BERIMAN TANPA RASA TAKUT
Bab 5 - Siapa Mengkhianati Siapa?
“Sistem demokrasi yang umum dijalankan di dunia tidak tepat diterapkan di Arab Saudi. Tidak ada sistem pemilihan dalam dogma Islam, karena Islam memandang seorang pemimpin sebagai gembala yang bertanggung jawab atas domba-dombanya…”
(Fahd bin Abdul Aziz, Raja Arab Saudi)
SEBUAH LELUCON yang beredar di kalangan warga Palestina isinya sebagai berikut: Arafat mati sebagai seorang syahid dan masuk surga. Di sana ia bertemu dengan teman-temannya yang lain. Mereka bergerombol di luar pintu surga. Mereka sangat ingin menikmati para perawan dan kebun anggur mereka. Tapi para malaikat menghalanginya.
Ketika orang-orang yang sudah jengah menunggu itu melihat kehadiran Arafat, mereka pun bernapas lega. “Presiden kita ada di sini dan mau intervensi,” mereka saling menghibur satu sama lain.
Arafat kebingungan. “Kenapa kalian tidak masuk ke dalam?” tanyanya.
“Nama kami tidak ada dalam daftar penghuni surga,” salah satu anak buahnya melapor. “Mereka tidak memiliki daftar nama orang Palestina.” Maka Arafat berjalan ke samping jendela dan memperkenalkan dirinya kepada malaikat juru tulis sebagai pemimpin orang Palestina.
“Siapa?” tanya malaikat pengurus administrasi.
“Orang Palestina,” jawab Arafat geram.
Malaikat itu lalu menyisir daftar nama orang yang berhak masuk surga. Ia mengangkat bahunya sebagai tanda bahwa tidak ada nama yang dimaksud Arafat. Arafat menuntut untuk bertemu Tuhan. Malaikat itu masuk ke dalam untuk memberi tahu Tuhan bahwa ada orang di depan pintu dan sedang berteriak kalau dia dan rakyatnya adalah syahid dan ingin mendapatkan surga. “Tapi,” si malaikat menunjukkan, “mereka tidak ada dalam daftar nama calon penghuni surga.”
“Kau yakin?” Tuhan bertanya.
“Sudah berulang kali aku memeriksanya,” jawab si malaikat.
Tuhan berpikir sejenak, lalu membuat keputusan. “Cobalah minta Malaikat Jibril untuk membangun sebuah kamp untuk mereka sampai kita mendapatkan solusi yang tepat.”
Di surga, sebagaimana di bumi, orang Palestina adalah pengungsi abadi.
Lelucon ini menggambarkan perasaan putus asa bangsa Palestina sebab tidak ada yang menginginkan mereka, tidak juga negara-negara Arab yang hanya suka omong besar. Anda boleh menyebut bangsa Palestina sebagai Yahudi-nya dunia Arab.
Gerakan untuk mendirikan negara Israel, sebuah gerakan yang dikenal dengan Zionisme, berdiaspora di Eropa selama akhir tahun 1800-an. Kaum Zionis menyadari bahwa anti-Semitisme tidak akan lenyap dan bahkan mungkin akan semakin memburuk. Kaum Yahudi, mereka memperingatkan, membutuhkan tanah air. Dan kaum Yahudi membutuhkannya tidak di Antartika, tidak juga di Uganda, tapi di negeri Timur Dekat, tempat mereka bisa melacak akar paling awal, paling dalam, dan paling permanen bagi mereka—negeri yang oleh orang Arab disebut Palestina.
Ada banyak kontroversi tentang apakah kaum Yahudi memiliki keterikatan sejarah dengan Palestina, dan dengan begitu apakah mereka bisa menyebutnya sebagai tanah airnya. Aku rasa mereka bisa. Pertama, menurut sebuah studi tentang DNA yang dilakukan oleh tim peneliti internasional dan dipublikasikan di Proceedings of the National Academy of Sciences, kaum Yahudi dan Arab berbagi setidaknya satu nenek moyang—memiliki “asal usul Timur Tengah yang sama”, sebagaimana dinyatakan oleh studi tersebut.
Tradisi Islam menunjukkan kesesuaian. Tradisi Islam menyatakan bahwa Ismail yang memapankan bangsa Arab, dan Ishak, yang mendirikan bangsa Yahudi, adalah saudara tiri dari satu ayah: Ibrahim. Nabi Muhammad dipercaya sebagai keturunan Ismail, sementara Musa dan Yesus dinasabkan kepada Ishak. Semuanya memiliki ikatan darah dengan Ibrahim. Dan jika kenyataan itu masih belum cukup bagi Anda, maka simaklah kata-kata Al-Quran ini: “Kami berkata kepada Bani Israel: ‘Tinggallah di tanah ini. Dan bila datang janji hari akhir, Kami akan mengumpulkan kalian semua bersama.’” Aku benci menjadi orang yang selektif, tetapi tidak mengutip ayat ini adalah tindakan yang selektif juga.
Mari kita kembali pada gerakan Zionis. Ketika Yahudi Eropa tiba di Palestina, mereka memiliki pengetahuan sedikit tentang teman-teman religius mereka yang sudah tinggal di daerah yang saat ini dikenal sebagai Tepi Barat. Kapan orang Yahudi sampai di sana? Mungkinkah mereka sudah selalu berada di sana? Para penduduk baru di Tepi Barat cenderung sangat cemas, dan sering kali pantas merasakan kecemasan karena kehadiran mereka dinilai ilegal. Tapi terdapat sebuah tempat di kawasan ini yang merupakan tanah air mereka. Menyatakan orang Yahudi sebagai penjajah asing di negeri Palestina sama halnya dengan mengatakan bahwa orang Arab tidak memiliki tempat di Israel.
Lalu bagaimana dengan orang Palestina yang menjadi pengungsi buangan, bahkan di negeri-negeri Arab sendiri? Karena dipicu oleh kekacauan perang—konflik yang dimulai oleh negara-negara Arab yang tak bisa menerima keberadaan Israel di tengah-tengah mereka. Hanya sehari setelah kelahiran negara Yahudi pada tahun 1948, lima angkatan bersenjata Arab menyerang Israel, dan masalah pengungsi Palestina berkembang menjadi serius.
Di beberapa kota, para komandan Israel mengusir orang Arab, terprovokasi oleh strategi kontroversial bernama Dalet Plan. Penderitaan warga Palestina akibat strategi itu tak lagi bisa diingkari oleh Israel. Namun, di kota-kota lain, orang Arab didorong untuk tinggal—dan banyak yang tetap tinggal untuk menerima kewarganegaraan Israel. Lebih banyak lagi orang Palestina yang memilih untuk pergi, sepenuhnya berharap bisa kembali ketika orang Yahudi diusir ke laut.
Yang memerintah para pengungsi Palestina untuk keluar bukanlah orang Israel, melainkan orang Arab sendiri. Demikianlah yang dikatakan oleh Khaled Al-Azm, Perdana Menteri Suriah selama perang pada saat itu. Dalam memoarnya tahun 1973, Al-Azm menulis tentang “seruan pemerintah-pemerintah Arab kepada warga Palestina untuk mengosongkan negeri mereka dan pergi jauh dari negara-negara Arab, setelah berhasil menebarkan teror kepada mereka…. Sejak tahun 1948 kami meminta para pengungsi untuk kembali ke rumah-rumah mereka. Tetapi kami sendiri adalah orang-orang yang memerintah mereka untuk pergi.” Hingga penyesalan Al-Azm yang berbunyi, “pelarian kolektif ini…membantu kaum Yahudi, yang posisinya membaik dengan sendirinya tanpa harus bersusah payah.” Begitu banyak dosa yang kita timpakan kepada Israel atas krisis pengungsi Palestina.
PBB juga turut memberikan kontribusi terhadap krisis itu. Saat ini, PBB memperkirakan 3,5 juta orang Palestina menjadi pengungsi, tapi PBB menggunakan ketentuan yang tidak diterapkan pada penduduk lain yang terpaksa meninggalkan tempat tinggalnya. Ketentuan tersebut mencakup tidak hanya para pengungsi asli, yang mencapai sekitar 700.000, tapi juga anak-anak dan cucu-cucu mereka. Sepertiga dari mereka tinggal di “kamp-kamp” urban, dikelilingi gedung-gedung tinggi, lapangan-lapangan terbuka, dan vila-vila pribadi Palestina.
Menyedihkan, dan sebenarnya tidak perlu terjadi. Namun demikian, ratusan ribu orang Yahudi diusir dari negeri Arab di akhir tahun 1950-an. Tapi mereka tidak merana di kamp pengungsian, karena Israel segera menyerap dan menampung sebagian besar dari mereka. Bahkan, Israel memberikan kewarganegaraan kepada seratus ribu orang Palestina dalam sebuah upaya reunifikasi keluarga. Dan apa yang dilakukan pemerintahan-pemerintahan Arab bagi orang Palestina? Mereka justru membiarkan orang Palestina merana, atau lebih buruk lagi.
Setelah Perang Teluk tahun 1991, Kuwait mengusir setidaknya tiga ratus ribu orang Palestina dari perbatasan-perbatasan negerinya sebagai balas dendam terhadap Arafat yang mendukung Saddam Hussein, yang menginvasi Kuwait. Sebagian besar dari yang terusir “tidak pernah mengetahui Palestina atau negara lain selain Kuwait,” kata Kanan Makiya, penulis sebuah buku tentang kekejaman dan kebisuan di dunia Arab. Selain memeras orang-orang yang tak berdosa, kata Kanan Makiya, “kelompok-kelompok penjaga keamanan semiresmi” di Kuwait “dengan sewenang-wenang menangkap” orang-orang Palestina lain. “Jika orang Palestina tersebut tidak ‘hilang’, maka itu karena mereka ditembaki di depan umum atau disiksa dan dibunuh.”
Berikut ini adalah barometer lain dari kemunafikan Arab. Selama bertahun-tahun, Kuwait mendonasikan lebih sedikit daripada donasi Israel kepada badan-badan PBB yang peduli terhadap nasib pengungsi Palestina. Arab Saudi juga tak mampu mengungguli donasi Israel meskipun uang mereka dari penjualan minyak terus menebal. Dan sekarang? Meskipun pundi-pundi uang mereka begitu berlimpah dan luas negaranya begitu besar untuk bisa ditinggali pengungsi Palestina, namun pemerintah Saudi tidak akan pernah menerima orang Palestina sebagai warga negara mereka. Sebaliknya, mereka akan mengumpulkan dana amal melalui program resmi di televisi yang sangat panjang, guna mendanai para pengebom bunuh diri. Mereka juga akan menghadiahi para keluarga pengebom bunuh diri yang berhasil dengan imbalan ibadah haji ke Makkah. Semua biayanya ditanggung pemerintah Saudi.
Pemerintah Libanon, Suriah, dan Irak pun bertingkah seolah-olah jika mereka ikut menyelesaikan masalah Palestina, maka mereka hanya akan mengacaukan koeksistensi-yang-rapuh antara kaum Syiah dan Sunni. Dalam kasus Irak, “koeksistensi” berarti minoritas Sunni berkuasa atas mayoritas Syiah. Mengapa harus mengambil risiko untuk mempublikasikan kenyataan itu dengan memberikan kewarganegaraan kepada orang asing, tak peduli dengan berapa kadar ke-Arab-an mereka? Seperti halnya kebijakan di Istana Saud, Saddam mengekspresikan kepeduliannya dengan menanggung kesejahteraan keluarga para pengebom bunuh diri. (Si Paman Besar—julukan bagi Saddam—mempercepat keluarnya dana santunan bagi para pengebom bunuh diri seminggu sebelum perang di Irak.)
