akan menayangkan program belanja. Tapi yang jelas, perdagangan tidak mungkin menjadi satu-satunya cara memerangi kaum fundamentalis.
Media harus menjadi salah satu ujung tombak lain dari Operasi Ijtihad. Tetapi, alih-alih mengisahkan “cerita Amerika” yang lebih baik, yang terbukti merupakan campuran antara kesia-siaan dan ketidakrelevanan, bagaimana jika orang-orang Barat mendanai saluran media yang menyiarkan kepada para penonton muslim cerita tentang wirausahawan perempuan Barat sendiri? David Hoffman adalah presiden Internews Network, salah satu organisasi nirlaba yang membantu media independen di seluruh dunia. Dia menghargai dukungan Amerika terhadap media-media lokal di negara-negara bekas Uni Soviet. “Secara umum, lebih dari 1.600 stasiun penyiaran dan 30.000 jurnalis dan profesional media telah memetik keuntungan dari program-program pelatihan dan pendampingan teknis yang disponsori oleh AS,” demikian pengamatan Hoffman yang dimuat dalam edisi Maret 2002 majalah Foreign Affairs. “Lebih dari selusin jaringan televisi nasional muncul dari usaha-usaha ini, dan menarik lebih dari 200 juta pemirsa. Hasilnya, penduduk di tiap kota di negara-negara bekas Uni Soviet saat ini memiliki beragam pilihan saluran TV.
Bagaimana jika koalisi Barat yang terdiri atas kaum muslim dan non-muslim membantu mendanai kaum perempuan di dunia Islam untuk memiliki dan mengelola stasiun-stasiun TV lokal? Bagaimana jika Oprah Winfrey yang memimpin koalisi ini? Oprah sangat paham apa artinya menjadi orang luar, tidak membiarkan viktimologi melumpuhkan dirinya dan, di atas semua itu, dia sangat memperhatikan pendidikan perempuan dan anak-anak. Kehadiran Oprah yang mencolok akan menimbulkan sentimen yang sangat kuat terhadap kaum laki-laki yang ingin menjalankan segala urusan di negara-negara Islam. Sebagaimana yang dikatakan oleh seorang lelaki cerdas kepada Oprah selama acara yang membahas perempuan muslim, “Suka atau tidak, Anda adalah seorang pemicu.” Oprah tidak membantahnya. Kenyataannya, piringan-piringan satelit parabola berkembang di dunia Islam. Apa yang telah dilakukan oleh media cetak bagi reformasi kaum Protestan—yang memoderasi ilmu pengetahuan yang rigid—dapat pula dilakukan oleh stasiun-stasiun TV indie bagi Islam.
Kita dapat memulai secara sederhana dari siaran radio percobaan. Dalam satu hal, radio akan melindungi identitas pada masa-masa awal kritis dari Operasi Ijtihad. Tidak setiap orang berharap dikenali (atau ditembak) di jalanan seperti yang terjadi pada orang yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad menyatakan kaum perempuan sebagai pasangan setara kaum laki-laki, bukannya di bawah laki-laki. Beberapa muslim tidak ingin dikenali ketika mengisahkan Khadijah, istri pertama Nabi yang sangat dicintainya—seorang pedagang kaya yang usianya lima belas tahun lebih tua yang melamar Nabi. Diceritakan, bahkan setelah berserah diri kepada Tuhan, sebagian besar berkat nasihat Khadijah, Muhammad terus meminta nasihat kepada Khadijah. Cerita ini bisa saja sekadar omong kosong, lebih sebagai legenda atau terkaan ketimbang sebagai sejarah. Tetapi aku yakin, aku bukanlah satu-satunya muslim yang haus untuk mendengar para pemikir bebas memperdebatkan secara terbuka kebenaran dan ilmu mereka di gelombang udara.
Dr. Ayesha Imam, seorang aktivis hak asasi manusia di Nigeria berkata bahwa penting sekali mempopulerkan diskusi-diskusi semacam itu “agar mereka yang sangat tidak nyaman dengan undang-undang Syariah yang konservatif memiliki dasar untuk mengkritisinya secara sah, bukannya merasa tidak cukup tahu untuk bisa berbicara.” Dengan kata lain, mengeksplorasi keragu-raguan dapat merangsang kepercayaan diri, termasuk kepercayaan diri para wirausahawan perempuan. Mengekspresikan keraguan mengafirmasi kemungkinan bahwa Anda dapat menghadapi suku Anda. Jika setiap inisiatif “reformasi” tak mau memperkenalkan keragu-raguan, hal itu akan menandai Islam sebagai agama bukan hanya diperuntukkan bagi mereka yang berhati-keras tetapi juga mereka yang berhati-lemah—yaitu orang-orang yang tidak punya keberanian maupun saluran untuk mengemukakan pertanyaan-pertanyaan.
Kenapa kita berpaling kepada Islam? Itulah pertanyaan yang diajukan Taslima Nasrin, yang meyakini bahwa reformasi hanya akan muncul jika agama mundur dari panggung dunia. Sejauh yang dia ketahui, kaum muslim perlu mengganti hukum-hukum agama dengan hukum-hukum sipil, memisahkan sama sekali masjid dan negara. Tetapi, haruskah negara-negara Islam meniru hukum-hukum Yudeo-Kristen agar dapat menjadi lebih manusiawi? Aku tak bisa menjawabnya. Mereka yang berkata ya memiliki dua tantangan: Kenyataannya, Islam telah membentuk sebuah pilar identitas-diri bagi jutaan perempuan. Saat ini, menyingkirkan agama dari ruang publik mungkin merupakan tindakan yang bukan hanya tidak realistis, tetapi mungkin juga tidak produktif.
Riffat Hassan, seorang profesor di University of Louisville, punya pengalaman langsung mengenai hal ini. Dia menjelaskan, “Jika Anda bertanya kepada seorang perempuan Afghan, ‘Apakah kau percaya pada hak asasi manusia universal?’ Dia akan menatap Anda dengan tatapan kosong. Jika Anda bertanya kepadanya ‘Apakah kau percaya pada Tuhan?’ dia akan berkata, ‘Ya’. Jika Anda bertanya kepadanya, ‘Apakah kau percaya pada Tuhan Yang Mahaadil, Pengasih dan Penyayang?’ dia akan berkata ‘Ya’. Jika Anda bertanya kepadanya, ‘Apakah kau percaya bahwa Tuhan semacam itu menghendaki agar kau dipukuli dan diperlakukan secara kejam?’ dia akan segera paham dan berkata, ‘Tidak’.” Jadi, mari kita bersikap lebih praktis. Apakah kita ingin perempuan muslim berdiri mempertahankan setidaknya sejumlah hak asasi mereka atau, melalui hukum-hukum non-agama, apakah kita ingin mereka merasa terasingkan? Dimusuhi? Dikhianati?
