BERIMAN TANPA RASA TAKUT
Bab 6 - Wilayah-wilayah Rawan dalam Islam
“Pada bulan Maret 2002, sikap patuh terhadap hukum Islam di Arab Saudi sampai-sampai dimaknai: Perempuan muda tidak boleh menyelamatkan diri dari kebakaran sekolah hingga mereka mengenakan abaya (pakaian yang membungkus seluruh tubuh, kecuali muka dan telapak tangan). Menurut laporan berita Arab Saudi sendiri, 15 murid perempuan tewas, lusinan mengalami luka-luka, ketika polisi agama memaksa mereka masuk ke dalam bangunan yang terbakar untuk mengambil dan memakai abaya mereka…”
(Irshad Manji)
BELUM LAMA INI, dalam pertemuan di sebuah universitas di Amerika Utara, aku membawakan topik tentang Tuhan dan kaum gay. Presentasiku mengambil sudut pandang berbagai agama ( ecumenical), dari Kristen, Yudaisme, dan Islam. Hadirin penganut ketiga agama tersebut, juga mereka yang tidak beragama, memenuhi aula. Namun, hanya satu kelompok yang datang secara terorganisasi. Muslim Student Association (MSA) mengirim satu batalion anggotanya untuk mengelilingi ruangan. Mereka semua berdiri, sehingga ke mana saja aku mengarahkan pandangan, ketika mengangkat kepala, mataku akan tertumbuk pada wajah-wajah Islam otentik yang tak terhibur.
Pada sesi tanya-jawab, aku melancarkan sebuah pertanyaan kepada para hadirin. Jika Islam adalah “jalan lurus”, mengapa ada praktik bypass (memutar-jalan)? Mengapa temanku dari Timur Tengah bisa menyebut Islam sebagai sebuah kekuatan progresif, dengan menyatakan bahwa ada kesempatan untuk merancang busana muslimahnya sendiri, sedangkan seorang teman lain dari Pakistan mengirimiku kartu pos bergambar para perempuan yang badannya terbungkus hampir tanpa lubang bahkan untuk melihat dan bernapas sekalipun? (“Salam dari Peshawar!” ungkap sebuah kartu pos dari era Taliban.) Dengan pertanyaan itu, aku bermaksud untuk memberikan kesan bahwa Islam tidaklah selalu eksplisit dalam segala hal sebagaimana yang cenderung terjadi dalam pemahaman dan pengajaran umat Islam sekarang ini.
Tujuanku tersebut lenyap tertelan oleh kegemparan berikutnya. “Kenapa praktiknya berbeda?” teriak seorang anggota MSA dari belakang ruangan. “Karena orang Pakistan bukan muslim sejati. Mereka orang yang pindah ke agama Islam. Islam diwahyukan kepada orang Arab.” Mendengar kata-kata tersebut, orang-orang Islam asal Asia Selatan memalingkan muka yang semula ke arahku ke arah mereka dengan raut muka geram dan terluka. Brigade anti-kaum homo dari MSA tercerai-berai tepat di depan mataku.
Keesokan harinya, seorang mahasiswi Pakistan mengirim e-mail kepadaku. Dia ingin meminta maaf karena telah memandang rendah diriku. Tidak apa-apa, kataku. Luka telah tertorehkan, dia menjawab. Terusik oleh kata-kata penghinaan dari kolega Arabnya bahwa dirinya hanyalah orang yang pindah ke agama Islam, dia tidak bisa tidur semalaman karena terngiang-ngiang ucapan itu. “Aku punya hak untuk menantang kaum gay,” katanya, “tetapi harus kukatakan bahwa aku merasa tak nyaman menantang kaum gay dengan cara yang membuatmu merasa ngeri. Di lubuk hatiku, aku tahu bahwa sebuah argumen patut mendapatkan argumen balasan. Aku sungguh tidak tahu bagaimana caranya menolak central command.”
Pada beberapa e-mail selanjutnya, dia mengklarifikasi bahwa yang dia maksud dengan central command adalah Arab. Dia juga bertanya-tanya, bagaimana menyelesaikan rasisme Arab dalam kelompoknya.
Aku juga bertanya-tanya tentang hal itu selama tahun-tahun bekerja di QueerTelevision. Banyak sekali pemirsa muslim menggugat keyakinan spiritualku semata-mata atas dasar etnis. Surat yang paling kusukai berasal dari seorang “Arab yang membanggakan diri” yang membaptisku sebagai “lesbian pembohong” karena, menurutnya, seorang “petani India” seperti diriku tak akan bisa memahami Islam. Ampun, Tuhan… Dia sungguh tidak mengerti bahwa sesungguhnya sejak kanak-kanak aku justru berkubang di dalam Arabisasi, sehingga jika aku dijuluki “Paki”, aku akan melawan dengan memberi tahu bahwa sesungguhnya aku seorang Arab. Kepada pemirsa QueerTelevision yang menjulukiku babi, aku cukup merespons mereka dengan mengatakan bahwa seorang muslim tidak diizinkan memakan babi. Jadi, apakah masuk akal kalau aku bisa berubah menjadi babi? Satu-satunya yang perlu dia “luruskan” adalah cara dia dalam menghina orang lain.
Saat itu aku tidak mengajukan argumen lebih jauh. Kini saatnya aku melakukannya. Hal itu berkenaan dengan klaim privilese sebagai pendiri Islam. Ketika orang Arab mengklaim privilese itu, mereka seolah berhak menetapkan seluruh agenda Islam. Mereka memperlihatkan bagaimana intimidasi telah menggantikan tradisi intelektual di dalam Islam. Ketika pikiran orang Arab telah menjadi kedaluwarsa, demikian pula Islam—seolah-olah semua kaum muslim harus berjalan (pincang) dalam antrean bersama-sama dengan para penganut awal Islam. “Kami tidak cukup cerdas” adalah penjelasan yang umum dinyatakan di seluruh dunia Islam untuk memberikan alasan mengapa kaum muslim tidak mungkin dapat merencanakan serangan 11 September. Adanya konspirasi Zionis adalah tudingan yang banyak menjadi obrolan sehari-hari di antara mereka tentang siapa pelaku peristiwa mengerikan tersebut.
Kita tidak perlu heran jika teori-teori ini banyak diungkapkan di Timur Tengah, tempat di mana Israel adalah musuh bebuyutan mereka. Tetapi, keyakinan bahwa kaum Yahudi mengatur dengan apik serangan 11 September telah menyebar secara lebih meyakinkan ke Pakistan, Asia Tengah, dan komunitas-komunitas Islam tradisional dan plural di Asia Tenggara yang berjumlah sangat besar, tempat di mana api dendam Arab sebenarnya tidak relevan hidup di sana. Kecuali, seperti yang telah kukatakan, jika kaum muslim saat ini bukanlah sebuah komunitas internasional yang terbatas pada komunitas suku bangsa Arab.
Dalam suku bangsa Arab, anggota-anggota suku kelas rendahan harus melakukan sumpah setia tanpa syarat kepada para syekh. Identitas seseorang, jika bukan rasa aman, bergantung pada kepatuhan terhadap pemimpinnya. Mungkin itulah sebabnya konflik Palestina-Israel—sebuah perang yang sebetulnya bersifat regional dilihat dari sudut pandang apa pun—telah menjadi batu ujian bagi persatuan seluruh dunia Islam. Sikap yang bijaksana untuk menilai kenyataan bukannya dianggap relevan, melainkan juga tidak dianjurkan. Memihak kepada posisi yang benar, demi menghormati ikatan suku, adalah yang paling penting.
Seorang wartawan veteran, Fareed Zakaria, membenarkan pandanganku tersebut dalam bukunya yang terbit pada tahun 2003, The Future of Freedom. “Umat Islam Indonesia, yang dua puluh tahun lalu tidak tahu letak Palestina, kini menjadi pendukung militan dalam isu apa pun menyangkut Palestina. Pengaruh Arab meluas bahkan sampai ke dunia arsitektur. Dalam hal bentuk bangunan, dunia Islam selalu mencampurkan pengaruh Arab dengan tradisi lokal—Hindu, Jawa, Rusia. Tetapi kini budaya-budaya lokal diabaikan di daerah-daerah seperti Indonesia dan Malaysia, karena dipandang tidak cukup islami (maksudnya, tidak cukup Arab).”