Libanon? Setali tiga uang! Hukum Libanon sesungguhnya melarang sebagian besar pengungsi Palestina bekerja penuh waktu, membeli tanah, atau menjadi pekerja profesional. Orang Palestina bertahan hidup dengan pekerjaan serabutan. Kenyataannya, satu-satunya negara Arab Islam yang memberikan kewarganegaraan kepada pengungsi Palestina adalah Yordania. Itu pun disebabkan kebanyakan orang Yordania secara etnis adalah orang Palestina.
Kita bisa mencaci maki para imperialis Israel atas keadaan buruk yang menimpa warga Palestina. Namun, yang benar adalah, kaum muslim juga patut dikecam atas sifat imperialis mereka sendiri. Tapi tingkat kesalahannya berbeda, Anda mungkin akan berkata begitu. Aku akan menjawab, mungkin kesalahan kaum muslim lebih besar ketimbang Israel. Menjelaskan secara teperinci bagaimana drama Timur Tengah berawal adalah sebuah pelajaran tentang cara-cara kaum muslim saling tikam satu sama lain selama beberapa dekade. Apa yang akan kupaparkan bukan sebuah sejarah yang komprehensif, melainkan hanya sebuah sampel dari fakta-fakta yang hilang dalam polarisasi saat ini.
Di awal abad ke-20, kita yakin sekali bahwa kaum Zionis menjajah Palestina dengan menggunakan kekuatan bersenjata. Seperti yang telah kukatakan, banyak orang Arab mempercayai kisah itu tanpa berpikir masak-masak. Tetapi, instruksi terhadap warga Palestina untuk mengosongkan negeri mereka tidak selalu berasal dari orang Yahudi. Orang-orang Ottoman—muslim Turki—mengendalikan kerajaan yang mengontrol Palestina pada saat itu. Melawan keinginan para petani penyewa, kaum Ottoman dengan suka rela menjual tanah mereka kepada kaum Zionis. Ya, orang Islam melakukan hal ini. Dan mereka melakukannya dengan penuh kesadaran. Pada tahun 1911, seratus lima puluh orang Arab yang berpengaruh mengirimkan telegram kepada parlemen Turki, memprotes penjualan tanah yang terus berlangsung. Tapi pesan mereka diabaikan.
Selama Perang Dunia I, orang Arab membantu Inggris berperang melawan kaum Ottoman dengan syarat, setelah itu seluruh Palestina diberikan kepada mereka. Sir Henry McMahon, komisioner tinggi Inggris untuk Mesir dan Sudan, dalam serangkaian surat pribadinya pada tahun 1915, tampaknya menyebut hal tersebut sebagai sebuah perjanjian. Tapi, dalam Deklarasi Balfour tahun 1917, Inggris melanggar janjinya. London secara terbuka menyerahkan Palestina kepada kaum Yahudi, yang tengah menghadapi serangan kebencian yang terus meningkat di Eropa. Demikianlah, Tanah Yang Dijanjikan itu menjadi tanah yang dua kali dijanjikan kepada dua bangsa yang berbeda. Kaum muslim mulai mengutuk kolonialis Barat karena pengkhianatan tersebut.
Namun demikian, sekali lagi, kita gagal melakukan introspeksi pada parodi tahun 1915 itu. Tahun itu menandai tingginya pembunuhan massal oleh kaum muslim Ottoman terhadap kaum Kristen Armenia. Orang-orang yang berteriak atas nama Allah memusnahkan lebih dari satu juta kaum Kristen melalui deportasi, bencana kelaparan, dan pertumpahan darah. Mengapa aku tidak mendengar kaum muslim kita menyeru kepada orang Turki untuk memberikan ganti rugi? Kita pasti marah, apalagi karena orang Armenia tidak menuntut sama sekali kerugian yang mereka derita. Mereka hanya menuntut permintaan maaf dari orang Islam. Apakah kita terlalu sibuk menyatakan diri jauh lebih bermoral ketimbang kaum lain yang dianggap pengkhianat, tak peduli bahwa kita pun sering mengkhianati kaum lain?
Kita kaum muslim bukanlah satu-satunya yang harus menderita karena kekuasaan kolonial. Kaum Yahudi pun mengalami pengkhianatan. Itu terjadi pada tahun 1921. Dari tanah yang ditetapkan oleh Inggris bagi rumah orang Yahudi, hampir empat per limanya jatuh kepada orang Arab, yang kemudian menjadi negara Yordania. Hanya dua tahun kemudian, Inggris menyerahkan lagi wilayah yang tercatat diperuntukkan bagi kaum Yahudi, kali ini kepada Suriah. Tapi kemudian, seperti halnya sekarang, janji-janji palsu Inggris terhadap kaum Yahudi tak bermakna apa-apa bagi para pemimpin muslim.
Apakah Anda pernah mendengar nama Haj Amin El-Husseini? Anda tentu pernah mendengarnya. Dia menjadi Mufti Yerusalem pada tahun 1921 dan presiden Supreme Muslim Council pada tahun 1922. Walaupun Haj Amin telah terpilih secara layak, namun pemilihan presiden Supreme Muslim Council secara langsung, umum, bebas, dan rahasia tak pernah lagi dilakukan selama lima belas tahun dia menjadi presiden! Melalui niat tunggalnya untuk membersihkan wilayah Palestina dari orang Yahudi, sang mufti juga mengungkapkan kepuasannya secara moral dengan memberikan otorisasi pada serangkaian pembunuhan terhadap orang Arab. Barangsiapa menghalangi jalannya, maka berarti menghalangi jalan Tuhan! Selagi ancaman Nazi membesar di Eropa, demikian pula ancaman migrasi kaum Yahudi—dan tirani Haj Amin. “Karena seorang Arab diragukan kesetiaannya pada tujuan nasional, maka sekelompok orang bersenjata pun diundang,” catat Peel Commission Report pemerintahan Inggris pada tahun 1937 tentang kerusuhan sipil di Palestina. Laporan itu menambahkan bahwa “sejumlah orang Arab meminta perlindungan pada Pemerintahan (Inggris).” Menyalahkan kaum Yahudi atas “teror di dalam negeri” terhadap orang Arab adalah sebuah kebohongan lagi.
Yang terjadi selanjutnya adalah penggalan sejarah yang sekarang ini sangat jarang disebut-sebut. Pada tahun 1939, karena kehabisan energi untuk mengatasi gangguan-gangguan yang memuncak di Timur Tengah dan sibuk melawan Hitler, Inggris menawarkan kepada warga Palestina sebuah rencana untuk mendapatkan status negara bagian penuh. Syaratnya: Kaum Arab dan Yahudi harus hidup bersama, dan berada di bawah kontrol orang Palestina dalam jangka sepuluh tahun. Sementara itu, pembelian tanah oleh kaum Yahudi dan imigrasi mereka akan dipotong secara dramatis. Mengenai kemerdekaan, warga Palestina bisa memutuskan kebijakan imigrasinya sendiri. Dalam standar apa pun, itulah otonomi. Masih kurang banyak, gerutu wakil-wakil Arab. Terpengaruh oleh sang Mufti Yerusalem, di mana Inggris menolak untuk berbicara langsung kepadanya, para negosiator Arab menginginkan kemerdekaan penuh dalam jangka waktu separuh dari yang ditawarkan Inggris. Atau tidak sama sekali.
Tapi, rakyat Palestinalah yang menderita akibat ulah para pemimpinnya. Dalam menolak tawaran Inggris, orang-orang sang mufti tidak pernah berkonsultasi terlebih dulu dengan para petani dan pedagang Palestina. Dan rakyat tampaknya menentang agenda kelompok elite tersebut. Menurut sebuah cerita di surat kabar Inggris tahun 1938, sebagian besar penduduk desa “tidak punya simpati besar kepada para pemberontak Arab yang sedang berusaha menghentikan gelombang imigrasi kaum Yahudi dan menuntut Pemerintahan Arab bagi Palestina. Rakyat hanya ingin hidup tenteram, bertani, menikah, mencari rezeki yang diperlukan di masa-masa sulit, dan mengurus keluarga mereka.” Secara politis dimiskinkan oleh para pemimpin mereka sendiri, orang Palestina pun menderita secara ekonomi. Delapan mantan tentara Palestina mempublikasikan sebuah manifesto yang menuduh Mufti Yerusalem telah menyalahgunakan “uang yang jumlahnya sangat besar, yang diterima dari kekuatan-kekuatan asing. Jumlahnya jutaan poundsterling.
Lalu, bisakah Haj Amin menunjuk satu saja masjid, sekolah, atau rumah sakit yang didirikan selama masa kekuasaannya? Apakah dia pernah membangun shelter, rumah suaka, atau penampungan air yang bisa menjadi tempat minum bagi para gelandangan?”
Mari kita singkap juga hal lain yang terjadi selama tahun-tahun Nazi: keterlibatan kaum muslim dalam tragedi Holocaust. Haj Amin, orang sok suci yang mempraktikkan keterampilannya dalam membunuh orang Arab, menekan Inggris untuk menolak kapal-kapal pengungsi Yahudi yang siap menuju Palestina. Beberapa di antaranya tenggelam di laut Mediterania. Beberapa dikirim kembali ke ruang gas beracun dan krematorium di Eropa. Sang mufti terus bersikukuh dengan kekerasannya, menghentikan anak-anak Kroasia—kebanyakan yatim piatu—agar tidak memasuki Tanah Suci. Meskipun demikian, dia mengkalkulasi bahwa mereduksi pertumbuhan penduduk Yahudi tidak akan cukup untuk menjamin Palestina Arab segera terbentuk setelah perang selesai.
Untuk alasan tersebut, sang mufti perlu dikenal, dipercaya, dan diperhatikan oleh pemenang perang. Bertaruh dan berdoa bahwa pemenang perangnya adalah Hitler, Haj Amin melakukan kunjungan pribadi kepada Hitler. Rambut blonde dan mata biru sang mufti menjadi barometer kredibilitasnya yang menyenangkan Hitler, di mana—sesuai dengan ucapannya sendiri—Haj Amin “mungkin juga keturunan Romawi terbaik”. Sang mufti mengakhiri kunjungannya sebagai tamu spesial Hitler di Berlin, meresmikan pembukaan Islamic Central Institute pada bulan Desember 1942.
Dia juga pergi ke Balkan untuk memberlakukan wajib militer kepada para relawan Muslim di sana, demi membantu poros Jerman dalam Perang Dunia II. Beberapa kalangan muslim Bosnia bukan hanya melawan karismanya, tapi juga aktif menyembunyikan orang Yahudi di rumah-rumah mereka. (Ketika Israel memberikan penghargaan kepada sebuah keluarga Bosnia pada tahun 1960-an pada sebuah upacara di Yerusalem, mereka memutuskan untuk menetap dan menjadi warga negara Israel.) Kaum muslim lain dari India, Asia Tengah, dan Palestina mempertaruhkan hidupnya untuk kubu Sekutu, lawan dari Nazi. Tetapi, sebelum kita menyatakan bahwa Holocaust terjadi di Eropa Kristen, marilah melihat ke dalam cermin dengan cermat.