Para perempuan terdidik juga tidak harus mengikuti sekularisme dogmatis Nasr. Aku baru saja bertemu dengan seorang perempuan muslim muda di sebuah konferensi konstitusional di Ottawa. Sebagai pengacara di departemen kehakiman, dia berimigrasi ke Barat dalam rangka mempraktikkan keyakinannya secara lebih bermakna. Baginya, hal itu berarti memilih untuk mengenakan jilbab—sebuah pilihan yang direstui di Amerika Utara tetapi tidak di Tunisia, kampung halamannya, yang telah melarang jilbab di ruang publik sebagai upaya melakukan modernisasi.
Pertemuanku dengan pengacara ini mendorongku berpikir tentang perlunya keseimbangan dalam usaha mendemokratisasikan dunia Islam. Hal ini nyaris menjadi hal yang berlawanan dengan pikiran sekuler, karena itu lanjutkanlah membaca baik-baik. Mengajukan pendapat dengan otak dan bukan sekadar dengan otot, sang pengacara ini membuktikan bahwa bahkan di kalangan kaum muslim muda yang terpelajar, kebebasan mengekspresikan keyakinan secara terbuka tetap menjadi harapan utama bagi demokrasi. Menekan Islam demi “kemajuan” adalah tindakan yang mirip tirani. Ketika kelompok tirani di Tunisia dan Turki memaksakan adanya dinding-dinding pemisah antara kehidupan spiritual dan duniawi, mereka membuat demokrasi sekuler sekadar sebuah nama demokrasi. Maka, kaum fundamentalis dapat memprotes karena mereka menyatakan bahwa agenda politik yang sebenarnya ternyata bukanlah keterbukaan, tetapi Westernisasi.
Dan, di situlah letak masalahnya: Kaum fundamentalis dengan sangat ahli mengeksploitasi perasaan frustrasi orang-orang yang kehidupannya telah diguncang oleh rezim-rezim yang melakukan sekularisasi. Menyelenggarakan pemilu dalam iklim seperti itu sering kali justru lebih memunculkan representasi kekuatan-kekuatan Islam padang pasir. Kalau begitu, selamat tinggal demokrasi.
Sebelum demokrasi dapat berpijak di negara-negara muslim Arab, negara-negara ini perlu diperkenalkan dengan pergulatan ide. Seperti yang telah aku kemukakan, interpretasi Islam alternatif dapat mempertahankan diri sendiri melawan Islam padang pasir, bahkan pada semua tingkatan simbolik yang penting. Itu terjadi jika kita dapat membuat interpretasi-interpretasi alternatif yang disebarkan, diperdebatkan, diudarakan, diudarakan kembali—dipopulerkan.
Aku menghargai alasan mengapa Taslima Nasrin bersikukuh bahwa sekularisasi adalah satu-satunya harapan. Dia tidak berpikir bahwa Anda dapat mengafirmasi ulang nilai Islam. Aku mendengarkan apa yang dikatakan Taslima Nasrin. Itu sebabnya aku berkonsultasi dengan antropolog, sosiolog, psikolog, teolog, dan—peduli setan—orang-orang ateis tentang bagaimana manusia dapat menundukkan kecenderungan mengejar kejayaan ketimbang (mencapai) kehidupan yang saling berdampingan.
Pada awal tahun 2002, aku mencoba sebuah eksperimen. Dalam sebuah memo ejekan kepada Yasser Arafat, yang dipublikasikan oleh sebuah surat kabar nasional, aku melayangkan sebuah pendekatan berbagi wilayah yang akan membiarkan orang Islam Palestina mempertahankan martabat, identitas, dan integrasi mereka. Aku menerjemahkan bahwa hijrah, perpindahan Nabi Muhammad dari Makkah ke Madinah, menjadi “mencari perlindungan dengan menetap di tempat yang bukan milik kita sendiri”. Suku-suku Yahudi telah lama hidup di Madinah, namun kebanyakan dari mereka bersedia berbagi lingkungan dengan Nabi dan para pengikutnya. Yasser, pintaku, lakukanlah lompatan sejarah. Bukankah seimbang jika kita mencoba membagi wilayah Palestina dengan kaum Yahudi, yang seperti kaum muslim di masa-masa awal, berimigrasi untuk mencari perlindungan dari prasangka-prasangka yang membahayakan nyawa mereka? Aku rasa, aku telah melakukan permulaan sebuah terobosan.
Hari berikutnya, muncul sebuah tanggapan di surat kabar tersebut dari seorang muslim Toronto yang cukup berpengaruh. Dia menulis, “Hijrah artinya mencari perlindungan dengan menetap di suatu tempat yang bukan milik kita sendiri, atas undangan para penduduk setempat, yaitu tanpa paksaan. Nona Manji menghilangkan penjelasan terakhir tersebut untuk mendukung argumennya.” Dia menunjukkan bahwa beberapa suku Madinah telah mengundang Nabi untuk menyelesaikan perselisihan mereka, membuat Madinah menjadi tempat yang menyenangkan bagi Nabi untuk lari dari tekanan Makkah. Poinnya yang lebih subtil adalah bahwa bangsa Arab tidak mengundang bangsa Yahudi untuk tinggal di antara mereka di Palestina. Sehingga, analogi hijrah tidak bisa diberlakukan di sini.
Hari berikutnya, seorang Yahudi merespons pendapat muslim Toronto tersebut. “Untuk kaum Muslim yang memproklamasikan bahwa mereka sudah ada di wilayah tersebut sebelum kaum Yahudi, aku harus mengingatkan mereka bahwa Ibrahim dan Sarah telah tinggal di Hebron ketika Sarah meninggal jauh sebelum Nabi Muhammad ada.” Dalam satu cara atau cara lainnya, kita semua sama-sama benar, bukan?