Mungkin akibat pola pikir gurun pasirlah yang membuat munculnya zhimmi, yaitu represi sistematis terhadap kaum Yahudi dan Kristen di negeri-negeri muslim. Mengapa, bahkan di puncak tertinggi toleransi, kaum muslim memperlakukan orang-orang tertentu sebagai makhluk inferior? Hal apakah yang telah mengarahkan terciptanya dokumen-dokumen yang diskriminatif seperti Pakta Umar? Pastilah lebih daripada sekadar Al-Quran yang membolehkan kasih sayang terhadap umat non-muslim. Lalu, apa yang menyebabkan bandul lebih condong kepada fanatisme kelompok? Biarkan aku memberikan penjelasan ini: Kesetaraan tidak dapat eksis di padang pasir selama taksonomi kesukuan tetap seperti sekarang.
Sehubungan dengan hal itu, “kita butuh banyak sekali kritik terhadap diri sendiri,” kata Dr. Eyad Sarraj padaku di ruang tamu rumahnya di Gaza yang penuh hiasan, pada bulan Juli 2003. Dia adalah pendiri Program Kesehatan Mental Komunitas Gaza. Dia juga orang Palestina yang keterusterangannya telah membuat Arafat menangkapnya. Dr. Sarraj lantas mengungkapkan ketakutan dan rasa-bersalah-ciptaan-sendiri yang menjadikan Israel sebagai penindas, lalu dia menyampaikan sesuatu tentang rakyatnya: “Aku tahu kami memiliki banyak kelainan psikologis. Masyarakat kami adalah masyarakat yang didominasi oleh kaum laki-laki, tidak ada peran untuk kaum perempuan, tidak ada kebebasan berekspresi, terlalu banyak atmosfer intimidasi…. Struktur masyarakat kami adalah struktur tribal, di mana ketidaksetujuan dipandang sebagai pengkhianatan. Kami belum mengembangkan sebuah negara yang berbasiskan rakyat, di semua negara Arab, di mana setiap orang setara di hadapan hukum. Sungguh, ini masalah serius.”
Aku percaya hal itu. Raja Shehadeh tidak dapat mengungkapkan pikirannya di Ramallah karena, seperti yang diakuinya sendiri, jejaring rumit hubungan sosial di dalam budaya Palestina membungkam individu. Orang-orang merasa diri mereka, kurang lebihnya, terpatri di dalam satu rangkaian hubungan yang hanya memiliki sedikit sekali ruang bagi suara yang tidak setuju. Anda mempertaruhkan hidup Anda ketika Anda tampil beda, karena nasib Anda bukanlah milik Anda sama sekali. Nasib Anda dimiliki oleh suku Anda. Kehormatan Anda bukan milik Anda sendiri. Melanggarnya berarti mencemari kehormatan keluarga Anda dan sering kali Anda sendiri.
Mungkin cengkeraman tribalisme gurun pasir inilah yang membuat para pengebom bunuh diri Palestina mengandalkan sedekah dari para raja lalim Arab. Paternalisme suku padang pasir berarti bahwa kesejahteraan menetes ke bawah atas dasar kebijaksanaan para syekh. Dan, mungkin disebabkan oleh karakter Islam padang pasirlah seorang perempuan muslim dapat diperkosa untuk mengobati pencemaran kehormatan sebuah klan, sekalipun kehormatan klan tersebut dilanggar bukan oleh perempuan itu, tetapi oleh orang lain. Karena seorang perempuan dimiliki oleh keluarganya, memperkosanya berarti mempermalukan keluarganya, dan itu berarti memposisikan seorang perempuan sebagai pion pelengkap di dalam perseteruan keluarga.
“Itu bukan Islam!” beberapa dari Anda mungkin akan memprotesku demikian. “Praktik-praktik di seluruh dunia Islam mencampuradukkan tradisi-tradisi agama dan non-agama!” Cukup adil, sehingga itulah sebabnya pertanyaannya menjadi: Dapatkah norma-norma padang pasir dicabut dari Islam? Jika tidak, kita tidak punya harapan dalam reformasi ini.
Sementara Anda memikirkan hal itu, kutantang Anda untuk menjawab pertanyaan ini: Mengapa Islam begitu sulit dilepaskan dari kebiasaan lokal—kebiasaan tribal—jika memang tidak ada satu hal pun yang amat tribal dalam agama itu pada awalnya? Setiap agama memiliki sikap-sikap piciknya sendiri-sendiri. Yang harus dilepaskan dari Islam adalah watak tribalisme padang pasirnya, yang menyelimuti seluruh strata sampai pada tingkatan yang menghancurkan.
Gaber Asfour adalah seorang penulis Mesir yang prihatin dengan bagaimana “Islam padang pasir” pelan-pelan merasuki tradisi negerinya melalui pertukaran yang sangat aktif. Islam padang pasir, kata Asfour, berlawanan dengan “hidup merdeka ( el-harra) yang pluralistis dan penuh tawar-menawar—bazar-bazar di jalan-jalan kota. Islam padang pasir bersifat fanatik.” Seperti suku Badui abad ke-7, yang mengantisipasi adanya sebuah pertempuran berdarah ( vendetta) yang menghadang mereka di setiap belokan jalan, para Islamis yang terinspirasi sikap padang pasir segera mencurigai, bahkan membenci, “orang lain”. Orang lain itu bisa berarti kaum Yahudi. Bisa berarti orang Barat. Bisa berarti kaum perempuan yang, menurut Asfour, dianggap dalam budaya padang pasir sebagai “sumber godaan dan setan”. Dia menyatakan bahwa uang minyak Arab telah membantu menyebarkan kebiasaan-kebiasaan padang pasir yang keras. Tidak diragukan lagi. Tetapi menurutku, kebiasaan-kebiasaan ini telah membentuk Islam jauh lebih lama daripada yang kita ungkapkan.
Taslima Nasrin, seorang penulis dan dokter feminis yang dikucilkan di Bangladesh, memberiku contoh konkret tentang apa yang telah dia alami jauh sebelum orang Saudi menjadi kaya. “Saat kecil,” katanya, “aku diberi tahu bahwa Allah mengetahui segala sesuatu. Segala sesuatu berarti segala sesuatu. Jadi, Allah seharusnya tahu bahasa Bengali, bukan?” Dia bertanya kepada ibunya, “Bagaimana mungkin aku harus shalat dalam bahasa Arab? Ketika aku ingin berbicara dengan Allah, kenapa aku harus menggunakan bahasa orang lain?” Ibunya tidak mengungkapkan alasan yang memuaskan, kecuali sebuah jawaban yang itu-itu saja.
Nasrin bercerita, “Ibu menghafal Al-Quran karena tertulis dalam hadis bahwa ketika Anda mati, dua malaikat akan datang dan memberi pertanyaan-pertanyaan kepada ruh Anda. Jawaban Anda harus diberikan dalam bahasa Arab. Jika tidak, kuburan Anda akan menjepit Anda dengan sangat keras. Kenapa para malaikat itu tidak mengetahui bahasa Bengali? Seolah-olah Tuhan menjajah pikiran kaum muslim, menginvasi mereka.” Karena setelah dewasa ia menentang penjajahan agama, Nasrin dipaksa pergi dari rumahnya di tahun 1994. Dia sekarang tinggal di Swedia, di sebuah lokasi yang tidak diketahui letak persisnya.
Pemujaan ibunya terhadap bahasa Arab, mengingatkanku pada pemujaan Mr. Khaki dan kaum muslim lainnya, yang tak terbilang jumlahnya. Aku tidak pernah bisa memahami hal ini—pemujaan, bukan hanya dalam bahasa. Apakah orang Kristen harus memahami bahasa Yunani, bahasa asli Perjanjian Baru? Ada masanya, agama Kristen hanya dapat dijalankan dalam bahasa orang Latin, yang melindungi kekuasaan para pendeta Vatikan. Kaum muslim tidak memiliki Vatikan. Memangnya kenapa? Aku, seperti halnya Taslima Nasrin, diberi tahu agar bersembahyang kepada Tuhan dengan bahasa Arab. Kenapa bahasa Arab tidak dapat digantikan? Tentu saja, kata pertama Allah kepada Nabi adalah “Bacalah!” dan yang Nabi baca adalah bahasa Arab. Namun demikian, seperti yang telah kukatakan sebelumnya, Muhammad itu buta huruf. Itu bukanlah rahasia di antara kaum muslim. Kemampuannya membaca atas perintah Tuhan mengindikasikan adanya sebuah mukjizat, bukan supremasi bahasa asli Muhammad.