Pada tahun 1943, Haj Amin menyampaikan pidato kepada para imam pendukung Nazi di Bosnia, meyakinkan mereka bahwa Islam dan Nazisme sama-sama berkomitmen pada tatanan sosial, struktur keluarga, kerja keras, dan perjuangan tanpa henti—terutama melawan Amerika, Inggris, dan Yahudi. Dari ibu kota Reich, Haj Amin melancarkan propaganda Nazi ke dunia Arab. “Bunuh kaum Yahudi di mana pun kau menemukan mereka,” desisnya di mikrofon Radio Berlin pada tanggal 1 Maret 1944. “Ini akan menyenangkan Allah, sejarah, dan agama. Ini menyelamatkan kehormatanmu. Allah bersamamu.” Surat-surat dari para pendengar Arab kepada para diplomat Jerman di Baghdad dan Beirut menandakan bahwa pesan sang mufti menimbulkan dampak besar.
Meskipun dia kalah bertaruh untuk Hitler, sang mufti lolos dari jeratan hukum sebagai penjahat perang. Ditangkap di Prancis pasca-perang, dia menyelinap keluar dari tahanan Sekutu dan akhirnya melarikan diri ke Mesir. Liga Arab yang baru terbentuk menyambut kedatangan kembali Haj Amin dengan karpet merah. Apakah Liga Arab menyetujui pendekatan otokratis sang mufti terhadap Palestina? Pertanyaan ini patut direnungkan. Saat itu, seorang insinyur yang dipanggil Arafat (nama aslinya El-Husseini, satu marga dengan Haj Amin El-Husseini) baru akan belajar tentang seluk-beluk “kepemimpinan”. Di mana Arafat mendapatkan banyak uang untuk menolak perdamaian dengan kaum Yahudi, menebarkan teror kepada masyarakatnya sendiri, dan menghambur-hamburkan uang yang sesungguhnya ditujukan untuk pembangunan negeri mereka?
Kita membutuhkan penelitian yang jujur terhadap satu masalah lagi pasca-Holocaust: Mengapa negara Israel pada akhirnya lahir, tapi tidak dengan Palestina? Pada tahun 1947, PBB memberikan tawaran untuk membagi wilayah Palestina: empat puluh lima persen luas wilayahnya untuk negara yang diperintah oleh Arab, lima puluh lima persen untuk negara Yahudi, sementara kota suci Yerusalem berada di bawah pengawasan internasional. Secara umum kaum muslim menolak usulan itu karena kaum Yahudi akan memperoleh beberapa mil persegi lebih banyak dari kaum Arab. Aku rasa kita telah mendapatkan beberapa mil tanah dari keluh kesah yang dangkal ini.
Kita jarang menyadari bahwa negara Yahudi yang ditawarkan oleh PBB—sebagian besar berada di kawasan gurun Negev—adalah wilayah yang gersang di Palestina. Sebaliknya, negara Palestina yang ditawarkan PBB akan penuh dengan orang Arab. Tidak demikian halnya dengan negara Yahudi yang hanya akan memiliki mayoritas kecil orang Yahudi. Betapapun pahitnya, orang Yahudi mampu hidup dengan “orang lain”. Mereka mengadopsi rencana PBB dan enam bulan kemudian memproklamasikan kemerdekaannya.
Sangat berbeda dengan orang Arab. Mereka menyatakan perang terhadap Israel dan kehilangan lebih banyak lagi wilayah. Nasib yang lebih buruk lagi diderita oleh orang Palestina kebanyakan. Berbagai rezim Arab yang menyapu wilayah mereka pasca-perang hanya memperparah buruknya kondisi demokrasi mereka yang awut-awutan. Bacalah uraian intelektual terkenal Bernard Lewis dalam bukunya Timur Tengah: Sejarah 2000 Tahun dari Kebangkitan Kristianitas hingga Hari Ini. “Antara tahun 1949 dan 1967,” catatnya, “Liga Arab, dan khususnya negara-negara Arab yang menduduki wilayah-wilayah Palestina, mengklaim bahwa mereka berbicara atas nama orang Palestina dan mempersulit—bahkan kadang mencegah—partisipasi orang Palestina dalam proses politik.” Nah, pertanyaannya: Siapa mengkhianati siapa?
Tidak, aku belum melupakan Perang Dingin. Dari akhir 1940-an sampai 1960-an, para ahli strategi negara adidaya mengubah Timur Tengah menjadi pertunjukan panggung boneka. Dalam ingatanku, contoh paling tegas adanya manipulasi bukan datang dari AS, melainkan Uni Soviet: Joseph Stalin mengirim senjata dari Cekoslovakia ke Israel dan membantu kaum Yahudi mempertahankan diri dari serangan pertama negara-negara Arab. Tetapi, segera setelah kemenangan Israel tahun 1948, Stalin menunjukkan kejijikannya terhadap Israel, calon sekutu Amerika, dan mempersenjatai orang Arab. Gamal Abdul Nasser dari Mesir adalah klien pilihannya.
Selama beberapa dekade berikutnya, bangsa Arab mengira mereka telah menemukan pewaris Salahuddin Al-Ayyubi, panglima perang yang tangkas memukul mundur pasukan Kristen dalam Perang Salib. Nasser memang tangkas, tapi sebentar saja. Jenderal Mesir yang menjadi presiden itu membangkitkan kesadaran kolektif di kalangan bangsa Arab di mana-mana dengan cara berdiri menghadapi juragan utama Israel: Amerika Serikat.
Anti-Amerikanisme tidak sama dengan Anti-kolonialisme. Nasser membuktikannya. Di bawah kekuasaannya, Mesir mengonsumsi secara berlebihan opium ideologi Uni Soviet, mendasarkan kebangkitan ekonomi dan budayanya pada sosialisme. Misalnya, Nasser menasionalisasi kawah condrodimuko para pemimpin Kairo, Universitas Al-Azhar, Harvard-nya pendidikan agama dan hukum Islam Sunni. Usaha untuk mempercepat sekularisasi ini ternyata justru menjadi bumerang. “Dengan mengaitkan reformasi secara langsung lembaga Al-Azhar dengan negara, rezim Nasser memupus kredibilitas lembaga itu,” tulis Gilles Kepel dalam Jihad: Jejak Islam Politik. “Kekosongan ( vacuum) telah tercipta, untuk diisi oleh siapa saja yang siap untuk mempertanyakan negara dan mengkritisi pemerintahan yang mengatasnamakan Islam.”
Kekosongan itu akan segera diisi. Terlimpahi banyak amunisi dan terpompa dengan kebanggaan, orang Arab tumbuh terpesona oleh impian membalas dendam terhadap pendudukan kaum Zionis. Alih-alih, satu generasi baru yang bersinar menderita aib yang lebih besar. Israel mengalahkan Mesir dan sekutu-sekutu regionalnya pada perang tahun 1967. Kekalahan itu diperparah lagi dengan sesuatu yang memalukan: kehilangan wilayah Yerusalem, terburainya identitas, dan tamatnya sosialisme sekuler sebagai sebuah kredo untuk menggalang massa.
Mengorganisasi diri sejak tahun 1920-an, para fundamentalis agama turun gelanggang dengan sebuah jaminan yang dikumandangkan di mana-mana: “Hanya Islam solusinya”. Mereka tidak kekurangan pendengar ataupun uang. Ledakan kekayaan minyak yang dinikmati oleh elite borjuis Saudi Arabia, sebuah negara yang resmi mendeklarasikan diri sebagai penganut Islam puritan yang suka menghukum, terus memperbesar suntikan dana terhadap gerakan Islam paling radikal ini. “Harapan besar mereka adalah,” ratap seorang liberal Mesir, Gaber Asfour, “kembali ke Islam garis keras akan memberikan kekuatan untuk memperoleh kemenangan atas Zionisme dan Israel.”
Palestina tak pernah berubah. Ketika Islam garis keras mendapatkan momentumnya, Yasser Arafat pun membudayakan bahasa-bahasa dan tayangan-tayangan religius demi tujuan politiknya. Pada pertengahan tahun 1970-an, ia mendakwahkan kata “syahid” tanpa satu pun konotasi Al-Quran. Dua puluh lima tahun berjalan, bukan hanya kaum muda Palestina mengorbankan diri mereka dan warga sipil atas nama Tuhan, mereka juga saling berolok-olok tentang nasib para martir yang pincang di surga. “Dalam beberapa lelucon, perawan-perawan bermata hitam berubah menjadi tidak berjenis kelamin, atau anggurnya berubah menjadi bebas-alkohol,” kata seorang profesor Israel Arab, Muhammed Abu Samra. Lelucon-lelucon ini “mengekspresikan semacam ketidakpercayaan terhadap apa yang dijanjikan oleh iman Islam di Hari Kemudian”. Di tangan mereka yang menggunakan agama sebagai pedang, Islam bukanlah solusi sama sekali. Buku-buku teks, siaran, dan protes orang Palestina terendam dalam fanatisme Islam. Meskipun demikian, mengutip ringkasan Abu Samra tentang sentimen jalanan di Palestina, “Segala sesuatu sepertinya terkutuk untuk gagal dan hancur.” Itulah beberapa nuansa dari percakapanku dengan perempuan Amerika muslim di Kubah Batu.
Dua bulan setelah percakapan itu, seorang mantan menteri di Kabinet Arafat mempertaruhkan keamanan dirinya demi integritas dirinya. Nabil Amr menulis permintaan untuk introspeksi di salah satu surat kabar resmi Penguasa Palestina (salut untuk editor yang berani memuat tulisannya). “Tuan Presiden, kita merasa nyaman dengan merancang alasan-alasan,” Amr berkata kepada Arafat. Mengingatkan pada para mantan gerilyawan yang menulis “manifesto terbuka” kepada Mufti Yerusalem lebih dari lima puluh tahun sebelumnya, Amr menuduh pemimpin Palestina menghambur-hamburkan bantuan dan niat baik dunia, sebagaimana halnya menyia-nyiakan tawaran yang sah dan meyakinkan untuk hidup berdampingan dengan Israel. Dari sudut pandang orang dalam, dia memaparkan “cara berpikir tribal” para politisi Palestina—lelaki-lelaki yang berjubah dalam ritual-ritual demokrasi, namun sesungguhnya mereka adalah para egois yang telanjang.
Dalam penutupnya, Amr menulis, “Kita telah melakukan kesalahan serius terhadap rakyat kita, pemerintahan kita, dan negara impian kita. Untuk membayar kesalahan ini, kita harus mengakui kesalahan kita terlebih dulu, baru kemudian melakukan tindakan yang segera. Rakyat kita adalah orang terhormat dan patut mendapatkan komitmen dari kita. Kita mesti berpikir bersama mereka demi kepentingan mereka. Kita tidak bisa begitu saja membiarkan nasib rakyat kita ditentukan oleh kesempatan semata—kesempatan yang, dalam tatanan dunia baru, mungkin akan berupa perjuangan yang tak pernah sampai pada tujuan dan harapan.”
Nabil Amr selamat dari tembakan peluru di rumahnya oleh kaum fanatik Palestina. Sejak pernyataannya itu, ada beberapa lagi orang Palestina yang secara publik mengikuti jejaknya. Mereka mengakui bahwa Israel bukanlah alfa dan omega dari penindasan rakyat mereka. Lalu kenapa kita di Barat semakin menganggap Israel sebagai penjahat?