Tetapi jika Anda benar, haruskah aku salah?
Aku mengajukan persoalan itu kepada David Hartman, salah seorang rabbi Israel yang paling berpengaruh. Dia menjawab dengan pertanyaan lagi. “Apakah diri saya yang bersemangat ini, apakah hidup saya ini, merupakan ancaman bagi diri dan hidup Anda?” Sebelum aku dapat meresponsnya, Rabbi Hartman menjawab sendiri. “Maksud saya, saya senang mendengar kaum muslim bersembahyang. Sembahyang mereka membangunkan saya pada pukul empat pagi. Tetapi, demi pluralisme, saya akan membunuh tidur saya. Pada hari Minggu, bel-bel gereja berdentang-dentang. Saya berkata, ‘Baiklah, dentangkan saja bel-bel itu, nak.’”
Dan pada saat itulah aku sadar—agama adalah sebuah alasan kenapa Israel gigih bertahan menjadi sebuah demokrasi multi-keyakinan di tengah-tengah para penghasutnya sendiri dan di tengah-tengah kekacauan dinasti Arab. Yudaisme, tidak seperti Islam dan Kristen, tidak berusaha menarik pengikut baru. Yudaisme tidak berusaha mengklaim universalisme. Sesuai dengan hukum-hukumnya, Yudaisme tidak dapat menyebarkan agamanya. “Itu karena kaum Yahudi adalah ‘kaum yang terpilih’,” kaum Muslim dengan tangkas akan berkata seperti itu. “Kaum yang terpilih tidak perlu membuktikan diri mereka. Neraka atau air bah boleh datang, toh, keselamatan mereka sudah tersedia.” Aku menganggap hal ini sebagai sebuah keprihatinan yang tragis.
Kaum Yahudi percaya bahwa mereka terpilih, tetapi bukan hanya untuk mendapatkan kismis di surga. Mereka juga terpilih untuk menanggung beban dunia, dan untuk mewakili semua umat manusia. Apakah kaum Yahudi membuktikan diri mereka mampu menangani beban tersebut secara bertanggung jawab, hal itu akan menentukan apakah mereka berhak memperoleh keselamatan di hari akhir. Jauh dari (ide bahwa keselamatan) “sudah tersedia”, keselamatan bergantung pada apakah mereka bertanggung jawab atau tidak. Tetapi, apa artinya itu? Aku hanya dapat mengungkapkan konsensus kaum Yahudi arus-utama: Bertanggung jawab bermakna melawan arogansi kesukuan.
Sebagai manusia, kaum Yahudi terkadang mengubah arogansi mereka menjadi karya seni tinggi—atau setidaknya karya seni yang norak. Aku teringat pada orang-orang gila di Tepi Barat yang menyinari perumahan mereka di puncak bukit dengan Bintang-Bintang David dari lampu neon yang sangat mencolok. Aku sedih melihat penolakan terus-menerus pemerintahan Sharon untuk menangkap para penjahat yang membangun permukiman secara ilegal. Aku tidak sedang berpura-pura membela mereka yang menyalakan api dengan ranting-ranting dari pohon zaitun yang telah dirawat oleh para petani Arab selama puluhan tahun, atau membela mereka yang mengasingkan diri di dalam yeshiva di mana mereka dilarang mempelajari ilmu-ilmu mulai dari astronomi hingga filsafat. Meskipun demikian, ingatlah bahwa orang-orang ini hanyalah kelas ringan saja di dalam Yudaisme kontemporer. Mereka memang menimbulkan kemarahan dan jumlahnya terus bertambah, tetapi mereka jelas bukan Yahudi arus-utama.
Orang-orang Yahudi yang menjadi bagian dari arus-utama, bahkan terkemuka, terkadang berbuat lebih dari seruan tanggung jawab—tanpa pengakuan dari kita kaum muslim. Pada pengerahan masa pro-Israel di bulan April 2002, Paul Wolfowitz, wakil Menteri Pertahanan AS, menyampaikan metafora ranting zaitun itu kepada bangsa Palestina. Dalam sebuah pengamatan yang tajam, Wolfowitz mengakui bahwa “bangsa Palestina yang tidak berdosa juga menderita dan mati dalam jumlah besar”. Kumpulan orang-orang itu mencemooh. Tetapi apa yang dilakukan oleh Edgar M. Bronfman, presiden Kongres Yahudi Sedunia? Dia menulis surat kepada New York Times dengan kerendahan hati yang penuh pengakuan. “Mereka yang mencemooh harus malu kepada diri sendiri dan harus disadarkan terhadap adanya surat di dalam Haggadah (Kisah tentang Paskah Yahudi)… Tuhan menghukum para malaikat karena mereka menyoraki orang-orang Mesir yang tenggelam ketika sedang mengejar bangsa Israel yang telah menyeberangi Laut Merah. Tuhan berkata kepada mereka, Mereka adalah umatku juga. Rakyat Palestina sedang sekarat di dalam perang di Timur Tengah ini. Simpatiku tentunya untuk Israel dan rakyatnya, tetapi kita semua harus sadar bahwa orang-orang Palestina adalah rakyat juga.”
Haggadah yang mengakui “orang lain” tersebut memungkinkan kepala Rabbi Ortodoks Inggris, Jonathan Sacks, menulis tentang “mulianya perbedaan”. Apakah aku mengatakan telah menulis tentang itu? Sebetulnya, lebih mirip menulis sebuah buku tentang itu. Di dalam tulisan Sacks, “Tuhan menciptakan perbedaan. Karena itu, pada diri orang yang berbedalah kita menemukan Tuhan.” Bagi Rabbi Sacks, “tantangan agama yang tertinggi adalah menyaksikan citra Tuhan pada diri orang yang tidak sesuai dengan yang kita bayangkan.” Kuakui bahwa Sacks telah mendapat kecaman pedas dari para rabbi ultraortodoks, terutama karena pendapatnya bahwa Yudaisme bukanlah pemilik kata akhir atas kebenaran. Di bawah tekanan, Sacks merevisi beberapa pernyataannya. Namun, tidak semuanya. Bukan pendapatnya tentang sucinya perbedaan. Faktanya, selama bertahun-tahun, Rabbi Sacks telah mempromosikan tanggung jawab kaum Yahudi terhadap “yang lain” sambil tetap menduduki posisinya sebagai kepala Yahudi Ortodoks di Inggris.