Bagiku, tampak bahwa dalam Islam, para imperialis berbudaya Arab berkompetisi dengan Tuhan untuk mendapatkan jubah Yang Mahakuasa. Al-Quran menegaskan bahwa “kepunyaan Allah-lah timur dan barat. Ke mana pun kau memalingkan wajahmu, di sanalah wajah Allah.” Lalu, kenapa kaum muslim harus membungkuk ke Makkah lima kali sehari? Bukankah itu tanda kita terikat pada watak padang pasir?
Bolehlah Anda menganggap pikiranku dangkal, tetapi tribalisme padang pasir dapat terdeteksi bahkan dalam pakaian di mana kaum muslim sering diajarkan untuk memakainya. Jutaan kaum perempuan muslim di luar Arabia, termasuk di Barat, membungkus tubuh mereka. Mereka menerima ini sebagai tindakan kepatuhan spiritual. Hal ini sebenarnya lebih dekat ke arah penyerahan-diri secara budaya. Tahukah Anda dari mana para perempuan Iran mendapatkan desain cadar mereka di masa setelah revolusi—cadar yang tidak membiarkan Anda memperlihatkan sehelai rambut pun? Dari seorang mullah yang memimpin kaum Syiah di Libanon. Nah, itu adalah impor kelas berat. Sementara Al-Quran mensyaratkan istri-istri Nabi untuk berkerudung, Al-Quran tidak pernah menetapkan praktik tersebut bagi seluruh perempuan. Lalu, mengapa itu menjadi keharusan? Kerudung melindungi para perempuan dari pasir dan panas—yang tidak terlalu menjadi perhatian utama di luar Arabia, Sahara Afrika, dan gurun Australia. Ini berarti aku dapat mengenakan turtleneck dan topi bisbol untuk memenuhi syarat teologis untuk berpakaian secara sopan.
Menutupi wajah karena “hal itu adalah sesuatu yang harus kulakukan” tidaklah lebih dari sebuah cap kemenangan orang Arab padang pasir, yang gaya berpakaiannya telah menjadi simbol paling terpercaya untuk membungkus seorang perempuan muslim. Katakan padaku: Haruskah Allah bertindak sewenang-wenang?
Membeo dalam hal pakaian, bahasa, atau cara beribadah orang-orang padang pasir tidaklah berarti mengikuti Tuhan yang universal. Tetapi, Anda tidak akan mengetahuinya melalui mitos-mitos penyebaran Islam selama berabad-abad. Mitos-mitos ini telah mengubah bangsa non-muslim Arab menjadi budak para tuan Arab mereka. Dan para budak harus membeli apa saja yang dijual kepada mereka atas nama “pencerahan” Islam.
Bagiku, yang paling menyakitkan hati dari mitos-mitos ini adalah mitos tentang masa “jahiliah”, masa kegelapan moral yang konon telah ada sebelum Islam datang. Aku baru saja membuka sebuah buku di tempat seorang keluargaku di Toronto. Buku itu menyebut periode pra-Islam sebagai Zaman Kebodohan—huruf Z besar, huruf K besar. Betul, jazirah Arab di abad ke-7 terpasung dalam kebejatan dan kekerasan, yang membuat perlunya ada sebuah keyakinan yang menyatukan.
Akan tetapi, Al-Quran membicarakan tentang keterbelakangan moral hanya dalam konteks sejarah Arab. Kepalsuannya adalah, orang Arab telah menganggap bahwa bangsa-bangsa non Arab yang mereka taklukkan adalah juga bodoh secara moral. Pihak yang ditaklukkan secara efektif telah diajari bahwa karena Al-Quran menghubungkan kegelapan dengan periode pra-Islam, maka semua kebijaksanaan sebelum Muhammad adalah setara dengan fitnah, dan hal ini berlaku untuk setiap muslim, baik di luar Arab maupun di Arab sendiri. Mitos inilah yang membuat ibu Taslima Nasrin menjadi seorang robot religius, menghafal bahasa Arab dengan rasa bersalah seorang pendosa.
V.S. Naipaul, seperti halnya Fareed Zakaria, telah melihat konsekuensi-konsekuensinya dalam skala yang lebih luas. Beberapa tahun lalu, Naipaul menceritakan perjalanannya ke Iran, Pakistan, Malaysia, dan Indonesia. Sementara mengakui perjuangan bangsa-bangsa ini melawan kaum penjajah Eropa, dia “segera tahu bahwa tidak ada kolonisasi yang begitu komplet sebagaimana kolonisasi yang datang bersama keyakinan Arab…. Satu pokok keyakinan Arab adalah bahwa segala sesuatu sebelum Islam itu salah, sesat, dan bid’ah. Tidak ada ruang di dalam hati atau pikiran kaum yang beriman ini bagi masa lalu mereka sebelum memeluk Islam.”
Aku telah mendengar banyak orang Islam menuduh Naipaul sebagai seorang rasis. Ironis, karena ia justru bertujuan membantu menjelaskan mengapa, di madrasahku, aku tidak pernah mendengar sumber-sumber Yahudi dan Kristen yang melahirkan banyak tradisi Islam. Mengakui adanya pengaruh-pengaruh ini akan menyiratkan bahwa dunia tidak mengalami kebodohan total sebelum Islam; bahwa kaum muslim Arab telah meminjam dari para pendahulunya; bahwa mereka adalah hasil cangkokan dari pihak lain, bukan revolusi murni. Tetapi, mengatakan semua hal itu sama saja dengan menentang harga diri kesukuan. Kita tidak boleh melakukannya, bukan?
Baiklah, baiklah. Pertimbangkan pertanyaan yang tabu dikatakan ini: Apakah Al-Quran ditulis Allah dari awal sampai akhir? Sepanjang dekade-dekade pertama Islam, dengan sedikit waktu mencerna keyakinan yang baru itu, orang Arab meraih sukses militer internasional atas nama Allah. Bisa dipahami jika pengumpulan ayat-ayat Al-Quran harus dipercepat untuk memenuhi tekanan sebuah dinasti. Dalam sebuah esai revolusioner yang berjudul “Apakah Al-Quran itu?”, The Atlantic Monthly menceritakan seorang panglima yang kembali dari Azerbaijan. Sang panglima memperingatkan khalifah ketiga, Usman, bahwa para mualaf mulai bercekcok tentang apa yang dikatakan Al-Quran. Dia memohon kepada Khalifah Usman untuk “mendahului orang-orang ini” sebelum mereka terseret ke dalam pertikaian, sebagaimana yang telah dialami oleh kaum Yahudi dan Kristen. Khalifah Usman segera menitahkan untuk membukukan Kitab Suci. Wahyu-wahyu yang dihafal akan ditulis dan perkamen-perkamen ayat-ayat suci yang terpencar-pencar akan dikumpulkan, semuanya akan didistribusikan sebagai sebuah versi Al-Quran. Salinan-salinan “tidak sempurna” atau “tidak resmi” akan dimusnahkan.
Pertanyaannya: Setelah disetujui dengan terburu-buru, bagaimana jika versi yang “sempurna” ternyata kurang sempurna?
Ada alasan kuat bahwa Al-Quran memiliki ketidaksempurnaan. Pesatnya perkembangan dinasti Arab pasti telah mengerucutkan prioritas, membuat agama sebagai pelayan kolonisasi, dan bukan sebaliknya. Mungkinkah beberapa surat Al-Quran telah dimanipulasi untuk memenuhi agenda-agenda politik? Bukankah masuk akal jika para prajurit Arab, yang lebih terbiasa dengan kebiasaan-kebiasaan mereka daripada keyakinan baru mereka, mencangkokkan banyak kebiasaan mereka pada Islam yang mereka ekspor? Tidak sulit untuk dilihat bagaimana bagasi budaya Arab padang pasir, seperti dinding-dinding tribal, akan mengambil posisi sebagai Islam yang paling benar. Tidak juga sukar untuk membayangkan bagaimana Islam yang bijaksana akan berubah menjadi Islam yang patuh—yang lebih patuh kepada para gladiator Tuhan daripada kepada Tuhan sendiri.