Para aktivis Palestina menyuarakan suara-suara emosional dalam argumen-argumen mereka. Lihatlah popularitas dari pembandingan Israel dengan Afrika Selatan di era apartheid.
Sebelum melakukan perjalanan ke Ramallah, aku mencari informasi tentang Promises, sebuah film dokumenter nominasi Oscar yang menggambarkan anak-anak Arab dan Yahudi yang tinggal di Yerusalem. Meskipun tajam dengan retorika antagonistik, sejumlah anak mengubah nada suara mereka setelah saling bertemu. Seorang pejuang Palestina tidak mampu menoleransi film tersebut—atau tidak mampu menoleransi fakta bahwa dua dari tiga pembuat film adalah Yahudi Amerika. “Propaganda Zionis generasi kedua,” kecamnya di Arabia.com. “Jika sebuah film dokumenter diproduksi di Afrika Selatan untuk mengukur intensitas perasaan antara orang Kulit Hitam dan Kulit Putih selama Apartheid berkuasa, sedikit orang yang akan menggambarkan kata-kata kemarahan orang Kulit Hitam terhadap orang Kulit Putih sebagai tanda rasisme Kulit Hitam.” Seperti Anda ketahui, di Ramallah, aku mendengar tentang Afrika Selatan lagi.
Setelah kembali ke Toronto, aku mengetahui bahwa sebuah kelompok solidaritas Palestina tengah mensponsori seorang akademisi Afrika Selatan untuk menyebarkan pemikiran di kampus-kampus Amerika Utara bahwa Israel adalah negara apartheid. Berbicara di Universitas Toronto—di Ruang Kuliah Reichmann Family—akademisi tersebut menarik garis paralel antara era apartheid dengan larangan Israel terhadap perkawinan “campur”. Pasangan dengan keyakinan yang berbeda, menikah atau tidak, dapat hidup bersama di Israel. Adalah pernikahan (sebuah upacara keagamaan) yang tidak bisa dilakukan di dalam negara itu. Sesuatu yang tidak disebutkan oleh akademisi itu, yang kuketahui kemudian, adalah bahwa seorang anggota parlemen Yahudi baru-baru ini telah memaparkan draf undang-undang untuk mempromosikan perkawinan sekuler—dan para legislator muslim bersekutu dengan kaum Yahudi Ortodoks dan ultra-Ortodoks untuk membatalkan draf tersebut.
Di sebuah negara yang mempraktikkan apartheid, akankah para legislator Arab muslim mempunyai dan menggunakan kekuatan veto terhadap segala sesuatu? Dengan hanya dua puluh persen dari jumlah penduduk, akankah orang Arab berhak mengikuti pemilu jika mereka berada di bawah tangan-tangan apartheid? Akankah sebuah negara apartheid mengakui hak suara perempuan dan kaum miskin di pemilu lokal, yang dilakukan oleh Israel sebagai hal pertama dalam sejarah Palestina Arab? Akankah mayoritas-besar warga Israel Arab bisa memilih di pemilu nasional, seperti yang telah mereka nikmati di Israel? Akankah sebuah negara apartheid memiliki beberapa partai politik Arab, sebagaimana yang terjadi di Israel? Akankah peradilannya bebas dari campur tangan politik? Pada pemilu tahun 2003 di Israel, dua partai Arab didiskualifikasi karena mengungkapkan dukungannya kepada terorisme yang melawan negara Yahudi Israel. Tapi kemudian, Mahkamah Agung Israel mencabut diskualifikasi dari kedua partai tersebut.
Akankah sebuah negara apartheid memberikan penghargaannya yang bergengsi kepada orang Arab? Israel memberikan penghargaan kepada Emile Habibi di tahun 1986, sebelum gerakan intifadah mungkin membuat pilihan yang patut secara politis. Akankah sebuah negara apartheid mendorong anak-anak yang berbahasa Yahudi untuk belajar bahasa Arab? Akankah tanda-tanda lalu lintas di seluruh negeri muncul dalam dua bahasa? (Bahkan, Kanada yang bangga dengan bilingualnya tidak menerapkan standar itu.) Akankah sebuah negara apartheid menjadi rumah bagi universitas-universitas di mana orang Arab dan Yahudi bergaul atas keinginan sendiri, atau menjadi rumah bagi blok-blok apartemen di mana mereka hidup bersebelahan? Akankah sebuah negara apartheid memberikan pelayanan dan perlindungan hukum bagi orang Palestina yang tinggal di luar Israel tapi bekerja di perbatasan? Akankah organisasi-organisasi kemanusiaan bekerja secara terbuka di sebuah negara apartheid? Mereka bekerja secara terbuka di Israel. Faktanya, setiap tahun Perdana Menteri merespons catatan-catatan di dalam laporan organisasi kemanusiaan paling berpengaruh di Israel.
Di atas semua itu, dalam negara apartheid, akankah media memperdebatkan kebenaran moral dari kebijakan-kebijakan nasional? Akankah surat kabar berbahasa Yahudi di sebuah negara apartheid memuat artikel tulisan seorang Israel Arab tentang mengapa “perjalanan Zionis merupakan sebuah kegagalan total”? Akankah surat kabar itu memuat artikel tersebut pada hari kemerdekaan Israel? Akankah sebuah negara apartheid menjamin kondisi bagi adanya pers Arab paling bebas di Timur Tengah—sebuah pers yang sangat bebas sehingga secara demonstratif bisa menyalahgunakan kebebasannya namun tetap saja bisa hidup? (Sampai hari ini, harian Yerusalem Timur Al-Quds belum menarik surat anti-Israel yang semula diduga ditulis oleh Nelson Mandela, tapi terbukti ditulis oleh seorang Arab yang tinggal di Belanda.)
Bahkan, penasihat rahasia nasionalisme Palestina, Edward Said, mengatakan dengan tepat bahwa “Israel bukanlah Afrika Selatan…” Bagaimana mungkin jika Israel negara apartheid, sebuah penerbit Israel menerjemahkan karya besar Said, Orientalism, ke dalam bahasa Yahudi? Aku akan mengakhiri poin ini dengan satu pertanyaan yang diajukan oleh Said sendiri kepada orang Arab: “Mengapa kita tidak berjuang lebih keras untuk kebebasan berpendapat di masyarakat kita sendiri, sebuah kebebasan, tak seorang pun perlu diberi tahu tentang hal itu, yang sedikit sekali ada di sini?”
Aku tidak setuju—sejumlah orang masih perlu diberi tahu bahwa “kebebasan” Arab tidak sebanding dengan kebebasan Israel. Orang-orang yang perlu diingatkan adalah mereka yang kini menaikkan analogi Afrika Selatan selangkah lebih jauh—dengan menyamakan Israel dengan Nazi Jerman. Bagi mereka, Zionis melakukan kejahatan di bawah sistem totalitarian yang mereka namai “Zio-Nazisme” (seperti Neo-Nazisme).
Musuh-musuh tersumpah dari Zio-Nazisme melakukan debut mereka di panggung internasional pada bulan Agustus 2001. Pada forum-forum yang mengantarkannya ke Konferensi Dunia PBB melawan rasisme di Durban, Afrika Selatan, Serikat Pengacara Arab membagikan kartun-kartun yang menggambarkan para tentara Israel bergigi vampir dengan bendera Nazi berkibar di helm mereka. Gambar tentara itu berdiri berjaga-jaga di depan pintu—yang ditutupi papan—di sebuah kantor Palestina. Papan-papan itu membentuk gambar swastika (lambang Nazi). Sebuah leaflet pro-Palestina lain memasang gambar swastika di atas Bintang Daud. Poster-poster paling kejam yang disebarkan di Durban, menggambarkan Hitler yang sedang berspekulasi “Bagaimana Jika Aku yang Menang?” Di bawah judul “Hal-hal yang Baik”, poster ini menggambarkan sang Führer berkata, “TIDAK akan ada Israel dan TIDAK akan ada darah orang Palestina yang tertumpah. Jawabannya, tebaklah sendiri.”
Bagaimana mungkin orang Arab bisa mengklaim bahwa dirinya melawan Nazisme sementara dia bekerja sama dengan Hitler? Jawabannya, tebak sendiri.
Aku muak dengan inspirasi dari Hitler yang digunakan oleh para ahli taktik ini. Bukanlah sebuah kebetulan jika kartun-kartun yang disebarkan di Durban, memampang gambar tentara Israel yang bergigi vampir dan meneteskan darah. Terlalu banyak kaum intelektual, jurnalis, dan politisi muslim Arab yang mencekoki pembacanya bahwa kaum Yahudi adalah Nazi, sebab mereka menyedot darah anak-anak non-Yahudi untuk upacara keagamaan mereka. Dikenal sebagai fitnah-darah ( blood libel), fiksi ini juga merupakan fitnah favorit terhadap kaum Yahudi dalam publikasi Nazi, Der Stürmer. Dengan cara ini pula, sejumlah pemfitnah Israel telah berbulan madu dengan Hitler. Mereka menjiplak para Nazi dalam rangka melawan apa yang mereka sebut sebagai Nazisme. Bingung aku dibuatnya.
Dan ketidaklogisan mereka diikuti oleh beberapa eselon diplomatik tertinggi. Menteri pertahanan Suriah pun mempublikasikan buku-buku dan film yang mencap Yahudi sebagai kaum pengisap darah. Ya, pengisap darah dalam makna yang sesungguhnya, bukan dalam arti metaforis. Tapi, jauh dari keharusan menjelaskan negaranya pada Konferensi PBB melawan rasisme, Suriah duduk di komisi hak asasi manusia PBB dari tahun 2001 sampai 2003, di mana keanggotaan semua negara dalam komisi itu terus dirotasi. Siapkah Anda membunuh orang yang terluka? Israel adalah satu-satunya negara yang dikritisi dalam dokumen yang dipresentasikan di konferensi resmi PBB melawan rasisme. Kenapa mereka buta terhadap kenyataan di lapangan?
Pada akhirnya, aku percaya bahwa ini bergantung pada bagaimana Anda mendefinisikan Zionisme. Bagi para pendukungnya, Zionisme mewakili kepulangan kembali sekelompok orang yang secara historis teraniaya dan secara geografis tercerai berai. Tetapi bagi para penentangnya, Zionisme adalah rasisme—sebuah ideologi yang diinkubasi oleh kaum Yahudi Eropa kaya yang mengambil manfaat dari sebuah asumsi bahwa “bangsa pilihan” Tuhan bisa mencuri harta kekayaan dan memperbanyaknya melalui Hukum Kembali yang diskriminatif ( a discriminatory Law of Return). Hukum itu berlaku bagi mereka yang memiliki trah eksklusif dan istimewa: keturunan Yahudi. Sebagaimana halnya Third Reich yang menyatakan kemurnian ras Arya, demikianlah Israel yang eksis untuk memelihara privilese biologis orang Yahudi.