Kenapa aku sangat meributkan kemanusiaan yang dimungkinkan oleh (ajaran) Yahudi? Karena, meski aku berharap bahwa Operasi Ijtihad akan memacu percakapan antara tiga kelompok Ahli Kitab, “trialog” ini hanya akan bermakna jika mereka diarahkan oleh keterbukaan Talmud. Maksudku bukan Talmud itu sendiri, tetapi sikap, yang dengan elegan disuarakan oleh Rabbi Hartman bahwa Tuhan Ibrahim sama dengan “Tuhan Yang Penuh Kejutan dan Kebaruan”. Tuhan yang keinginannya tidak dapat Anda duga.
Apakah yang demikian itu pemikiran yang kelewat gila bagi kebanyakan kaum muslim Arab? Mantan Perdana Menteri Malaysia memberi kesan demikian. Pada sebuah pertemuan internasional umat Islam di Kuala Lumpur tahun 2002, Mahathir Mohamad dengan kurang hati-hati mengeluarkan kata-kata bahwa kepemimpinan Islam tidak dapat lagi berasal dari bangsa Arab karena, dengan segala pertimbangan, mereka tidak tahu bagaimana cara berbicara dengan kelompok non-muslim. Menurutnya, hanya kaum muslim Asia yang bisa melakukannya.
Ironisnya, Mahathir sendiri mengingkari kerentanannya terhadap pengaruh Arab, dengan menyatakan bahwa kelompok Yahudi bertanggung jawab atas krisis mata uang Malaysia dan ia sendiri hanya berdiri menonton atas maraknya hukum Syariah di negaranya. Berita bagusnya, Malaysia tidak sama dengan Mahathir. Bukan pula dengan negara tetangganya, Indonesia, negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, di mana jutaan orang telah mengutuk pengeboman terhadap sebuah klab malam di Bali yang mengatasnamakan Islam. Kenyataannya, orang-orang Asia Tenggara harus selalu mempraktikkan Islam di satu tempat pertemuan yang multietnis (Cina, India, Melayu) dan multiagama (Buddha, Kristen, Hindu, Islam).
Demikian pula orang-orang Asia Tengah. Di Kazakhstan, sebuah negara mayoritas muslim yang menggeliat dari bekas Uni Soviet dan diperintah oleh rezim otoritarian, hampir seratus kelompok etnik bercampur satu sama lain. Di sana, sekularisme bertahan hidup dan Sufisme yang toleran berkembang pesat. Di sana, kaum Yahudi baru-baru ini berkumpul dalam sebuah konferensi yang diadakan oleh pemerintah—sebuah konferensi yang diakhiri dengan sebuah pernyataan damai bersama antara kaum Yahudi dan kaum muslim. Di sana, surat kabar resmi berbahasa Inggris mengucapkan selamat kepada para pasangan di hari Valentine. Kita tidak lagi berada di bukit pasir Arab. Jika hati Islam lebih kuat daripada sistem nilai Arab padang pasir, maka kaum muslim Asia memiliki kesempatan untuk mendemonstrasikannya dengan cara meneruskan percakapan mereka dengan “Tuhan Yang Penuh Kejutan dan Kebaruan”.
Aku menerima keberatan kedua terhadap percakapan antar-iman. Siapa pun yang berpartisipasi dalam percakapan tersebut, pertukaran-pertukaran yang terjadi bisa penuh dengan tipu daya. Cermatilah kasus Muhammad Sayyid Tantawi, syekh masjid Al-Azhar. Anda tidak akan mendapatkan yang lebih prestisius daripada Al-Azhar. Fareed Zakaria menggambarkan Al-Azhar sebagai “pusat paling penting Islam arus-utama di dunia Arab”. Selain sebagai pejabat keagamaan paling puncak dari Islam arus-utama, Syekh Tantawi adalah pelindung Three Faiths Forum (Forum Tiga Iman) yang bermarkas di Inggris, sebuah organisasi yang ditujukan untuk membantu kelompok Kristen, Yahudi, dan muslim guna mencapai saling pengertian. Kedengarannya bagus, tetapi mari kita hancurkan retorika dan gali lebih dalam apa yang ada di bawahnya.
Pada bulan April tahun 2002, dalam khotbah yang diterjemahkan oleh Institut Riset Media Timur Tengah, Syekh Tantawi mencirikan kaum Yahudi sebagai “musuh-musuh Allah, anak-anak babi dan monyet”. Pada sebuah konferensi tahun 1999 tentang strategi nuklir di Mesir, syekh tersebut mendesak kaum muslim “untuk mendapatkan senjata nuklir sebagai jawaban atas ancaman Israel” dan menjanjikan bahwa “jika Israel memiliki senjata nuklir, Israellah yang harus dikalahkan terlebih dahulu, karena Israel tinggal di sebuah dunia di mana tidak ada rasa takut terhadap kematian.”
Pernyataan-pernyataan ini tidak boleh dianggap sebagai gonggongan anjing ompong dari seorang laki-laki yang terpancing menjadi gila oleh kekacauan birokrat Palestina. Bahkan, saat proses perdamaian berlangsung, dia membuat komentar-komentar serupa. Pada bulan Januari 1998, syekh tersebut memberikan wawancara kepada TV Al-Jazeera. Akhir-akhir ini dia bertemu dengan rabbi kepala Israel, sebuah pertemuan di Kairo yang menyebabkan kehebohan di pers Mesir. “Apakah ada keuntungan dari pertemuan-pertemuan semacam ini?” tanya presenter Al-Jazeera.
“Tentu saja,” jawab Syekh Tantawi bangga. “Secara pribadi, aku telah menyerangnya dan membuktikan kepadanya bahwa Islam adalah agama kebenaran.... Aku rasa, siapa pun yang menolak bertemu dengan musuhnya untuk menampar mukanya adalah pengecut, selama pertemuan tersebut demi kepentingan Islam.”