Tetapi, genggaman tribalisme mengendur di abad-abad awal Islam dan intelektualisme berkembang pesat. Bagaimana kita dapat menjelaskan zaman keemasan perdagangan, perdebatan, dan suburnya pertukaran budaya? Apa yang menghasilkan seorang ilmuwan dan filosof berjiwa terbuka seperti Al-Kindi, yang menghaturkan “rasa terima kasih tiada tara” kepada “generasi-generasi sebelumnya dan orang-orang asing” karena “jika mereka tidak pernah hidup, tidak akan mungkin bagi kita—betapapun besar semangat kita, dengan seluruh masa hidup kita—untuk mengumpulkan prinsip-prinsip kebenaran ini….” Secara singkat, apa yang sesungguhnya telah terjadi? Aku bertanya-tanya, apakah ini juga merupakan konsep untuk sebuah masa depan.
Menumpuk kemenangan militer mengandung arti bahwa bangsa Arab merasa memiliki masa depan yang aman dan dapat diapresiasi. Yang, pada gilirannya berarti bahwa Islam pada masa itu tidak perlu terlalu kaku dan keras. Sebenarnya, akan lebih baik jika Islam bersifat lentur sehingga kerajaan Islam yang meluas dengan cepat bisa dilenturkan dan dikelola dengan baik. Benar, Anda tidak dapat memisahkan agama dan politik, tetapi Anda dapat memisahkan absolutisme dan prestise. Kesadaran bahwa absolutisme tidak membawa prestise-lah yang mungkin menyalakan semangat para emir yang ambisius untuk melibatkan pikiran-pikiran terbaik di masa itu—pikiran-pikiran kaum Yahudi dan Kristen, tentunya, tetapi juga pikiran-pikiran dari kaum muslim non-Arab. Bangsa non-Arablah yang menciptakan sebagian besar badan hukum Islam hingga dan sepanjang zaman keemasan. Sekitar 135 aliran pemikiran bermekaran di awal masa itu. Sebetulnya, kaum muslim Arab memilih kompromi antara masa lalu tribal mereka dan sebuah masa depan yang pluralistis.
Dalam kasus demikian, muncul pelajaran kedua. Ketika kaum muslim Arab kehilangan kerajaan, mereka juga mengorbankan keseimbangan antara masa lalu dan masa depan, tribalisme dan toleransi. Mereka pun terlibat dalam peperangan melawan bangsa non-Arab, dari bangsa Berber hingga Mongol, dari pasukan Salib hingga Turki Ottoman. Kekalahan dalam perang ini menimbulkan rasa terhina di kalangan para mantan prajurit Arab. Lebih jauh dari itu, otak mereka mulai kacau. Di abad ke-13, bangsa Mongol dilaporkan melemparkan jutaan kitab ke Sungai Tigris, yang membuat airnya, seperti yang diungkapkan seorang muslim yang sentimental, “menjadi hitam selama berhari-hari karena tinta dan darah.” Sementara itu, pasukan Salib, bersama para pendeta mereka, memilih membuat api unggun besar-besaran dan membakar delapan puluh ribu volume kitab yang sarat ide dalam sekali tempo. Ada metafora di sini tentang bagaimana bangsa Arab memandang masa depan mereka: tenggelam, terbakar, atau terampok. Mereka butuh obat penyembuh.
Satu-satunya kejayaan yang memang pantas diklaim bangsa Arab padang pasir di masa sekarang adalah “masa permulaan Islam”. Bahwa Al-Quran muncul dari jantung tanah Arab, dan dalam bahasa Arab, menandakan bahwa wahyu Allah “terakhir” akan selamanya milik perwakilan Arab. Orang Arablah yang paling membanggakan hal itu. Di sana terletak martabat, bahkan penyelamatan, setelah keruntuhan yang mahadahsyat itu. Tetapi, obat penyembuh ini ternyata sebuah bom. Keseimbangan yang sangat penting antara masa lalu dan masa depan terus-menerus memburuk hingga menjadi sebuah keasyikan mempertahankan masa lalu. Mereka asyik bernostalgia dengan masa lalu turunnya Islam. Aku menyebutnya sebagai “fundamentalisme”.
Fundamentalisme telah mengakibatkan sejumlah tragedi. Para ulama, orang-orang Islam yang saleh dan tanpa pamrih, secara de facto merupakan penjaga gerbang Islam. Dengan ditutupnya pintu ijtihad di abad ke-12, para mufti memiliki kekuasaan untuk mengawasi kebenaran. Sejalan dengan menyempitnya kebenaran, mandat mereka semakin menggelembung, menjadi lebih dekat dengan mandat militer ketimbang ilmuwan. Segala jenis penemuan baru dicurigai dan akhirnya dilarang. Sebagai penjaga kemurnian, para ulama kembali kepada teks-teks suci “sempurna” yang orisinal, Al-Quran dan hadis, untuk mendapat bukti adanya pelarangan mencari ilmu tambahan. Di antara hadis Nabi yang selalu mereka dengungkan adalah: “Berhati-hatilah terhadap hal-hal baru, karena setiap hal baru adalah bid’ah dan setiap bi’dah adalah sesat.” Cara yang hebat untuk membangun masa depan, bukan?
Pemberangusan terhadap penemuan baru seharusnya hanya dibatasi di Arab, kalaupun pemberangusan itu memang harus diberlakukan. Tetapi, yang terjadi justru sebaliknya. Peraturan anti-penemuan baru telah menghantam kaum muslim yang berada jauh dari padang pasir. Pada tahun 1579, misalnya, Istanbul memiliki sebuah observatorium. Pada tahun 1580, para ulama meruntuhkannya. Dengan segala kemasyhurannya, catat seorang ilmuwan muslim Murad Hofmann, bahkan Universitas Al-Azhar di Kairo “tidak kompeten di bidang sains”. Sungguh, ini merupakan sebuah loncatan-besar hanya dari beberapa abad sebelumnya, ketika Islam memimpin dunia dalam astronomi, matematika, pengobatan, dan bidang-bidang lainnya. Sebaliknya, perubahan peristiwa ini menguntungkan orang yang memulai usaha percetakan pertama di Istanbul—dan dunia Islam pada umumnya—di tahun 1728. “Kaum muslim, yang dulunya lebih maju di bidang sains daripada Barat, tidak boleh membiarkan diri terperosok,” kata Ibrahim Muteferrika dalam sebuah permohonan izin bisnisnya. Pada tahun 1745, dia harus menutup usahanya. Para mullah melarang usaha percetakan tersebut.
Tetapi, tidak berarti seolah-olah kreativitas kaum muslim tergilas sama sekali. Di awal abad ke-20, misalnya, seorang putri dari Persia secara singkat memercikkan api kesadaran feminis (atau kesadaran nasionalis, pada tingkatan tertentu) yang mengkaji secara saksama konstitusi negaranya. Dia bahkan mendapat dukungan dari para imam. Ya, dari para laki-laki. Di Isfahan Iran, di Agra India, di Fez Maroko, di Sarajevo Yugoslavia—setiap kota kosmopolitan—diserukan semangat keberagamaan secara menyeluruh, tetapi hanya sedikit menarik perhatian. Seruan-seruan tersebut juga tidak masuk akal bagi sekte-sekte tertentu di dalam Islam. Sebagaimana yang ditegaskan oleh Karen Armstrong, “Kaum Ismaili—sebuah sempalan dari Syiah—didorong untuk menemukan kebenaran di mana pun kebenaran itu dapat ditemukan. Kaum Sufi memiliki kesetiaan yang besar terhadap Nabi Yesus. Dan kaum Faylasuf (filosof— Peny.), yang terinspirasi oleh pemikiran Plato dan Aristoteles, mencari sebuah bentuk keyakinan yang lebih universal.” Tetapi, orang-orang dan tempat-tempat ini berada di pinggiran. Mereka yang jauh dari padang pasir tidak menentukan arah Islam secara umum. Arablah yang menentukannya.