Marilah kita membicarakan hal tersebut. David Matas, pengacara hak asasi manusia internasional yang terkenal, menyatakan bahwa: Adalah hal aneh menyamakan Zionisme dengan rasisme. “Kaum Yahudi memiliki berbagai warna,” ujarnya. “Ada kaum Yahudi kulit hitam—Falashas—yang, di bawah Hukum Kembali, diterbangkan dari Ethiopia ke Israel.” Yang menyentakku untuk berpikir adalah: Jika para aktivis pro-Palestina mau sedikit berpikir sedikit akurat daripada sekadar semangat berapi-api, kartun-kartun mereka tentunya akan menjelek-jelekkan tentara Israel berkulit cokelat. Dan yang berkulit hitam. Mengapa semua kejahatan selalu ditimpakan kepada kulit putih? Pertanyaanku mengarah ke pertanyaan lebih besar yang diajukan oleh Matas: Dapatkah Hukum Kembali, yang melintasi semua ras, secara legitimate dicap sebagai “rasis”? Hal yang adil. Tapi aku juga sadar bahwa di Israel, seorang tentara Yahudi Ethiopia berumur delapan belas tahun bisa menanyakan kartu identitas seorang Arab berumur enam puluh tahun. Orang Arab dan keluarganya telah memanen Tanah Suci selama beberapa generasi dan sekarang harus gemetar ketakutan di hadapan seorang anak yang baru berada di Israel selama delapan bulan. Aku bisa memahami mengapa orang Arab merasa terhina. Pandangan orang Arab ini juga adalah hal yang wajar. Lalu, apanya yang salah?
Ketika sampai pada masalah kewarganegaraan, Israel memang melakukan diskriminasi. Dalam hal bahwa sebuah kebijakan affirmative action melakukan diskriminasi, Israel memberikan keistimewaan kepada minoritas spesifik yang telah mengalami ketidakadilan sejarah. Dari sudut pandang itu, negara Yahudi adalah sebuah pemerintahan affirmative action. Kaum liberal sepatutnya menyukai hal tersebut.
Apakah affirmative action Israel bisa disejajarkan dengan Nazisme? Tunggu dulu. Sebagai seorang muslim, aku bisa menjadi warga negara Israel tanpa harus mengganti agamaku; itu akan terjadi melalui proses naturalisasi, bukan melalui Hukum Kembali, tapi pasti akan terjadi. Lagi pula, Israel adalah satu dari sedikit negara yang memberikan tempat perlindungan, lalu kewarganegaraan, kepada manusia perahu Vietnam yang mencari suaka politik di akhir tahun 1970-an. Aku tak perlu bertanya-tanya berapa nilai Suriah dalam perbandingan seperti itu. Sekarang, sebagai bukti dari kualifikasi-tak-meyakinkan dari Israel sebagai bunker kebencian Hitlerian adalah: Ia merupakan satu-satunya negara di Timur Tengah yang dijadikan tujuan bermigrasi orang-orang Kristen Arab. Keberadaan mereka pun berkembang pesat; di universitas jumlah mereka lebih tinggi daripada muslim Arab dan secara umum menikmati kesehatan yang lebih baik daripada orang Yahudi sendiri.
Negeri yang dua kali dijanjikan ini memang kompleks. Kaum Yahudi Israel berjuang bersama-sama dengan masing-masing orang, terlepas dari percekcokan dengan kaum Arab. Tidak terlalu bermanfaat untuk menunjukkan siapa yang baik dan siapa yang jahat. Pertanyaan yang lebih baik mungkin adalah: Siapa yang mau mendengarkan apa yang mereka tidak mau dengar? Negara Yahudi menegosiasikan ketegangan secara terbuka. Israel memberikan lebih banyak perasaan kasih terhadap “kolonisasi” daripada yang diberikan oleh musuh-musuhnya dalam menuju “pembebasan”. Itulah yang merupakan demokrasi sejati. Adakah indikasi demokrasi yang tampak di negara-negara Islam saat ini?
Jika imperialisme Israel bukanlah tutup-penyumbat botol yang berisi jin demokratsi kita, Anda mungkin ingin mengatakan padaku bahwa Amerika Serikatlah tutup-penyumbat itu. Lupakanlah para Islamis ekstrem; tak terhingga banyaknya muslim berpikiran reformis pun menunjuk bahwa Amerika-lah “biangnya”. Sungguh satu kesimpulan yang menyejukkan, ada apa dengan AS yang dihinakan dari berbagai arah. Tetapi, di balik semua kutukan terhadap AS, sesungguhnya tersembunyi kekaguman kaum muslim kepada Amerika.
Aku akan membawa Anda kembali ke Israel sebentar. Mengelilingi pasar di lapak-lapak kaum muslim di Yerusalem, aku menyaksikan pemandangan surealis. Di atas kepalaku, tersaput warna oranye dan hitam Halloween, terdapat iklan Holy Rock Café. Corak logonya sangat mirip dengan Hard Rock Café. Bukan sebuah franchise, bukan pula knock-off. Hanya sebuah rumah makan yang tak terpelihara dan tak dihias. Meskipun begitu, ia menggunakan simbol dari Amerika! Seseorang memberitahuku bahwa CIA menyuruh restoran itu agar tidak memakai logo itu.
Thomas Friedman, seorang kolumnis masalah luar negeri untuk New York Times, memiliki pengalaman yang mirip di Doha, Qatar. Berjalan-jalan di sebuah kawasan yang dia harap sebagai pemandangan Qatar yang otentik, dia lalu “menikung ke satu sudut dan tiba-tiba muncullah di depanku, seperti noda raksasa di cakrawala: Taco Bell.” Bahkan yang lebih mengguncangkan lagi, ujar Friedman, “ Tempat itu penuh sekali!”
Lihat ke mana aku menuju? Ketika kaum muslim mengutuk imperialisme Amerika, Tuhan tahu bahwa kita tidak sedang membicarakan imperialisme budaya. Nyatanya, jika diberikan pilihan apakah menolak atau menerima budaya populer Barat, kebanyakan kaum muslim dengan riang gembira akan menerima dan mempraktikkannya. Mereka yang kaya akan memasukkan anak-anaknya ke sekolah-sekolah di Amerika Utara dan Eropa.
Seorang kolumnis menulis panjang lebar tentang hal tersebut di mingguan Pakistan, DAWN: “Dengarkan seorang intelektual, mullah, atau politisi muslim dan Anda akan mendengar serangkaian keluhan dan hujatan terhadap dosa-dosa Barat. Lalu tanyakan padanya ke mana dia ingin mengirim anak-anaknya kuliah dan, jika dia jujur, dia akan menyebutkan sederetan nama universitas top di Amerika. Dan jika dia mempunyai jabatan strategis di negerinya, dia akan berusaha mati-matian agar pejabat Amerika bisa melakukan campur tangan demi meloloskan anaknya ke perguruan tinggi Amerika yang terkenal. Bahkan, dia akan melakukan sumpah palsu untuk mendapatkan bantuan dana bagi keturunannya, dengan cara menyatakan bahwa dirinya atau perusahaannya mengalami kebangkrutan.” Amerika harus hancur! Tapi jangan hancur sebelum anakku lulus kuliah dari sana.
Ada juga pengalaman di luar bidang pendidikan. Jauh lebih banyak keluarga muslim yang berlibur ke Barat daripada ke negeri-negeri Islam. TV Al-Jazeera menayangkan iklan-iklan parfum dan membeli program-program acara dari Amerika. Di jaringan TV saingan Al-Jazeera, the Middle East Broadcasting Centre, rating acara Who Wants to Be A Millionaire begitu tinggi. Pada masa pra-internet, para wartawan di kawasan ini beramai-ramai meminta untuk membaca surat kabar Barat sebagai bahan untuk menulis laporan independen. Mereka mendambakan pekerjaan yang membuat diri mereka berada dalam risiko mendapatkan standar-standar profesional. Lebih jauh lagi, bisa-bisanya botol Pepsi mengotori jalan setapak menuju Gua Hira, tempat Nabi Muhammad konon memperoleh wahyu pertama dari Tuhan.
Nora Kevorkian, seorang teman yang membuat film dokumenter Veils Uncovered, di dalam pita videonya memuat gambar ini: Di pasar Damaskus, para perempuan yang terbungkus jubah hitam membeli pakaian-dalam seronok produksi Amerika. Sepasang celana-dalam listrik bergambar Burung Tweety yang bisa bernyanyi. Celana lain bergambar Bugs Bunny yang memanggil kita dengan “Kiss me”. Celana yang ketiga bernada “We Wish You a Merry Christmas”, itu belum termasuk baterainya. “Setiap orang membelinya,” penjualnya merasa antusias dengan barang-barangnya. Who Wants to Be A Millionaire?
Begitulah keterpukauan orang Islam terhadap budaya Barat. Baru-baru ini, para mullah di banyak tempat di Timur Tengah mengecam Pokemon ( video game anak-anak) sebagai istilah Jepang untuk “Aku Yahudi”. Seorang pejabat Saudi mengaitkan “Kegilaan terhadap Pokemon” dengan “rencana jahat Yahudi yang bertujuan memaksa anak-anak kita melupakan keyakinan dan nilai-nilai mereka dan mengalihkan mereka dari hal-hal yang lebih penting seperti semangat keilmuan”. Ikon kecil buat simbol ketidakbermoralan—dan aku bukan mengacu kepada para mullah—dilarang oleh sebuah fatwa.
Sekarang waktunya bagi kita untuk menguak masalah lebih dalam. Kenyataan bahwa begitu banyak kaum muslim menyukai pengaruh Amerika merupakan penyebab mengapa mereka juga begitu geram terhadap Washington. Ini bukanlah kecemburuan, namun lebih kepada hubungan yang tak berbalas. Karena dari semua produk yang dipasarkan Amerika di masyarakat muslim, produk yang paling bagus, layanan yang paling baik—yaitu kebebasan—tetap kurang dipromosikan. Beberapa orang Amerika akan garuk-garuk kepala melihat hal ini. Mereka terheran-heran sebab mereka tidak memperoleh pujian setelah membebaskan Kuwait dan melindungi Arab Saudi dari senjata kimia Saddam Hussein di tahun 1991. Disebabkan kebanyakan orang Arab yakin bahwa AS hanya menyelamatkan keluarga kerajaan, bukan rakyat—“sebuah perbedaan besar,” tulis Fareed Zakaria, editor Newsweek International. “Bahkan di negara-negara Teluk yang kaya, seseorang akan tetap merasa frustrasi dan geram karena ia diberi sejumlah kekayaan tapi tidak diberi hak untuk bersuara—terkurung dalam sangkar emas.”
Dan kadang-kadang sangkarnya tidak terlalu emas juga. “Sangat menggangguku ketika melihat dunia hidup dalam kebebasan, sesuatu yang tidak kami miliki,” gerutu seorang istri-yang-tertawan-di-rumah dalam acara Veils Uncovered. “Kenapa hidup kami begitu berbeda dengan hidup mereka?” Dia dengan gugup namun pasti menyingkap jubahnya di depan kamera. “Penting bagi dunia untuk melihat bagaimana kami menjalani hidup kami.”