Begitukah cara syekh kita yang sembrono memandang posisinya sebagai pelindung Three Faiths Forum? Sebagai kesempatan untuk memukul lebih banyak orang Yahudi? Ataukah posisi tersebut diperuntukkan bagi kepentingan bangsa Arab saja? Aku tidak yakin. Setelah menjawab pertanyaan awalku, Three Faiths Forum memutuskan komunikasi ketika aku bertanya mengapa Tantawi yang berlidah jahat dapat menjadi pelindungnya? Apa pun, Tuhannya Tantawi bukanlah Tuhan Kebaruan, tetapi Tuhan yang bermuka dua. Aku, misalnya, tidak cukup “Kristen” untuk memberikan pipiku yang satunya lagi. Para pembaharu Islam harus berperang melawan orang munafik agar dapat sungguh-sungguh memperoleh sebuah hasil. Tuntutan tersebut membutuhkan lebih dari sekadar dialog antar-keyakinan.
Aku dapat membayangkan sebuah dunia aksi langsung antar-iman. Yang pertama dalam daftar aksi, kita membutuhkan sebuah debat objektif tentang Arab Saudi, sebuah kawasan yang penuh kemunafikan. Debat tersebut harus dilaksanakan di kampus-kampus universitas, di mana para mahasiswa dan profesor sudah berbaris dan siap mengkritisi Israel—tetapi biarkan orang-orang Saudi melarikan diri dengan pembicaraan munafik yang terdengar manis. The World Assembly of Muslim Youth (WAMY), sebuah badan yang didanai Saudi, mendistribusikan pamflet di berbagai kampus di Amerika Utara. Salah satunya berjudul “Hak Asasi Manusia dalam Islam”, yang berisikan semua hal yang boleh dilakukan oleh sebuah negara Islam, yang menyiratkan bahwa hanya karena Anda dapat memiliki “hak untuk protes melawan tirani”, maka Anda sungguh-sungguh memiliki hak ini. Brosur tersebut menyatakan pujian terhadap empat belas kebebasan, seperti “perlindungan dari pemenjaraan yang semena-mena”. Tetapi jika Anda ditarget sebagai seorang muslim Syiah, maka Anda belumlah dipenjarakan secara semena-mena, bukan? Seperti yang telah aku tunjukkan, Arab Saudi mengganggu kaum muslim Syiah tanpa rasa penyesalan.
Mari kita eksplorasi kebebasan lain yang dirayakan oleh brosur tersebut: “Kesetaraan di depan hukum”. Tetapi, jika hukumnya sendiri membolehkan diskriminasi atas dasar keyakinan atau biologi, maka hal itulah yang mendefinisikan “kesetaraan”. Dan begitulah yang terjadi di Arab Saudi, di mana hukum mencegah seorang perempuan mengelola bisnis apa pun yang dimilikinya, di mana perempuan adalah minor—yang artinya, meskipun Riyadh memberikan hak pilih bagi semua orang dewasa Saudi, namun hak itu secara eksklusif hanya diperuntukkan bagi laki-laki. Akhirnya, bacalah apa yang dikatakan WAMY sendiri tentang perempuan: “Tidak diizinkan menindas perempuan.... Kehormatan dan kesucian perempuan dihormati dalam segala keadaan.” Tunggu sebentar. Obsesi terhadap kehormatan di dalam dan terhadap dirinya sendiri adalah penindasan. Apa yang sesungguhnya kita baca adalah penyalahgunaan martabat yang dibenarkan oleh diri sendiri. Tipuan-tipuan ini menyusup ke dalam “kebebasan nurani dan keyakinan” maupun “perlindungan terhadap sentimen-sentimen agama”—dua lagi kebebasan yang dipamerkan oleh WAMY dan dinistakan oleh Islam padang pasir. Bagi para mahasiswa dan profesor yang menyebut diri mereka sebagai pemikir kritis karena mereka dapat bergandengan tangan dengan para Zionis, aku punya sebuah tantangan untuk Anda: Silakan ambil kata-kata orang Saudi, yang tidak lebih hanyalah para tuan logika yang tertutup terhadap penafsiran.
Bagi jiwa-jiwa yang lebih tangguh di antara mahasiswa Kristen, Yahudi, dan muslim, aksi langsung antar-keyakinan bisa berarti mengorganisasi sebuah “haji Ibrahim” ke Makkah. Ibrahim bukan hanya satu-satunya bapak dari agama-agama ini: secara tepat, dia adalah nabi yang (bersama anaknya Ismail, diyakini) merenovasi Kakbah—kubus hitam yang menjadi pusat sebagian besar kegiatan haji. Di sinilah Nabi Muhammad dilaporkan telah menghancurkan berhala orang-orang Makkah, walaupun dia menyelamatkan sebuah salib dari reruntuhan. Hanya kaum muslim yang boleh berdoa di Kakbah, kata Anda? Lalu, apa itu muslim? Aku mendengarkan secara diam-diam sebuah percakapan antar-iman secara online baru-baru ini dan menemukan pintu pembuka terhadap pertanyaan tersebut. Seorang chatter bernama Aasim mengatakan kepada chatter lain yang memperkenalkan diri sebagai Mattcabe, “Meskipun kau, sebagai seorang Yahudi, bukanlah seorang muslim dalam arti mempraktikkan Islam sebagai jalan hidup yang resmi, aku akan menganggapmu muslim dalam arti kau menyerahkan dirimu kepada Tuhan dan memiliki keinginan untuk mengikuti perintah-Nya. Jadi, mungkin saja ide bahwa aku lebih dekat ke Yudaisme dan kau lebih dekat ke Islam karena keimanan kita pada satu Tuhan yang diwahyukan kepada Ibrahim, bukanlah ucapan yang terlalu jauh!”
Diskusi-diskusi seperti di atas, yang akan diinsipirasi oleh haji Ibrahim, dapat membawa spirit universal ke Makkah—sebuah globalisme yang memberikan penghormatan kepada Yerusalem, Roma, dan Jenewa (rahim spiritual Protestanisme). Jika Makkah terlalu istimewa untuk dikunjungi oleh orang-orang non-muslim, aku hanya memiliki satu pertanyaan: Mengapa?