Berikut ini adalah satu ilustrasinya. Pada pertengahan abad ke-19, para mullah padang pasir menggertak Kerajaan Ottoman untuk menghentikan tiga agenda besar reformasi agama yang dilakukan oleh Kerajaan Ottoman: mengakhiri peran muslim dalam perdagangan budak Afrika, membebaskan kaum perempuan dari penindasan kerudung, dan membiarkan kaum yang tidak beriman tinggal di negeri Nabi. Imam besar Makkah melontarkan sebuah fatwa guna melawan perubahan-perubahan yang muncul dari Istanbul ini. “Larangan terhadap perbudakan bertentangan dengan Syariah yang suci,” kecamnya. “Terlebih lagi…mengizinkan perempuan berjalan tanpa kerudung, memberi hak bercerai kepada perempuan, dan hal-hal serupa itu, adalah bertentangan dengan Hukum Islam…. Dengan rencana-rencana seperti itu, kaum Turki telah dicap kafir” dan “sehingga absah untuk menjadikan anak-anak orang Turki sebagai budak”.
Meskipun tergolong negeri reformis, bangsa Turki memenuhi permintaan para pengkhotbah dari Arab tersebut. Mufti besar Istanbul meyakinkan mereka dengan menyatakan bahwa “beberapa orang kurang ajar yang penuh nafsu duniawi telah mengarang kebohongan-kebohongan aneh dan menciptakan kesia-siaan yang menjijikkan” atas apa “yang dilakukan oleh negara Ottoman—semoga Allah Yang Mahakuasa menjaga kita…” Kutekankan kata “menjaga” karena “membekukan” Islam merupakan tujuan para fundamentalis. Ketika kaum muslim telah tergelincir jauh di belakang Eropa di bidang militer dan material, maka fundamentalisme pun mendapatkan momennya.
Dan itulah puncak tragedi dari keranjingan terhadap “masa permulaan Islam”. “Pembaharuan” agama berarti usaha tak henti-henti untuk menengok ke belakang. Maksudku, sungguh-sungguh tak henti-henti—kembali ke abad 14, ketika kerajaan Islam mulai jatuh ke tangan bangsa non-Arab. Salah seorang reformis populis pertama, seorang ulama Damaskus yang dikenal dengan nama Ahmad Ibnu Taimiyah, mencela bangsa Mongol sebagai kaum murtad. Karena, meskipun mereka telah masuk Islam, bangsa Mongol mengganti Syariah dengan hukum-hukum mereka sendiri. Menurut pandangan Ibnu Taimiyah, tidak ada garis pemisah antara agama dan pemerintahan selama masa Nabi Muhammad, sesuatu yang baru diciptakan oleh orang-orang Mongol. Ibnu Taimiyah memperluas serangannya terhadap filsafat Islam, Sufisme, dan bahkan Islam Syiah. Semua itu mewakili tradisi baru pasca-Nabi. “Tetapi Ibnu Taimiyah meninggal sebagai orang yang di luar perlindungan hukum,” para sejarawan di antara Anda mungkin akan bilang begitu. Dia juga meninggal sebagai peletak dasar yang menginspirasi—atau mendorong—“kaum reformis” di masa berikutnya. Memang itulah yang terjadi.
Aku akan memberi Anda satu contoh. Pada tahun 1950-an dan 1960-an, seorang pembelot Mesir bernama Sayyid Qutb mengambil inspirasi langsung dari Ibnu Taimiyah. Jenderal Nasser menggantung Qutb, setelah memenjarakannya selama beberapa tahun. Tulisan-tulisan Qutb di penjara meniupkan api pergerakan kelompok Islamis modern, terutama Ikhwanul Muslimin–geng Al-Quran dan revolver seperti yang telah kusebutkan sebelumnya. Di kemudian hari, Ikhwanul Muslimin mendirikan persatuan insinyur yang salah satu anggotanya bernama Mohamed Atta.
Jika contoh di atas tidak menunjukkan daya jangkau Ibnu Taimiyah di zaman kontemporer, bacalah ini: Saudara laki-laki Qutb yang diasingkan, Muhammad, mengajar Osama bin Laden di Arab Saudi. Apa yang dipelajari Osama? Di antaranya, Ibnu Taimiyah menjadi tokoh terkemuka saat terjadi penyerbuan bangsa asing dan dikubur dengan iringan tangis massa yang membenci bangsa Mongol. Tujuh abad setelah Ibnu Taimiyah, kita memiliki bin Laden yang mencerca para penyerbu asing di tanah air Nabi.
Zaman sekarang, para penyerbu itu adalah bangsa Amerika. Meskipun Pentagon telah mengumumkan pada tahun 2003 bahwa pasukan AS akan direlokasi dari Saudi Arabia ke Qatar, namun para murid Ibnu Taimiyah akan berseru bahwa melintasi satu perbatasan tidak membersihkan para tentara Amerika dari kolonialisme mereka—Qatar akan selalu menjadi bagian dari jazirah Nabi. Riyadh dengan demikian harus dianggap bertanggung jawab karena membiarkan sama sekali para tentara Salib masuk ke sana. Dan itu adalah soal lain: Osama bin Laden telah memberi sokongan emosional dengan menggambarkan orang Amerika sebagai para tentara Salib, tetapi dia tidak peduli sama sekali bahwa “para tentara Salib” telah menghormati larangan Arab Saudi terhadap pelaksanaan ibadah Kristiani di muka umum. Pada tahun 1990, ketika Presiden George Bush mengunjungi pasukan AS yang ditempatkan di Arab, dia setuju untuk tidak mengucapkan doa Thanksgiving di negeri itu. Presiden memimpin doa di atas kapal USS Nassau di perairan internasional.
Bahwa orang-orang Saudi telah membentuk sebuah persekutuan dengan Setan Besar hanya menguatkan bin Laden akan dalamnya kebobrokan di Gedung Putih dan Istana Saudi. Jika Amerika harus diruntuhkan, demikian pula tuan rumahnya: Saudi Arabia. Misi bin Laden sudah pasti. Dalam menyelamatkan kaum muslim dari kedua Istana tersebut, dia memberi penghormatan kepada “masa permulaan Islam” dan secara kaku memilih aspek-aspek kehidupan Nabi—aspek-aspek yang ia tiru dan manipulasi.
Apakah hanya sebuah kebetulan belaka jika bin Laden menghabiskan begitu banyak waktu di gua-gua, seperti yang dilakukan Nabi Muhammad sewaktu berkhalwat? Nabi bisa saja memperturutkan hati dengan kemewahan yang bisa diperolehnya melalui kekayaan istrinya, tetapi dia memilih hidup sederhana. Bin Laden pun menjubahi dirinya dengan pesona hidup penuh kemiskinan. Muhammad meninggalkan klan paling terkemuka di Makkah untuk mendeklarasikan pesan anti-kemapanannya. Bin Laden mengasingkan diri dari keluarganya yang mempunyai koneksi sangat baik. Muhammad menentang landasan moral segenap ekonomi dengan meluncurkan misinya di Makkah yang menggunakan banyak bahasa, sebuah titik persimpangan perdagangan, di mana para pedagang dapat memuja dewa apa saja yang mereka inginkan. New York adalah kota Makkah pra-Islam menurut bin Laden. Baginya, para pekerja World Trade Center adalah para pejuang materialisme sekuler, sebuah ideologi yang memuja benda dan merek yang penuh imaji. Hal itu membuat mereka melakukan dosa syirik dan menyerang ketauhidan pada Allah. Dan bagi bangsa Yahudi yang menguasai modal, dosa-dosa itu menjadi berlipat.
Paralel-paralel tersebut terus berlanjut. Revolusi moral Muhammad terjadi pada saat yang sama dengan revolusi teknologi, di mana seni pengangkutan barang dengan unta memungkinkan perjalanan menjadi lebih cepat, perdagangan menjadi lebih sering, kerakusan menjadi lebih besar, dan perbedaan sosial menjadi lebih lebar. Punggung unta di masa lalu, transaksi online di masa sekarang. Muhammad merampas kafilah-kafilah musuhnya untuk memberi makan pasukannya. Peti harta perang bin Laden memperoleh keuntungan dari para konsumen Amerika, yang tak pernah berhenti mengendus minyak dan opium.