Negaranya, Suriah, melakukan bisnis dengan Amerika Serikat—bisnis kotor yang juga dilakukan negara muslim lainnya. Washington mengontrak mereka untuk menyiksa para tahanan politik yang dicurigai sebagai teroris. Dengan cara seperti itu, Amerika bisa mengklaim catatan hak asasi manusia yang relatif tanpa noda. Masalahnya adalah, mereka yang mudah terjaring bersama-sama dengan mereka yang disiksa oleh Suriah dan teman-temannya adalah para aktivis hak asasi manusia. Tidak ada kejutan di sana: Bagi rezim Arab otoriter yang bersekutu dengan Amerika, para pembela hak asasi manusia adalah musuh. Mengapa Amerika tidak berkoar-koar membela mereka yang kesepian ini, yang sering mengambil risiko atas nyawa mereka sendiri, atau menjadi cacat karena mempromosikan cita-cita demokrasi yang dituntut oleh Washington sebagai suatu keharusan? Kaum muslim pencinta reformasi harus bertanya-tanya, apakah Amerika bersama kita—atau bersama para diktator?
Presiden George Walker Bush menangkis pertanyaan itu pada bulan Juni 2002. “Dalam bantuan pembangunan kami, dalam usaha-usaha diplomatik kami, dalam siaran internasional kami, dan dalam bantuan pendidikan kami, Amerika Serikat akan mempromosikan moderasi dan hak asasi manusia,” ujarnya, saat berbicara di West Point Military Academy. Bulan berikutnya, ketulusannya diuji oleh salah satu negara klien terbesar Washington: Mesir.
Pada bulan Juli 2002, Saad Eddin Ibrahim masuk ke penjara untuk kedua kalinya dalam beberapa tahun. Hukuman tujuh tahun penjara dengan kemungkinan kerja paksa “hampir sama dengan putusan kematian” bagi kaum liberal sipil di Mesir, kata The Cairo Times. Masalah apa tepatnya yang mengantar profesor sosiologi berumur enam puluh lima tahun ini ke penjara, tetap tidak jelas. Dia telah menjadi teman lama presiden Mesir, Hosni Mubarak, membimbing tesis Nyonya Mubarak dan menulis pidato bagi wanita itu. Ibrahim membawakan acara TV mingguan tentang pembangunan sosial, melakukan riset mendalam tentang motif kaum militan muslim dan mewakili Mesir pada konferensi internasional tentang hak asasi manusia. Tapi, semuanya itu terjadi sebelum tanggal 30 Juni 2000—malam penahanannya yang pertama. Selama dua puluh empat bulan kemudian setelah masa tahanan yang lama, masa-masa persidangan, dan tugas-tugas di penjara, menjadi jelas baginya bahwa “mereka yang telah kubuat marah memutuskan untuk melenyapkan Saad Eddin Ibrahim dari kehidupan publik Mesir.”
Kemarahan yang membakar musuhnya mungkin telah menyala sejak pertengahan 1990-an. Sebagai kepala Ibnu Khaldun Center for Development Studies di Kairo, Ibrahim merasakan sebuah kewajiban untuk menyelimuti aktivitasnya dengan spirit nama Pusat Studi tersebut: Ibnu Khaldun. Di antara kaum intelektual terakhir yang mencuat di zaman keemasan Islam, Ibnu Khaldun mengubah sejarah dan sosiologi menjadi disiplin ilmu yang disegani. Di bahu sang pelopor ini, Ibrahim mendasarkan dirinya, setidaknya bagi dunia muslim Arab—pada tahun 1994. Dia mengorganisasi sebuah konferensi tentang hak-hak kaum minoritas.
Pada saat itu, Mesir berpegang pada hukum yang mengharuskan orang Kristen Koptik memperoleh izin presiden terlebih dulu sebelum memperbaiki gereja mereka. Melawan pendapat resmi pemerintah, bahwa kaum muslim hidup dalam harmoni tak terpisahkan dengan kaum Kristen, Ibrahim menganggap kaum Koptik sebagai minoritas yang menderita di bawah penganiayaan pemerintah. Ini Serangan Pertama. Setahun kemudian, dia dan para pembela demokrasi lainnya memonitor pemilihan parlemen Mesir. Mereka mengekspos satu penipuan terselubung yang sebelumnya tidak terpikirkan, karena negara itu dicitrakan sebagai oasis pencerahan dunia Arab. Ini Serangan Kedua. Penemuan Ibrahim memberikan pertanda ke mana Mesir sedang meluncur cepat: despotisme yang korup sebagai pengganti demokrasi yang lemah.
Aku tak mau menjadi naif dalam hal demokrasi. Aku tahu bahwa Mesir harus bersikap keras terhadap para fanatik muslim yang membunuh Presiden Anwar Sadat di tahun 1981. Itu adalah saat ketika Mesir mengadopsi Hukum Darurat, di mana ribuan Islamis ekstrem dipenjarakan selama dua dekade hingga sekarang. Banyak pihak yang melayangkan ancaman: Pada suatu sore di hari Jumat tahun 1994, novelis Mesir pemenang Nobel, Naguib Mahfouz, masuk dan duduk di dalam mobilnya. Sejumlah preman muda religius mengambil keuntungan dari jendela yang terbuka dan menusukkan sebuah pisau dapur ke leher Mahfouz.
Kakek delapan puluh dua tahun itu beruntung karena hanya mengalami lumpuh di lengan. (Sungguh beruntung “hanya” menderita seperti itu.) Sebuah penyelidikan kemudian melaporkan bahwa calon pembunuh Mahfouz menguntit dia karena sebuah buku yang dia tulis tiga dekade sebelumnya. Tokoh-tokoh dalam bukunya mengingatkan para pembaca pada figur-figur dalam sejarah Islam. Para penyerang mengubah bahasa alegori menjadi kenyataan dan menghukum Mahfouz atas interpretasi para pembaca terhadap karya-karyanya. Sebentar, tapi jika itu menjadi alasan untuk mencederai (mungkin juga membunuh), itu juga menjadi alasan yang sama bagi pasukan keamanan untuk menghabisi para berandalan itu.
Yang disoroti Ibrahim adalah cara Hukum Darurat ini telah dieksploitasi untuk tujuan-tujuan jahat. Pemerintah Mesir memainkan peran sebagai pejabat yang sangat berorientasi hukum, sehingga kaum muslim konservatif bisa ditenteramkan. Akibatnya, negara mengkategorikan kelompok modern agama ini sebagai militan.
Ada kasus absurd yang menimpa seorang profesor Universitas Kairo bernama Nasr Hamed Abu-Zeid. Dia menulis sebuah buku yang berargumen bahwa makna teks-teks suci bisa menjadi “lebih manusiawi” bahkan ketika ayat-ayatnya tetap tidak berubah. Dia menyerahkan bukunya kepada sebuah komite akademik yang me- review aplikasinya untuk promosi. Si profesor yang tidak menaruh curiga dengan cepat mendapat tuduhan “murtad”. Para pengacara Islamis mengajukannya ke pengadilan, menuntut agar orang kafir itu menceraikan istrinya. Pada tahun 1995, kaum Islamis menang. Menteri Keadilan Mesir memiliki kekuasaan untuk menolak putusan pengadilan tersebut dan sampai sejauh ini, dia belum menolaknya. Pasangan yang diburu ini sekarang tinggal di Belanda, di bawah perlindungan negeri ini pula Abu-Zeid menuntut balik Menteri Keadilan Mesir.
Melalui itu semua, Saad Ibrahim menegaskan sebuah koneksi penting: “Masyarakat yang membatasi ruang bagi warganya untuk berpartisipasi dan mengekspresikan perbedaan pada akhirnya akan mengembangbiakkan respons yang gila, marah, dan mematikan”. Dengan kata lain, kelompok Islamis mendulang pengikut setia yang haus darah jika perwakilan politik yang adil tidak eksis lagi. Dan perwakilan itu memang tidak ada, tuding Ibrahim. Sementara itu, pemerintah yang terus memonitor kelompok muslim liberal mungkin melegakan kelompok konservatif yang merasa dirinya didengar.
Tetapi, kenyataan sesungguhnya adalah: Pemerintah Mesir hanya ingin menjaga kekuasaannya sendiri dengan menjalankan sistem pemerintahan yang oligarkis. Lima tahun setelah Ibrahim menyuarakan sirene demokrasi yang berangsur-angsur sayup, Washington Quarterly mempublikasikan hasil pengamatan ini tentang Mesir: “Di sebuah negara yang memberikan mandat bahwa separuh jumlah anggota parlemen harus terdiri dari petani atau buruh, konfigurasi saat ini miring ke satu elite kecil.” Itu pada tahun 2000.
Tahun 2000 terbukti terasa aneh, baik untuk Ibrahim maupun untuk negara demokrasi Mesir. Dia baru saja kembali dari Washington—di mana satu kelompok pengawas hak asasi manusia merayakan komitmen dirinya dalam memperjuangkan kebebasan—ketika kekerasan pecah antara kaum muslim dan kelompok Kristen Koptik di Mesir Atas. Sekitar dua lusin orang mati, banyak orang terluka, dan ratusan toko dan rumah dijarah. Dari lima puluh benturan antar-sekte yang pernah terjadi sebelumnya, Ibrahim menilai kejadian ini sebagai “yang paling buruk dan paling besar”. Karena itu, dia mengumpulkan sekitar lima ratus tokoh publik untuk menandatangani sebuah pernyataan, disertai dengan saran-saran kebijakan untuk mengakhiri “pola-pola perselisihan antar-sekte yang sedang bermunculan”.
Menurut Ibrahim, pemerintahan Mubarak menanggapi usahanya ini sebagai “tantangan nyata terhadap pemerintah. Mempublikasikan masalah sektarian yang serius dianggap mengotori seluruh wajah Mesir yang sempurna dan toleran. Itu sebuah tindakan kriminal yang bisa dijatuhi hukuman—segera kami mengetahuinya—yang pernah diterapkan pada tahun 1920-an. Hukuman itu tidak pernah digunakan untuk menuntut (seorang) warga Mesir sebelumnya.”
Ibrahim belum akan ditangkap untuk beberapa bulan. Sementara itu, dia dan kolega-koleganya di Ibnu Khaldun Center tetap sibuk melatih para mahasiswa cara-cara mencatat pelanggaran hak asasi manusia dan mengawasi pemilu. Dalam persiapan untuk pemilihan nasional, profesor Ibrahim bekerja satu tim dengan seorang pencatat lagi, dramawan Ali Salem, untuk memproduksi sebuah video tentang mengapa orang Mesir harus menyalurkan hak pilihnya. (Jika ada orang yang mampu membuat pelajaran politik menjadi hiburan, dialah si cerdik Salem yang terkenal di seantero Mesir. Salah satu bukunya, A Drive to Israel, menangkap nuansa kemanusiaan negara Yahudi dan membuat dia dilempar keluar dari Serikat Penulis Arab. Di Mesir, A Drive to Israel menjadi bestseller). Di tengah itu semua, Ibrahim juga memberikan wawancara. Dalam wawancara itu, secara tersirat dia menyatakan bahwa Mesir tengah beroksidasi menjadi satu lagi dinasti keluarga Arab. Serangan Ketiga, Keempat, dan Kelima.