Betapapun orang Saudi bereaksi terhadap haji Ibrahim, mereka pada akhirnya perlu jujur. Menyetujui ide tersebut sementara menahan visa-visa untuk selamanya—tipu muslihat favorit yang membuat kerajaan itu menutup dirinya sendiri—tidak akan berhasil. Mereka akan diteriaki atas penipuan mereka, terus-menerus. Para mahasiswa akan berteriak-teriak, setelah mencocokkan detektor-detektor kebohongan mereka melalui debat-debat kampus tentang Arab Saudi.
Aku akan membahas lebih jauh lagi: Dalam merencanakan haji Ibrahim, mahasiswa Amerika Utara harus berhubungan dengan mahasiswa Iran. Kaum muda Iran dalam proporsi yang mencengangkan adalah para pembelot intelektual. Jauh dari lautan pesan “Ganyang Amerika”, panji-panji mereka sering kali justru mendeklarasikan, “Bubarkan Monopoli” (yang mereka maksudkan adalah monopoli ulama dalam soal moralitas). Kaum muda Iran mendengarkan radio Israel sebagai penyeimbang dan tingkat akses internet yang tinggi membuat mereka lebih terhubung dengan dunia luar dibandingkan dengan kaum muslim lain. Juga, sebagai Syiah, mereka tidak merasa perlu melegitimasi kebesaran Sunni Arab Saudi. Hal itu tidak untuk mengatakan bahwa para ayatollah Iran tidak berlalu-lalang dengan teror gaya Saudi. Banyak yang melakukan itu, dan Hizbullah berterima kasih kepada para ayatollah itu. Aku yakin. Tetapi, terhadap para ayatollah, para mahasiswa Iran menyusun sebuah pemberontakan yang sebagian besar tanpa kekerasan.
Kenyataannya, seorang teman berumur dua puluh sembilan tahun dari Iranlah yang mengirimiku e-mail ala Martin Luther King Jr. berjudul “surat dari Penjara Birmingham”. Aku belum pernah membacanya sebelum itu. Temanku itu memberi pengantar dengan sentimen ini: Saat sahabat-sahabatmu yang berwawasan luas di Amerika Utara ragu untuk mengeskpos Arab Saudi karena takut menyinggung umat Islam, ingatkan kepada mereka tentang kaum liberal Birmingham yang menginginkan Sang Raja berhenti memprovokasi ketegangan yang tidak diperlukan di kota mereka. Sang Raja berkata kepada mereka, “Aku harus mengakui bahwa aku tidak takut dengan kata ‘ketegangan’. Aku telah sekuat tenaga melawan ketegangan yang penuh kekerasan, tetapi ada satu jenis ketegangan non-kekerasan yang bersifat konstruktif, yang diperlukan untuk pertumbuhan. Sebagaimana Sokrates merasakan perlunya menciptakan ketegangan pikiran supaya individu dapat bebas dari jeratan mitos dan takhayul menuju wilayah analisis kreatif dan penghargaan objektif yang tanpa kekangan, kita harus melihat kebutuhan akan adanya pengganggu yang tak menggunakan kekerasan untuk menciptakan jenis ketegangan di dalam masyarakat, yang akan menolong orang bangkit dari kegelapan prasangka dan rasisme menuju puncak keagungan pemahaman dan persaudaraan.” Aku berdoa agar Operasi Ijtihad akan memiliki efek serupa itu.
Maka, perhatikan beberapa bom Operasi Ijtihad—pertanyaan-pertanyaan mendasar dan berani yang akan diajukan secara terbuka:
1. Dalam debat tentang pemberdayaan perempuan: Mungkinkah Tuhan yang diposisikan sebagai amunisi untuk melawan separuh dari penyembah-Nya (kaum perempuan) sungguh-sungguh dicintai? Apakah cinta memiliki arti?
2. Dalam diskusi tentang media: Apakah tersedianya buku-buku dapat membantu mengekang tuhan-tuhan semu materialisme dan TV? Mengapa, dalam kurun seribu tahun, seluruh dunia Arab hanya menerjemahkan buku dalam jumlah yang sama seperti yang diterjemahkan Spanyol setiap tahunnya? Apakah ini disebabkan karena lebih banyak orang mengetahui gagasan asing, maka akan lebih mungkin mereka mengkritisi gagasan mereka sendiri? Di sisi lain, kenapa Mesir tidak membanjiri pasar-pasar Barat dengan terjemahan-terjemahan Inggris Against Fanaticism karya Gaber Asfour atau A Drive to Israel karya Ali Salem, yang masing-masing menunjukkan potensi toleransi di antara kaum muslim? Apakah setiap penerbit Barat menolak buku-buku tersebut?
3. Dalam percakapan-percakapan dengan Arab Saudi tentang haji Ibrahim: Mengapa orang Saudi melarang aktivitas kaum Kristen di tanah mereka namun di sisi lain mendanai Center for Muslim-Christian Understanding (Pusat bagi Pemahaman Muslim-Kristen) di Washington, D.C.? Siapa sebenarnya yang membutuhkan “pemahaman” ini? Pelajaran apa dari lembaga tersebut, yang telah diterapkan oleh orang Saudi di dalam negeri?
Aku tidak sedang mengatakan bahwa bom-bom itu akan membongkar otokrasi dalam satu kali gebrakan. Apa yang sedang kutanam akarnya dalam-dalam adalah hasil kumulatif jangka panjang. Ketika layanan-layanan publik pemerintah yang tidak layak dan kurang dana dikritisi oleh para perempuan pembayar pajak yang mengharapkan akuntabilitas atas uang mereka, dan ketika diskriminasi yang dilakukan secara sengaja terhadap kaum perempuan, minoritas agama, dan kelompok-kelompok “yang lain” dibuka ke tengah publik oleh keberanian yang tengah berkembang untuk mengajukan pertanyaan keras-keras, maka kaum muslim akan lebih siap melangkah ke arah transisi menuju demokrasi.
Aku berdoa untuk hasil akhir: Seiring waktu, Operasi Ijtihad akan merangsang komunitas internasional untuk menengarai dan menghentikan asal mula genosida—asal mula yang mungkin diasosiasikan dengan agama. Sampai kita dengan teliti menyelidiki, kita tidak akan tahu sejauh mana doktrin Wahhabi telah menebarkan bibit-bibit kekerasan etnik atau sektarian di Sudan yang dikuasai Arab, tempat Osama bin Laden berkeliaran di sana sebelum pindah ke Afghanistan. Kita sungguh cukup tahu untuk melakukan penyelidikan. Dua juta orang terbunuh di Sudan, ungkap Charles Jacobs dari Kelompok Anti-Perbudakan Amerika. “Puluhan ribu terusir, dan 100.000...didera kelaparan.” Kenapa parodi-parodi ini terus berlangsung? Kenapa kita membiarkannya?