Muhammad mendapatkan kemenangan yang besar melalui taktik-taktik primitif seperti menggali parit di sekeliling permukimannya, menangkap musuhnya secara diam-diam, dan melumpuhkan kuda-kuda musuh yang siap berperang. Kavaleri bin Laden menggunakan box-cutters untuk menyerang superpower. Nabi Muhammad mendefinisikan negaranya sebagai sebuah komunitas yang memiliki kontrak politik, dengan perbatasan yang hanya dijelaskan dengan wilayah agama. Bin Laden mengembangkan sebuah jaringan operasi lintas bangsa yang melebihi peta-peta yang digambar oleh kerajaan-kerajaan asing. Muhammad berhasil mendapatkan dukungan kaum tertindas Makkah sebelum para elite menyadari kekuasaannya dan menerima Islam. Tentu saja, bin Laden masih harus menempuh jalan yang panjang. Pada bulan Oktober 2002, setengah juta orang Pakistan keluar rumah untuk berkumpul dan menuntut moderasi. Tetapi, kita tidak dapat mengabaikan daya pikat bin Laden ketika, di bulan yang sama, sebuah poling menunjukkan bahwa 82% kaum urban Pakistan menganggapnya sebagai pejuang kebebasan.
Pertimbangan logis bin Laden mungkin sejalan dengan kaum muslim yang mencerca para pemimpin mereka yang hedonis dan berlebih-lebihan. Usaha bin Laden untuk menghidupkan kembali “masa permulaan Islam” mungkin saja menarik kaum muslim dalam jumlah besar yang lapar akan penebusan dosa. Tetapi, jika memang perlu dikatakan, “reformasi” bin Laden bukanlah reformasi. Keislaman bin Laden memperkuat lingkaran setan penindasan di lingkungan umat Islam, dengan beberapa pengecualian, sejak masa-masa penaklukan Arab. Reformasi bin Laden adalah sebuah teologi sukuisme yang menyamakan antara kesatuan dengan keseragaman, mengunggulkan sejumlah kecil ahli tafsir di atas pemikiran independen seorang individu. Bin Laden tidak menawarkan sedikit pun agenda anti-imperialisme. Satu-satunya yang dia tawarkan adalah kediktatoran padang pasir.
Pikirkanlah di mana misi bin Laden berakar: Saudi Arabia. Dia hanya berpaling kepada para pemimpin Saudi, bukan negaranya sendiri. Hal ini terjadi karena Arab Saudi muncul dari sebuah pakta antara kepentingan kelompok ulama dan kepentingan politik. Di pertengahan tahun 1700-an, seorang kepala suku bernama Muhammad Ibnu Saud mendekati seorang “pembaharu” agama bernama Muhammad Ibnu Abdul Wahhab untuk mengawinkan kepentingan mereka. Restuilah niatku untuk membentuk sebuah kerajaan dari serpihan-serpihan jazirah Arab, usulnya kepada Abdul Wahhab, dan aku akan menjadikanmu pemandu spiritual kerajaan yang baru itu. Karena lebih terbiasa diusir ke luar kota oleh kaum elite, maka Abdul Wahhab pun menandatangani perjanjian tersebut. Islam “reformasi” Abdul Wahhab, yang dipengaruhi oleh Ibnu Taimiyah, pada gilirannya mempengaruhi bin Laden. Islam reformasinya ini adalah keyakinan yang kaku—terlepas dari silsilah intelektual dan tak henti-hentinya terlibat dalam jihad (perang suci). Pembenaran atas nama jihad telah membolehkan partner politik Abdul Wahhab, suku Ibnu Saud, merampas wilayah dan meluaskan kerajaan selama dua ratus tahun.
Pada tahun 1932, dari puing-puing Kerajaan Ottoman, negara resmi Saudi berdiri. Pakta perjanjian dengan para mullah Wahhabi yang secara keseluruhan tidak demokratis tetap terjaga. Begitu pula komitmennya terhadap jihad. Melalui kedua hal ini, Arab Saudi pun menguasai seni menjajah kaum muslim.
Aku ingin Anda membayangkan foto-foto yang dihasilkan dari perjalanan haji setiap tahun. Multikulturalisme sampai ke ujung-ujungnya, bukan? Sekarang, tambahkan ke dalam mural tersebut kenyataan bahwa Raja Saudi menganggap dirinya sebagai Penjaga Dua Tempat Suci. Dengan kapasitasnya yang terberkati, dia bertindak seolah-olah mewakili kaum muslim dari setiap warna kulit, gender, dan kredo. Namun demikian, gambar yang sebenarnya tidaklah sebagus itu. Bagaimana Riyadh memperlakukan kaum Syiah, mazhab Islam terbesar kedua, dapat diringkas dalam sebuah fakta: Menurut ajaran resmi Saudi, kaum Syiah adalah sebuah konspirasi Yahudi. Tampaknya, satu kaum Yahudi Yaman bersekongkol dengan kaum Yahudi lain untuk memecah belah Islam dan menanamkan ide-ide Talmud ke dalam pikiran-pikiran kaum muslim yang kebingungan. Kaum yang tertipu ini berlanjut menjadi kaum Syiah.
Sebagai satu cabang Yudaisme, kaum Syiah tergolong zhimmi, bukan? Maka, logikanya, itulah status yang mereka miliki di Arab Saudi. Baru-baru ini, seorang muslim Syiah Ismaili memberikan kesaksian di Kongres AS tentang apa yang terjadi ketika orang Saudi menganeksasi kota kelahirannya, Najran. “Bukan hanya penduduk Najran ditaklukkan secara keyakinan,” kata Ali Alyami, “mata pencaharian mereka pun dipotong secara drastis. Sebagian besar tanah pertanian mereka yang subur diambil alih oleh para gubernur, emir, dan hakim Wahhabi. Tambahan lagi, kaum Wahhabi secara paksa mengambil separuh hasil produksi pertanian dan peternakan kaum Ismaili…” Bandingkanlah kekejaman ini dengan apa yang ditanggung oleh para petani Yahudi di era Muhammad. Semua “diperbolehkan” jika Anda percaya bahwa kaum muslim Syiah sejatinya adalah Yahudi.
Kaum Syiah tidak dapat diwakili di dalam sebuah pengadilan Saudi kecuali oleh seorang Wahhabi yang ditunjuk ke meja juri. Mari simpulkan dari fakta-fakta ini: Di Arab Saudi, kaum Syiah diadili oleh hakim yang sudah yakin bahwa mereka adalah ahli bid’ah. Itulah apa yang sebenarnya perlu dilakukan pada Piagam Hak Asasi Islam tahun 1990 yang ditandatangani di Kairo oleh negara-negara muslim. Piagam itu menyatakan bahwa setiap orang berhak mendapatkan pengadilan yang adil. Setiap orang, aku rasa, kecuali kaum non-muslim. Karena kaum Syiah adalah Yahudi… duuh, pikiranku memberi peringatan.
Begitu juga, kaum perempuan di Arab Saudi tidak boleh hadir di pengadilan bahkan jika dia dituduh membunuh. Mereka “memiliki status hukum yang sama dengan sebuah mobil,” jelas Ali Al-Ahmed, direktur eksekutif Institut Saudi yang berbasis di AS. Yang lebih gila lagi, mereka tidak diperbolehkan menyetir mobil. Kedua fakta tersebut mencerminkan kenyataan bahwa kaum perempuan, yang berjumlah lima puluh tujuh persen dari penduduk Arab Saudi, dianggap sebagai kaum minor selama-lamanya. “Mereka dialihkan dari penjagaan ayah mereka ke penjagaan suami atau anak laki-laki mereka,” jelas Al-Ahmed. Muttawa, atau polisi Syariah, membuntuti orang-orang dewasa yang berstatus minor ini terus-menerus agar bisa menerapkan kepatuhan secara cermat terhadap hukum, termasuk tidak mengenakan warna merah pada Hari Valentine—sebuah tindakan yang bisa menyebabkan seseorang ditahan.
Pada bulan Maret 2002, sikap patuh terhadap hukum Islam di Arab Saudi sampai-sampai dimaknai: Perempuan muda tidak boleh menyelamatkan diri dari kebakaran sekolah hingga mereka mengenakan abaya (pakaian yang membungkus seluruh tubuh, kecuali muka dan telapak tangan). Menurut laporan berita Arab Saudi sendiri, 15 murid perempuan tewas dan lusinan mengalami luka-luka ketika para polisi agama memaksa mereka kembali ke dalam bangunan yang terbakar untuk mengambil dan memakai abaya mereka, yang berarti sama saja dengan bunuh diri. Seorang Saudi kenalanku, yang meragukan kebenaran pernyataan seorang saksi mata, berkata bahwa surat kabar-surat kabar domestik mempublikasikan cerita ini sekadar untuk menyulitkan menteri pendidikan.