Pada suatu sore tanggal 30 Juni 2000, aparat menangkap Ibrahim dan dua puluh tujuh orang dari Ibnu Khaldun Center dan League of Egyptian Women Voters. Penawanan selama empat puluh lima hari mengarah kepada pemeriksaan pengadilan di Pengadilan Keamanan Negara, sebuah peradilan bergaya militer yang beroperasi di luar aturan prosedur hukum yang berlaku. Jaksa penuntut mengais-ngais kasus. Pertama, mereka menuduh Ibrahim menyalahgunakan uang yang diterima dari Uni Eropa untuk video yang dibuat demi kepentingan diri sendiri. Tapi Uni Eropa menyatakan bahwa Ibrahim bersih dari semua tuduhan itu. Kemudian, jaksa penuntut berargumen bahwa dia tidak seharusnya menerima dana dari luar—sebuah pemikiran yang “patut ditertawakan,” ujar seorang wartawan Arab, mengingat bahwa pemerintah Mesir bertahan hidup dengan bantuan asing. Terlepas dari itu semua, pengadilan menjatuhkan hukuman kepada dua puluh delapan tertuduh itu. Ibrahim divonis penjara tujuh tahun.
Sepuluh bulan menjalani hukuman, sepanjang masa itu ia mengalami beberapa kali stroke ringan, Ibrahim mendengar kabar bahwa pengadilan ulang untuknya akan digelar. Mungkinkan keadilan akhirnya menang? Putuskanlah sendiri. Saat pengadilan kedua berjalan di musim panas 2002, anggota parlemen Mesir memaksakan sebuah aturan yang sangat membatasi aktivitas kelompok-kelompok non-pemerintah. Kembali ke pengadilan, sekarung tuduhan terhadap Ibrahim dan teman-temannya tampaknya bertumpu pada sebuah tuduhan—bahwa mereka, khususnya dia sebagai pemimpin gerombolan, telah “merusak” reputasi Mesir di luar negeri. Pengadilan diakhiri pada bulan Juli 2002 dengan hukuman penjara bagi lima dari dua puluh delapan tertuduh. Sekali lagi, Ibrahim divonis tujuh tahun penjara. Alasan resminya: Beberapa dekade silam Ibrahim dituduh melancarkan pernyataan-pernyataan bahwa pemerintah menindas kelompok Kristen Mesir.
Seandainya strategi pemerintah hanya didasarkan pada keyakinan, Presiden Bush pasti akan memprotes secara publik dan menekan Mubarak. Kelompok minoritas agama di Mesir berusaha membutuhkan pejuang tak kenal lelah seperti Ibrahim. Tetapi jauh di balik itu, Ibrahim menyajikan sebuah ujian sempurna terhadap tujuan-tujuan kebijakan asing yang dinyatakan oleh Bush: moderasi dan hak asasi manusia. Satu hal yang sudah pasti, kesehatan Ibrahim—sudah telanjur rusak oleh masalah jantung—memburuk di penjara. Terlebih lagi, Ibrahim memiliki istri orang Amerika dan dia juga warga negara AS lewat proses naturalisasi. Melindungi warganya dari bahaya adalah sesuatu yang harus dilakukan oleh presiden Amerika, bukan? Akhirnya, di bawah perjanjian damai dengan Israel, Mesir mereguk keuntungan hampir dua miliar dollar dari bantuan AS setiap tahun. Itu berarti sepuluh persen dari seluruh budget bantuan asing AS. Atas dasar ini saja, salah satu media Washington yang paling konservatif mendorong Bush untuk menerapkan “kontrol yang ketat terhadap Mesir” dan menjamin pengampunan bagi Ibrahim. Bush bisa melakukan lebih jauh lagi daripada yang telah dilakukannya.
Berikut ini adalah seberapa jauh Bush telah melakukannya: Pada bulan Agustus 2002, dia menahan kenaikan bantuan sejumlah 130 juta dollar yang telah direncanakan bagi Mesir. Dalam kata keputusannya, Bush mencakupkan surat keprihatinan tentang tuduhan terhadap Ibrahim. Ternyata itu bukan hal yang sepele. Di Mesir, para birokrat dan intelektual marah sekali atas campur tangan Bush. Namun, seratus orang Arab dari seluruh dunia mengikuti jejak Bush dan mengirimkan surat kepada Mubarak untuk mendukung Ibrahim. Beberapa bulan kemudian, pemerintah Mesir mengumumkan bahwa Ibrahim memenuhi syarat untuk menjalani pengadilan ketiga dan kemudian membebaskannya. Pada bulan Maret 2003, pengadilan menyatakan Ibrahim tidak bersalah untuk selama-lamanya. Secara langsung atau tidak, Bush memperoleh beberapa keuntungan atas kontrolnya terhadap Mubarak, dan kita mesti memberikan pujian kepada presiden AS karena menerapkan salah satu aksioma favoritnya: Ketika kau memiliki modal politik, maka gunakanlah atau kau akan kehilangan modal itu.
Lalu mengapa Bush tidak secara terbuka menuntut pemberian maaf kepada Ibrahim, yang dengan begitu berarti memberikan pesan kepada sekutunya—dan seluruh dunia Islam—bahwa demokrasi bukanlah kejahatan? Satu kata, menurut para kritikus: Irak. Awan perang tengah berkumpul melawan Irak, dan Amerika mesti merayu Mesir untuk turut serta. Mungkin secara tidak adil, banyak kaum muslim mengejek bahwa Bush akan melakukan tindakan militer yang serampangan bagi demokrasi di Irak, tapi tetap akan bersikap lunak ketika berhadapan dengan Mesir. Selain itu, Tuan Presiden, kami menikmati pidatomu di hadapan para lulusan West Point tahun 2002.
Ini yang membawaku kembali ke titik perhatianku: Amerika sesungguhnya tidaklah begitu dibenci oleh kaum muslim—ia dicintai pada saat dibutuhkan. Lebih banyak bukti muncul pada musim semi 2003.
Ketika patung Saddam mencium tanah, sorak-sorai kegirangan yang liar membahana di kota Baghdad. Pada hari-hari sesudahnya, aku pergi ke sebuah pesta kemenangan di Toronto yang diorganisasi oleh kaum muda muslim. Kebanyakan dari mereka adalah sekuler. Beberapa dari mereka berkata bahwa mereka merasa aneh karena banyak kaum muslim yang tidak mencegah serangan atas Saddam. Aneh, kata mereka, karena pencegahan adalah strategi yang telah digunakan oleh Nabi Muhammad untuk mengusir mereka yang dicurigai bersekongkol melawan Islam. “Jika perang pencegahan baik untuk kaum muslim pada masa itu,” seseorang yang sedang merayakan kemenangan menjawab, “kenapa tidak baik untuk Amerika di masa sekarang?”
“Karena standar perilaku telah berevolusi sejak abad ke-7,” kataku, memainkan peran sebagai pihak yang kontra.
“Katakan hal itu kepada negara-negara Islam yang masih memperlakukan perempuan seperti comberan.”
“Dan membuat hidup serasa di neraka bagi minoritas agama,” aku menambahi. Yang lain turut serta. Kami mengekspresikan rasa muak karena para aktivis “anti-perang” muslim tetap terkunci mulutnya menyaksikan perang melawan segala jenis manusia yang dilakukan atas nama Allah. Seraya bertukar pengamatan, menjadi jelas bagi kami bahwa kaum muslim punya pilihan yang bisa diambil: mengakui bahwa serangan pencegahan Nabi Muhammad terhadap kaum Yahudi adalah salah secara moral, dalam kasus di mana kaum muslim memiliki kredibilitas ketika menghantam doktrin Bush. Atau menerima bahwa apa yang dilakukan Nabi memang perlu dan dituntun oleh Tuhan, dalam kasus di mana hal yang sama bisa kita ucapkan untuk Bush, seorang Kristen yang memiliki komunenya sendiri dengan Tuhan. Kaum muslim tidak bisa melakukan keduanya sekaligus. Itu yang disebut dengan standar ganda. Bukankah hanya orang Amerika yang menerapkannya?
Akan selalu ada kelanjutan dari kelompok anti-Amerika dan isolasionis, muslim dan non-muslim, yang ingin agar Washington tidak ikut campur. Namun demikian, banyak kelompok muda muslim yang kuajak berbicara, bahkan sebelum pesta ini, ingin agar Washington turut serta—terus campur tangan—atas nama hak asasi manusia. Jika mereka bisa mengatakan hal tersebut tanpa harus terkucilkan, mereka akan mendesak Amerika untuk menggunakan pengaruhnya dan membantu mengubah realitas-realitas berikut ini:
v Di Tunisia dan Aljazair, perempuan muslim tidak bisa secara hukum menikah dengan laki-laki non-muslim. Laki-laki, sebaliknya, dapat. Di kebanyakan negara muslim perkosaan dalam perkawinan, kalaupun diakui, tidak dianggap sebagai kejahatan.
v Arab Saudi baru-baru ini menangkap seorang lelaki berusia sembilan puluh empat tahun, menyatakannya sebagai tawanan politik paling tua di dunia, meskipun dia dibebaskan dua minggu kemudian. Syekh Mohamed Ali Al-Amri, seorang imam Syiah yang terkenal di Madinah, menghina penguasa Saudi dengan menerima beberapa pengunjung Syiah di tempatnya. Mereka datang untuk shalat. Seperti kelompok Kristen Koptik di Mesir, kaum muslim Syiah di Arab Saudi ditindas secara hukum.
v Mayoritas pengungsi di dunia berasal dari negara-negara Islam. Tak mengherankan, karena kebanyakan perang sipil di dunia menghebat di kalangan muslim. Kata wartawan Iran Amir Taheri, “Negara-negara Arab telah melakukan tidak kurang dari lima belas perang, baik terbuka maupun tertutup, sejak tahun 1930-an…” Selama sepuluh tahun terakhir, kelompok Islamis dan musuh sosialis mereka telah membantai seratus ribu orang Aljazair. Pada bulan Februari 1982, tentara Baath dari Hafez Assad di Suriah membombardir sebuah kota yang menampung kelompok ekstremis muslim. Para penjahat Assad telah melenyapkan dua puluh lima ribu orang. Dan sejak tahun 1975 hingga 1990, perang sipil Libanon dibayar setidaknya dengan 150.000 nyawa, kebanyakan adalah orang Palestina. Jumlah itu lebih dari sepuluh kali lipat kematian yang diciptakan Israel selama lima puluh tahun peperangan.
Jika merasa malu untuk mengakui hal-hal tersebut, wahai teman-teman muslimku, jangan membaca fakta itu. Karena kita tahu bahwa kita tidak bisa menyalahkan Amerika atas penyakit yang kita derita. Kanker itu bermula dari tubuh kita sendiri. Dalam sebuah kolom yang mengulas tentang “kerunyaman” kaum muslim yang dipublikasikan tidak lama pasca-11 September di The Nation, sebuah harian Pakistan, seorang pelaku bisnis Izzat Majeed berbicara tentang “meningkatnya kesadaran” di kalangan muslim “bahwa kita telah gagal sebagai masyarakat sipil karena kita tidak menghadapi setan-setan sejarah, sosial, dan politik dalam diri kita…” Layaknya sebuah fakta bahwa, dalam negaranya yang berpenduduk 140 juta jiwa, hanya tercatat satu juta yang membayar pajak setiap tahunnya. Dengan membiarkan mereka mengabaikan tanggung jawab, tidakkah para penghindar pajak ini memurukkan pemerintahan Pakistan ke jurang kebangkrutan, menguras dana program-program publik seperti pendidikan, dan memberikan peluang bagi berkembangnya pendidikan yang mengarah kepada terorisme, yang telah banyak dilakukan oleh ribuan madrasah?