Hingga saat ini, belum ada lembaga internasional yang dibersihkan dari disfungsinya dan diselidiki dengan kejernihan keadilan, sehingga kejahatan akibat kebencian yang massif dapat dicegah. PBB tak hendak mencegah genosida di Rwanda. Sebagaimana PBB lebih beroperasi dengan protokol ketimbang dengan prinsip, di mana rezim tentara diperlakukan secara moral setara dengan demokrasi, akankah PBB mempermalukan Arab Saudi dengan menyelidiki Wahhabismenya? Sangat sulit. Sedangkan mengenai Pengadilan Kejahatan Internasional yang baru saja dibentuk, badan itu didesain untuk bertindak reaktif ketimbang proaktif. Bagaimanapun, sejak musim semi 2003, pengadilan tersebut telah menghadapi dua ratus keluhan kejahatan kemanusiaan.
Saat ini, hal terbaik untuk mencegah pembunuhan yang dimotivasi oleh agama adalah menggunakan sistem peradilan di negara-negara kita sendiri. Ketika aku menulis ini, pengadilan kejahatan Inggris telah berhasil menuntut seorang ulama didikan Saudi yang berbasis di London karena menyerukan pembunuhan terhadap orang Yahudi, orang Hindu, dan orang Amerika. Itulah penghukuman yang pertama kalinya di Inggris, dan seharusnya tidak menjadi yang terakhir.
Aku bisa mengerti bahwa mengeluh kepada pengadilan terkadang seperti merengek-rengek. Di Prancis, seperti yang kusebut dalam suratku sebelumnya, empat kelompok muslim mencoba menuntut seorang penulis, Michel Houellebecq, karena mengatakan kepada sebuah majalah sastra bahwa Islam adalah agama “paling bodoh”. “Ketika Anda membaca Al-Quran, Anda merasa tak punya harapan. Alkitab, setidaknya terdengar indah karena kaum Yahudi memiliki bakat sastra yang indah.” Orang bisa saja mengemukakan opininya tentang segala sesuatu, tetapi hakim akhirnya menolak kasus tersebut. Jurnalis Italia, Oriana Fallaci mengalami perseteruan yang serupa dalam masalah kebebasan berekspresi setelah meluncurkan esai pedas, Kemarahan dan Kebanggaan. Di dalamnya, dia menaburkan pasir ke muka para imigran muslim (“Mereka beranak pinak terlalu banyak”) dan tuan rumah Eropa mereka (“Orang-orang Italia tidak memproduksi bayi lagi, idiot”). Kasus pengadilannya tidak jelas arahnya.
Dengan mengajukan tuntutan kriminal terhadap orang Saudi, apakah aku sekadar mengejek mereka yang ingin membungkam Houellebecq, Fallaci, Nasrin, dan Rushdie? Demi Tuhan, tidak. Menantang orang-orang Saudi bukanlah berkaitan dengan mematikan Islam konservatif, tetapi memberikan jalan bagi bibit-bibit lain yang bisa berkembang di padang pasir. Dan menantang mereka dapat membantu mencegah satu lagi pembasmian massal ronde berikutnya sembari melindungi keamanan banyak negara. Bagaimana Al-Quran boleh ditafsirkan—dan bagaimana Al-Quran tidak boleh ditafsirkan—menjadi urusan setiap orang.
Akan ada akibat-sampingan strategis dari Operasi Ijtihad, baik bagi Amerika maupun bangsa-bangsa penting di Eropa. Dengan melaksanakannya secara bersama-sama, mereka mendapatkan banyak hal guna menjembatani jarak di antara mereka. “Ya, untuk ekonomi pasar, bukan untuk masyarakat pasar!” teriak Lionel Jospin, mantan perdana menteri Prancis. Operasi Ijtihad dengan sendirinya akan memberikan keseimbangan antara pasar dan masyarakat. Dengan memuliakan perempuan muslim sebagai wirausahawan mikro, Operasi Ijtihad akan menyokong etika kecil-itu-indah (yang berasal) dari orang-orang yang melawan budaya korporasi. Operasi Ijtihad akan berfokus pada orang-orang lokal, bukan pada raksasa industri. Sehingga dengan demikian, membedakan antara kebutuhan dan keserakahan. Hal itu akan memberi kaum muslim suatu kehidupan di masa depan, bukan kematian masa lalu.
Tidakkah tujuan-tujuan tersebut akan menyenangkan kelompok kiri yang sangat keras di Uni Eropa? Kenyataan bahwa banyak dari mereka membenci kapitalisme semestinya bersifat imaterial. Mengapa para aristokrat ideologi sepatutnya mencuri kesempatan dari kaum muslim? Tidakkah egoisme semacam itu sama dengan neo-kolonialisme, meninggikan keinginan satu kelompok elite di atas kesejahteraan jutaan manusia lain? Setidaknya Bank Dunia yang tidak menarik itu tampak akan setuju dengan cita-cita Operasi Ijtihad. Saat menjadi ekonom utamanya, Nicholas Stern berkata, “Meningkatkan kesetaraan gender merupakan hal pokok dalam ide pembangunan sebagai pembebasan.” Ketika perempuan terlibat, “banyak fakta menunjukkan bahwa pendidikan, kesehatan, produktivitas, kredit, dan pemerintahan berjalan lebih baik.” Pendek kata, lebih sedikit korupsi.
Perempuan di dunia Islam, pemerintahan Barat, kaum muslim yang berpikir bebas, kaum Yahudi dan Kristen yang memiliki niat baik, mahasiswa, aktivis sosial, Bank Dunia, Oprah: Operasi Ijtihad bisa memiliki banyak wajah. Meskipun demikian, agar tak kunjung padam, Operasi ini membutuhkan sumber-sumber daya dari Amerika. Masukilah politik minyak.