Bagaimana mungkin sebuah pers yang dikontrol negara bisa “menciptakan kesulitan”? Kenyataannya adalah, tragedi yang mengerikan ini memaksa para jurnalis Saudi menentang status quo. Mereka memiliki semua alasan untuk melakukannya: Tidak ada negara lain di dunia ini yang mengharuskan perempuan menerapkan aturan hukum untuk menutup wajah mereka. Tidak ada negara lain di dunia ini yang dengan congkak memperlakukan warga perempuannya sebagai duplikat istri Nabi Muhammad—para perempuan yang diwajibkan oleh Al-Quran untuk mengenakan kerudung.
Ingin tahu lebih banyak tentang cara-cara kontrak sosial Arab Saudi yang mengeluarkan bau busuk sukuisme? Kekuasaan terletak di tangan sekawanan pangeran senior. Merekalah yang merumuskan kebijakan dan membagi-bagikan kesenangan kepada mafia mullah yang loyalitasnya harus mereka pertahankan demi menghindari pemberontakan habis-habisan. Jadi, haruskah kita heran jika outlet-outlet berita di website Barat diblokir secara rutin, tetapi situs-situs yang mempromosikan kebencian, kekerasan, dan terorisme dengan mudah bisa diakses dari negeri kelahiran Nabi tersebut? Apakah mengejutkan jika Riyadh tidak akan mengaudit donasi-donasi islami yang beroperasi dari tanah Saudi? Apakah warisan budaya masa lalu (seperti masjid-masjid kaum muslim periode awal) mengganggu keimanan kita? Bangunan-bangunan itu dihancurkan oleh pemerintah Saudi karena dianggap daya tariknya bisa menjadi tuhan-tuhan palsu—seperti halnya World Trade Center.
Apakah disebabkan karena para ulama jauh lebih dilindungi daripada rakyat, maka Arab Saudi tidak pernah mengadopsi Deklarasi Hak Asasi Manusia PBB? Di tahun 1948, hanya blok Timur dan Afrika Selatan di bawah penguasa minoritas yang menolak menyetujui deklarasi tersebut. Kemudian komunisme pun jatuh. Afrika Selatan telah melakukan reformasi. Tetapi, Arab Saudi terus berkibar dengan penyebaran Islam absolut yang gersang dan keras.
Hasilnya nyata di Pakistan dan Sudan, tempat di mana begitu banyak madrasah mengajarkan hanya teks-teks Al-Quran. Anda sudah tahu tentang pembantaian di Sudan dan perbudakan terhadap kaum muslim non-Arab maupun non-muslim. Jika menyaksikan tribalisme gaya Badui di Pakistan, Anda tidak dapat mengabaikan hal ini: Beberapa orang non-Islam di sana dieksekusi karena berani mengucapkan salam Islam— assalaamu alaikum, atau “damai atas dirimu”. Namun, tawaran damai yang lain ditolak.
Bergerak jauh ke timur, Islam padang pasir mengubah bentuk Afghanistan dalam citra teokrasi Arab Saudi. Di bawah Taliban, Emirat Islam Afghanistan (Islamic Emirate Afghanistan) meniru model polisi agama Saudi, pendekatan Saudi yang menindas perempuan dan kaum Syiah, dan bahkan pola Saudi yang meledakkan situs-situs agama lain demi mencegah pemujaan berhala. Di Bangladesh, patung-patung Kristen, Hindu, dan Buddha dipilih untuk dihancurkan. Bangladesh adalah negara demokrasi—di atas kertas. Mari kita belajar dari patung-patung Buddha Lembah Bamiyan: Duduk diam, berdoa untuk perdamaian, tidak akan cukup untuk memerangi Islam padang pasir.
Tamasya Wahhabi ke seluruh dunia telah sampai ke Amerika Utara. Masih ingat perjuanganku untuk mengakses perpustakaan kecil masjid di Richmond, British Columbia? Lihatlah, para murid perempuan menghadapi kecaman yang sama di sebagian besar sekolah berbasis Islam di AS, yang didanai oleh orang-orang Saudi. Pelajaran untuk tidak berteman dengan orang Yahudi, tampaknya bukan aku sendiri yang mengalaminya. Berikut ini adalah penggalan kutipan langsung dari buku teks berbahasa Arab yang didistribusikan oleh orang-orang Saudi kepada anak-anak sekolah muslim di Amerika: “Mereka yang tidak beriman, orang-orang musyrik dan orang-orang lain seperti mereka harus dibenci dan dihina… Kita harus menjauh dari mereka dan membuat batas-batas antara kita dan mereka.”
Islam padang pasir juga tengah melintasi batas-batas Asia Tenggara. Islam datang ke sana melalui perdagangan, bukan melalui penaklukan militer. Itu mungkin sebabnya mengapa kaum muslim Asia Tenggara secara tradisi bisa hidup berdampingan dengan umat Buddha, Tao, Kristen, Sikh, Hindu, Konghucu—dan perempuan. Tetapi, uang Timur Tengah sedang mentransformasi lebih daripada sekadar panorama-alam Malaysia dan Indonesia. Hukum dan kemerdekaan juga sedang bermutasi. Di Malaysia pada tahun 1996, misalnya, polisi menahan tiga peserta muslim yang mengikuti kontes Miss Malaya Petite. Keluarga gadis-gadis tersebut belum mendengar adanya fatwa larangan partisipasi orang Islam dalam kontes kecantikan. Ketika mereka mengetahuinya, mereka seperti tidak percaya dengan pendengaran mereka, karena pelarangan seperti itu tidak sejalan dengan negara yang tumbuh di atas dasar toleransi.
Sejak pertengahan tahun 1990-an, kebanyakan negara bagian di Malaysia telah mengadopsi hukum Syariah yang menetapkan sebuah kejahatan terhadap tindakan menentang sebuah fatwa. Jika mereka tidak menangkap basah dirimu dengan berani, mereka akan menangkapmu dengan malu-malu.” “Sangat sedikit muslim yang memiliki keberanian untuk mempertanyakan, menantang, atau bahkan mendiskusikan Islam di muka umum,” tulis Zainah Anwar, seorang anggota jaringan feminis Malaysia Sisters in Islam. “Mereka telah diajari untuk menerima bahwa penguasa agama mengetahui yang terbaik.” Di sisi lain, ia ingin “menjadi seorang perempuan, seorang muslim yang baik, dan mendengarkan para fundamentalis yang berisik. Aku tidak melihat adanya kontradiksi di dalamnya.”
Bukan Islam versi Zainah Anwar yang menggiring Kontes Kecantikan Miss World keluar dari Nigeria di tahun 2002. Meskipun mudah ditertawakan, kehebohan itu ternyata berkembang menjadi terbakarnya beberapa gereja dan lebih dari lima puluh orang meninggal dunia. Aku bertanya kepada diriku sendiri, apakah ini merupakan gambaran betapa Islam versi padang pasir telah menyebar luas. Apakah obsesi terhadap “masa permulaan Islam” menyulut kerusuhan anti-kontes kecantikan tersebut? Lagi pula, Miss Nigeria telah memenangkan kontes tahun sebelumnya, yang memberikan negaranya hak untuk menjadi tuan rumah kontes berikutnya. Kaum muslim Nigeria sudah mengetahui hal ini sejak lama. Kerusuhan berawal hanya setelah seorang wartawan menyatakan secara tersirat bahwa Nabi Muhammad akan membubarkan kontes itu dan mengambil pemenangnya sebagai istri. Sebuah komentar yang kurang hati-hati, tetapi harus dibayar dengan pembunuhan dan penggarongan.
Ketika orang didoktrin untuk percaya bahwa segala aspek “masa permulaan Islam” bersifat sakral, maka sebuah keyakinan dipastikan akan menjadi statis, rapuh dan tidak manusiawi. Maka, dalam hal ini, meskipun surat kabar yang menyinggung perasaan itu telah meminta maaf tiga kali, kaum muslim yang protes tetap membakar kantor surat kabar tersebut. Satu hal lagi: Si kolumnis yang tak hormat kepada Nabi Muhammad, beberapa minggu sebelumnya telah mencaci maki kaum Kristen dan menyebut-nyebut nama Kristus sepanjang caci makinya. Namun, tidak seorang pun yang mati.