Banyak dari kita bersumpah ke mana-mana bahwa demokrasi di dunia Arab yang didikte secara halus oleh Washington hanyalah untuk menjaga pasokan minyak Amerika. Bahkan jika saja itu benar, minyak tidak harus menghalangi dukungan Amerika terhadap Operasi Ijtihad. Termasuk ketika Amerika mengambil lebih banyak energi dari luar Timur Tengah daripada dari sana, dan ketika sumber-sumber bahan bakar alternatif banyak tersedia. Tentu saja, ada lebih banyak hal lagi dalam realpolitik minyak. Di situlah dilema “Politik-Riyadh”.
Maksudku, Washington berada dalam dua situasi problematis. Di satu sisi, menekan secara dramatis pemasukan minyak Saudi akan menghancurkan kekuasaan Raja sebagai pemberi upah dan bingkisan yang lain kepada para ulama. Jika pakta itu roboh dalam semalam, para mullah radikal yang berkoar-koar melawan Barat akan mendapatkan kemenangan yang membahayakan—dan bisa dipakai alasan untuk menjadi lebih radikal. Di sisi lain, Washington harus membantu mengaliri padang pasir dengan ide-ide dan aktivitas ekonomi, bahkan jika saja hal itu dilakukan sebagai tambahan. Kegagalan bertindak hanya akan mengancam orang Amerika di masa depan, bersama-sama dengan orang lain yang tidak bersuara, ketika cadangan-cadangan minyak Arab Saudi mengering. Dan mengeringlah mereka saat ini: Sejak tahun 1980-an, pendapatan per kapita kerajaan Saudi turun tajam dari 23 ribu dollar menjadi 7 ribu dollar.
Banyak kaum muda Saudi tidak mau menyentuh pekerjaan manual, tetapi keterampilan intelektual mereka tidak dapat mengikuti perkembangan zaman karena sekolah-sekolah mereka terus saja berkutat dengan studi-studi agama. Tergantung pada bahan bakar fosil, rakyat Arab Saudi tidak dapat lagi membiarkan diri memfosil. Amerika juga tidak bisa membiarkan hal ini. Begitu diluncurkan, Operasi Ijtihad dapat mendiversifikasi ekonomi Saudi sehingga setiap orang memperoleh martabat, rasa aman, dan kemandirian. Termasuk kaum perempuan, di mana kewiraswastaannya yang dibutuhkan akan mengguncang Islam padang pasir hingga ke jantungnya.
Arab Saudi tidak harus menjadi titik awal Operasi Ijtihad. Dengan bergerak sedikit demi sedikit, Irak pasca-perang bisa menjadi titik awal. Secara historis, Irak telah mencapai salah satu tingkat melek huruf tertinggi di Timur Tengah. Menurut sejarah juga, wilayah ini telah menerima partisipasi perempuan di dalam masyarakat. Tetapi, membuat draf sebuah konstitusi dan menyelenggarakan pemilu tidak akan cukup memacu kebangkitan kembali kebanggaan budaya dan ekonomi. Memicu kemakmuran merupakan hal penting untuk mempertahankan demokrasi yang baru, karena hanya kelas bisnis yang dapat dipajaki oleh Negaralah yang pada gilirannya akan memaksa negara untuk mengembangkan lembaga-lembaga yang merespons rakyat.
Ingatlah sesuatu yang lain lagi: Wabah Nazi menyebar, pertama-tama, melalui pemilu bebas. Adolf Hitler mengeksploitasi rasa terhina bangsa Jerman, yang diperparah oleh kehancuran ekonomi pasca-perang. Kita tidak bisa membiarkan Irak mencapai titik seburuk itu. Irak dengan mudah dapat sampai pada titik itu. Tak masalah bahwa Partai Baath mengambil Partai Nazi sebagai model mereka. Aku lebih terhantui oleh sebuah foto yang diletakkan di halaman depan DAWN, surat kabar Pakistan, selama masa awal Operasi Kemerdekaan Irak. Foto itu menggambarkan sekelompok perempuan Palestina, yang sedang menyeringai, mencabik-cabik seekor kelinci putih sampai hancur sebagai bagian dari pelatihan mereka dalam membela Irak dan Islam: Darah betul-betul membasahi tangan mereka. Apa yang dapat dicapai oleh perempuan sudah pasti akan jauh lebih konstruktif jika Operasi Ijtihad memiliki kesempatan hidup.
Sementara itu, satu kelompok lagi yang akan memperlihatkan kemungkinan untuk melakukan reformasi terhadap Islam adalah Kaum muslim di Barat. Kita memiliki kesempatan menggunakan kebebasan sipil, terutama kebebasan berekspresi, untuk mengubah kecenderungan-kecenderungan tribal. Apakah kita orang Islam menggunakan kebebasan itu? Apakah cukup banyak kaum non-muslim yang menantang kita untuk melakukan itu?
- Kata Pengantar oleh Profesor Khaleel Mohammed
- Sekapur Sirih
- Catatan Pengarang
- Surat Terbuka
- Bab 1 - Kenapa Aku Menjadi Muslim Refusenik?
- Bab 2 - Tujuh Puluh Perawan?
- Bab 3 - Kapan Umat Islam Berhenti Berpikir?
- Bab 4 - Gerbang dan Korset
- Bab 5 - Siapa Mengkhianati Siapa?
- Bab 6 - Wilayah-wilayah Rawan dalam Islam
- Bab 7 - Operasi Ijtihad
- Bab 8 - Kaum Muslim Perlu Bersikap Jujur
- Bab 9 - Terima Kasih kepada Peradaban Barat
- Kata Penutup
- Bacaan-bacaan yang Dianjurkan
- Ucapan Terima Kasih
- Tentang Pengarang
Documentary

Irshad's PBS Documentary: Faith Without Fear follows my journey around the world to reconcile Islam and freedom.
Learn More and View Clips...
Buy Now in the USA
Buy Now in Canada
Get Involved

Irshad is pioneering efforts throughout the world to promote Muslim reform and moral courage. To join her mission, first get informed about all that she's doing.
Click here for concrete actions you can take to support Irshad's work.
Get Updates
Want to know more about what Irshad's doing? Sign up to her confidential mailing list.
Click here to see photos of Irshad's latest events and read her newsletters.
Around the Web
Join conversations about Muslim reform and moral courage around the web.
Click the links below to get involved:
RSS Feed - get the latest updates as soon as they go live