Fundamentalisme tengah menghancurkan kita—dan juga orang lain. Teman-teman, kira-kira siapa yang peduli dengan seberapa dekat kita pada “masa permulaan Islam”? Terobsesi dengan “masa permulaan Islam” adalah hal yang fatal. Waktunya telah tiba untuk belajar dari Mustafa Kemal Attaturk, arsitek Turki modern. Pada tahun 1952 dia memproklamasikan, “Aku betul-betul tidak percaya bahwa sekarang ini, dengan bertumbuhnya sains, pengetahuan, dan peradaban di segala aspek, masih ada…orang yang begitu primitif sehingga mencari petunjuk material dan non-material kepada seorang syekh.” Attaturk membuktikan dirinya sebagai seorang visioner justru dengan membuang setiap hal yang dihubungkan dengan “masa permulaan Islam”. Dia tidak melakukan permainan pemurnian karena itu hanya akan menghasilkan satu pemenang: kaum berjenggot yang mereduksi segala sesuatu menjadi hal-hal yang telah pernah dikatakan, dilihat, dan dicoba. Agar sebuah masyarakat bisa berkembang maju, Attaturk tahu, masyarakat itu harus memberikan kemungkinan menang pada banyak pihak di banyak bidang.
Pengabaian Attaturk terhadap “masa permulaan Islam” telah menghasilkan sebuah demokrasi di Turki. Meskipun rentan terhadap tingkah militer, dan sejumlah kekurangan di tempat lain, Turki tetap merupakan kawasan demokratis yang paling matang di dunia Islam. Dan kaum muslim saleh yang mengambil bagian dalam kehidupan politik bisa menjadi pemenang juga. Pada bulan November 2002, bangsa Turki memilih sebuah partai Islamis sebagai pemerintahan mereka. Sekarang untuk poin kedua yang mengesankan: Popularitas kelompok Islamis di Turki tidak bergantung pada usaha beroposisi dengan kebijakan luar negeri AS atau mencela Israel. Hal itu berkaitan dengan janji menciptakan lapangan kerja dan memangkas korupsi. Para pemilih di Bahrain menyuarakan prioritas-prioritas persis seperti itu ketika mereka pergi ke tempat pemungutan suara sebulan sebelumnya—pemilihan pertama di teluk Arab di mana kaum perempuan dapat berpartisipasi. Para pemilih ini mengidentifikasi sebuah masa depan dan bukan sekadar suatu masa lalu belaka.
Jika diberi kesempatan untuk berbicara, banyak orang Islam akan mengatakan bahwa mereka tidak ingin terus menjiplak “masa permulaan Islam”. Mereka lebih menginginkan jalan ke depan daripada mengulangi jalan yang telah diambil. Ketika para orangtua Pakistan yang geram mengusir ulama yang merekrut anak laki-laki mereka ke dalam aktivitas kejahatan, Anda lihat keputusasaan mereka saat memulai langkah ke depan. Ketika kaum muslim moderat Indonesia menerbitkan sebuah buku berjudul Wajah Baru Relasi Suami-Istri (The New Face of Husband-Wife Relations) yang berusaha merekonsiliasi Islam dengan hak asasi manusia, Anda lihat bahwa ada lebih banyak musafir yang melintas ke jalan masa depan. Ketika kelompok garis keras merangsek keluar dari parlemen Iran untuk memprotes pengaruh demonstrasi-demonstrasi mahasiswa yang menuntut reformasi, Anda lihat bahwa masa depan tengah mengumpulkan energinya. Ketika Arab News, sebuah harian Saudi berbahasa Inggris mempublikasikan sebuah kolom yang menjelaskan betapa orang Israel lebih maju secara ekonomi dibandingkan orang Arab, dan ketika kolom tersebut berteriak, “Hadapi Kenyataan, wahai orang-orang Arab”, Anda lihat bahwa cengkeraman fanatisme tengah melonggar.
Kebungkaman tribal, seperti halnya angan-angan, siap mencair, bahkan pada tingkatan-tingkatan resmi. Seperti yang ditulis oleh menteri luar negeri Yordania di New York Times baru-baru ini, “Para pemimpin Arab pada akhirnya harus mengambil posisi publik melawan pengeboman bunuh diri” sambil menciptakan “sistem politik dan ekonomi yang lebih demokratis”.
Ketika seorang jurnalis Libanon menulis bahwa “bola sekarang berada di lapangan Washington” untuk mendukung “akselerasi demokrasi” yang sedang bertunas di Timur Tengah, Anda lihat bahwa dia sedang menyerukan sebuah deklarasi global kesalingbergantungan. Ketika kelompok intelektual Arab bergabung dengan Departemen AS untuk mengutuk sebuah serial TV Mesir yang terang-terangan berbau anti-Semitisme, Anda lihat bahwa kesalingbergantungan memiliki kesempatan untuk unjuk gigi. Semakin besar tekanan diplomatik dari Barat, semakin berbesar hatilah suara-suara internal yang menuntut perubahan.
Ketika raja Maroko memaklumkan perlunya pengkajian untuk mencari hukum Syariah yang menghapuskan poligami sambil memberi hak pada wanita untuk bercerai, mendapat tunjangan dari bekas suami dan jaminan keamanan—reformasi yang didasarkan pada Al-Quran sendiri—maka Anda lihat bahwa agama dapat mengalahkan adat kebiasaan. Terutama sekali, ketika Amerika Utara melahirkan sebuah kelompok seperti Persatuan Muslim Progresif (Progressive Muslim Union), dengan platform yang mendukung “persamaan status dan martabat semua manusia”, menyerukan “pengkajian kritis dan keterlibatan dinamis” dengan teks-teks Islam, dan menyatakan bahwa ada “beragam jalan menuju kebenaran,” maka Anda lihat bahwa kebebasan Barat mampu memaksa sebuah generasi baru muslim untuk menghidupkan kembali ijtihad, tradisi berpikir kreatif yang hilang dari Islam. Berkat kelompok ini, pada bulan Maret 2005, seorang wanita memimpin shalat Jumat yang mencampurkan lelaki dan perempuan—untuk pertama kalinya dalam sejarah Islam. Hal itu terjadi di New York City.
Bagiku, jalan ke depan sepertinya harus berusaha menjawab tiga tantangan pada saat yang sama. Pertama, merevitalisasi ekonomi dengan melibatkan potensi wanita. Kedua, memberikan tantangan pada bangsa Arab padang pasir untuk melakukan penafsiran yang beragam terhadap Islam. Ketiga, bekerja sama dengan Barat, bukan melawannya. Di masing-masing tantangan tersebut, apa yang sedang kita runtuhkan adalah semangat tribalisme yang sudah tua.
Dengan cara begitu, aku telah berhenti menjadi seorang refusenik. Beri jalan aku untuk melakukan Operasi Ijtihad.
- Kata Pengantar oleh Profesor Khaleel Mohammed
- Sekapur Sirih
- Catatan Pengarang
- Surat Terbuka
- Bab 1 - Kenapa Aku Menjadi Muslim Refusenik?
- Bab 2 - Tujuh Puluh Perawan?
- Bab 3 - Kapan Umat Islam Berhenti Berpikir?
- Bab 4 - Gerbang dan Korset
- Bab 5 - Siapa Mengkhianati Siapa?
- Bab 6 - Wilayah-wilayah Rawan dalam Islam
- Bab 7 - Operasi Ijtihad
- Bab 8 - Kaum Muslim Perlu Bersikap Jujur
- Bab 9 - Terima Kasih kepada Peradaban Barat
- Kata Penutup
- Bacaan-bacaan yang Dianjurkan
- Ucapan Terima Kasih
- Tentang Pengarang
Documentary

Irshad's PBS Documentary: Faith Without Fear follows my journey around the world to reconcile Islam and freedom.
Learn More and View Clips...
Buy Now in the USA
Buy Now in Canada
Get Involved

Irshad is pioneering efforts throughout the world to promote Muslim reform and moral courage. To join her mission, first get informed about all that she's doing.
Click here for concrete actions you can take to support Irshad's work.
Get Updates
Want to know more about what Irshad's doing? Sign up to her confidential mailing list.
Click here to see photos of Irshad's latest events and read her newsletters.
Around the Web
Join conversations about Muslim reform and moral courage around the web.
Click the links below to get involved:
RSS Feed - get the latest updates as soon as they go live