Apakah kita sadar ke mana bangsa muslim yang multikultural ini akan mengarah? Aku akan memberi tahu Anda. Saat itu tahun 1947. Dalam pidato pertamanya sebagai gubernur jenderal Pakistan merdeka, Muhammad Ali Jinnah memancarkan harapan tinggi bagi rakyatnya. “Kalian merdeka,” teriaknya berkobar-kobar, “Kalian bebas untuk pergi ke kuil kalian. Kalian bebas untuk pergi ke masjid kalian, atau ke tempat ibadah lainnya di negara Pakistan. Kalian mungkin pemeluk agama, kasta, atau kredo tertentu—yang merupakan urusan pribadi dan tidak ada hubungannya dengan urusan negara. Kita memulai dengan prinsip dasar bahwa kita semua adalah warga dari sebuah negara… Kalian akan mendapati bahwa pada suatu saat nanti, kaum Hindu akan berhenti menjadi Hindu dan kaum muslim akan berhenti menjadi muslim, bukan secara agama…tapi dalam hal politik sebagai warga sebuah negara.”
Jinnah memiliki istri non-muslim yang dia puja. Saudara perempuannya, Fatima, sering muncul bersamanya dalam kampanye pembentukan Pakistan. Pandangannya yang jauh ke depan membuka kembali imajinasi kaum muslim akan potensi perempuan sebagai partner daripada sebagai pelayan lelaki. Aku bersikap netral pada fakta bahwa kaum muslim menuntut sebuah negara yang terpisah dari India. Tapi ketika mereka memperoleh kemerdekaannya, setidaknya negara itu berdiri bersama dengan alasan dan janji-janji kebebasan individu.
Satu hal yang memalukan adalah tenggelamnya Pakistan dalam gelombang besar Islam garis keras. Tidakkah begitu? Pada tahun 1977, sebuah kudeta militer yang didukung oleh AS memenangkan Jenderal Ziaul Haq, yang mencintai golf, tenis dan orde absolut. Untuk memperkuat cengkeramannya yang lemah, orang kuat ini membentengi dirinya dengan para mullah penjilat yang menganggap dirinya sebagai “Pemimpin orang-orang yang beriman”, sebuah istilah yang dikhususkan bagi para pengganti Nabi Muhammad. Untuk mengikat para kepala desa, Zia mencampurkan pemahaman Islam yang punitif (bersifat suka menghukum) dengan adat kebiasaan suku-suku setempat. Dengan cara ini, hukum rajam muncul sebagai hukuman legal atas perzinaan, dan dipersyaratkan bahwa perkosaan harus disaksikan oleh 4 laki-laki sebelum seorang pelaku bisa dikenai tuduhan. Tapi bagaimana seandainya perkosaan tidak diperkuat saksi 4 laki-laki? Maka perkosaan itu menjadi kasus perzinaan, yang menimpa perempuan, dan dengan begitu dia dijatuhi hukuman rajam!
Pada tahun 1979, kira-kira bersamaan dengan hukum-hukum itu mulai menyengsarakan rakyat Pakistan, Abdus Salam dari Pakistan berbagi hadiah Nobel di bidang fisika dengan dua orang Amerika. Anda akan berpikir bahwa negara ini akan memuja dia sebagai pahlawan negara. Namun, sebaliknya, para perusuh justru berusaha mencegahnya masuk kembali ke Pakistan. Sebuah undang-undang yang dikeluarkan parlemen bahkan merampas kewarganegaraannya. Apa kejahatan Salam? Karena dia penganut Ahmadiyah—sebuah sekte minoritas dalam Islam. Itu saja. Itulah yang membuat seorang ilmuwan muslim yang diakui secara internasional di-persona non grata di negeri kelahirannya sendiri.
Aku mendapatkan penjelasan lain tentang Abdus Salam dari seorang sopir taksi Toronto bernama Ahmed. Mempercayai aku sebagai “Muslim on TV”, dia meratapi “bagaimana orang muslim bisa saling membunuh”, lebih cenderung pada “suku bangsa” daripada pada “kasih sayang”. Kasih sayang! Aku belum pernah mendengar seorang lelaki muslim mengucapkan kata “kasih sayang”. Orang ini pastilah berbeda. Maka aku pun bertanya lebih jauh. Ternyata sopir taksi itu pun seorang Ahmadiyah. Aku bertanya kepadanya tentang Abdus Salam dengan kemungkinan tipis dia mengenal nama itu. Di kaca spion, aku melihat alis Ahmed terangkat. “Saudara Abdus Salam berusaha untuk mendonasikan uang hadiah Nobelnya kepada pemerintah,” katanya kepadaku. “Dia ingin laboratorium Ilmu Pengetahuan Alam dibangun bagi kaum muda Pakistan. Tapi Zia menolak tawarannya.”
Ahmed menceritakan alasan keduanya kenapa Abdus Salam menjadi pahlawannya: Sebagai anak laki-laki seorang petani, Salam banyak melewati rintangan sepanjang hidupnya. Tampaknya dia belajar sangat keras sehingga, karena minyak lampu di sekolahnya habis, dia belajar di bawah lampu jalanan. Entah betul atau tidak, cerita ini bisa menyalakan nasionalisme yang luar biasa hebat, dan dapat menginspirasi generasi-generasi sederhana Pakistan untuk menjadi orang besar. Alih-alih, pemerintah Pakistan malah mencampakkan Abdus Salam, dan menambahkan lebih banyak lagi modal intelektual untuk menanamkan fanatisme Islam yang sempit.
Prasangka-prasangka Zia tetap hidup sekalipun dia telah meninggal pada tahun 1988. Sejak saat itu, Islamisme ekstrem berkembang pesat, berutang budi sangat besar kepada geopolitik yang kotor. Pada tahun 1989, ribuan mujahidin melawan invasi Soviet atas Afghanistan. Ketika para tentara Arab muslim pulang ke Teluk Persia, pasukan-pasukan Amerika tiba di Arab Saudi untuk melindunginya dari serbuan Irak yang bisa saja terjadi sewaktu-waktu. Pada tahun 1990, Anda tentu ingat, Saddam Hussein menginvasi dan menduduki Kuwait. Orang Saudi takut kalau Saddam akan melakukan hal yang sama terhadap mereka. Tidak ingin mengambil risiko apa pun, mereka meminta Amerika menjaga tanah mereka—dan minyak mereka. Kehadiran Amerika di Arab Saudi bisa menjadi alasan para mujahidin yang tidak punya pekerjaan untuk menyusun sebuah jihad terhadap kerajaan Arab Saudi.
Akan tetapi, uang tebusan Raja Fahd dikeluarkan besar-besaran untuk menghindari hal itu. Petro-dollar mengucur melalui lembaga-lembaga amal Islam dan mendorong pertumbuhan madrasah di wilayah itu secara signifikan. Dari situ Pakistan mendapatkan dana yang sangat besar, dan madrasah-madrasahnya segera menghasilkan alumni elite Taliban. Apa yang dilakukan kelompok kelas menengah Pakistan? Kebanyakan dari mereka membiarkan diri mereka ikut ke dalam arus fundamentalisme yang kejam.
Satu suara tidak setuju datang dari seorang diplomat dan ilmuwan Pakistan, Akbar Ahmed. Pada tahun 1997, dia mulai memfilmkan sebuah biografi epik tentang Jinnah. Menurut Ahmed, “para pejabat penting” dan “warga yang prihatin” di Pakistan mengingatkan dirinya untuk tidak menggambarkan Islam toleran ala Jinnah. Beberapa surat kabar dan partai-partai politik bahkan berhalusinasi bahwa “Salman Rushdie telah menulis skripnya”. Puncaknya, mereka menganggap proyek ini sebagai “bagian dari konspirasi Hindu dan Zionis”. Ahmed tetap memproduksi film itu dan memenangi beberapa penghargaan internasional. Tetapi, sebagaimana Abdus Salam, penghargaan itu pun dipandang sebelah mata oleh negerinya sendiri.
Sejak 11 September, pemimpin Pakistan, Pervez Musharraf telah memberanikan diri dan menyatakan hal yang sudah jelas: Kaum muslim zaman ini “adalah yang paling miskin, paling buta huruf, paling terbelakang, paling tidak sehat, paling tidak tercerahkan, paling kekurangan, dan paling lemah di antara semua ras manusia”. Sungguh kata-kata yang bagus, yang keluar dari seseorang yang mengingkari janji-janji untuk mengeliminasi hukum-hukum yang kejam. Ia telah mengingkari janji untuk memberikan regulasi kepada madrasah-madrasah. Satu hal yang tidak dikatakan oleh Musharraf adalah: Madrasah-madrasah yang dikelola para mullah di negaranya terus melahirkan generasi bodoh.
Akbar Ahmed bisa memberi tahu Anda tentang hal tersebut. Dalam perjalanan baru-baru ini ke Pakistan, dia berkata kepada para guru madrasah tentang pentingnya mempelajari Sigmund Freud dan Max Weber. “Aku berhadapan dengan tatapan-tatapan yang tidak bisa kumengerti. Aku baru menyadari masalah besar yang kuhadapi ketika ternyata aku mendapat respons negatif tentang saranku, bahwa sejarawan muslim seperti Ibnu Khaldun atau penyair sufi Jalaluddin Rumi hendaknya diajarkan kepada anak didik.” Sungguh bukan kejahatan bangsa Barat kenapa kaum muslim tetap bertahan dalam kepicikannya. Penjahatnya adalah kaum muslim sendiri.
Dengan cara yang sama, orang Amerika juga perlu belajar bahwa mereka punya kepentingan untuk “berada di sana” demi menciptakan iklim demokrasi sebelum krisis berikutnya meletus. Cermatilah bagaimana perhatian Amerika bisa menyelamatkan jutaan orang tak berdosa dari kekejaman Taliban, lupakanlah Al-Qaeda. Kita semua telah mendengar bahwa Presiden Ronald Reagan menghambur-hamburkan pujian dan senjata kepada kelompok mujahidin sebagai bagian dari strategi untuk melawan Komunisme. Tetapi sebenarnya Reagan memberi mereka lebih banyak senjata. Pemerintah AS juga mendanai buku-buku teks yang penuh dengan kekerasan, yang diterbitkan oleh Universitas Nebraska. Anak-anak Amerika mungkin belajar berhitung matematika dengan gambar apel dari jeruk. Sementara itu, anak-anak Afghanistan belajar berhitung dengan gambar bayonet dan bom. Beberapa murid masih belajar dengan cara itu: buku-buku teks itu hanya menghilang secara perlahan-lahan dari sekolah-sekolah di Afghanistan.
Tidak dibutuhkan seorang jenderal berbintang empat untuk bisa melihat pelajaran seperti itu. Ketika Soviet menarik diri dari Afghanistan tahun 1989, AS meninggalkan sebuah misi yang dianggap telah tercapai. Apa yang sesungguhnya ditinggalkan AS adalah sebuah negeri yang sudah karut-marut, yang saling berebut kekuasaan. Terlatih sebagai tentara, para mujahidin mengorganisasi sebuah kudeta di Afghanistan selama beberapa tahun sesudahnya. Meskipun begitu, Amerika tetap menutup mata. Pada tahun 1998, sebuah media di Paris mewawancarai Zbigniew Brzezinski, mantan penasihat keamanan nasional bagi presiden Jimmy Carter. Sekarang, saat “fundamentalisme Islam menebarkan ancaman kepada dunia,” tanya Le Nouvel Observateur “haruskah kebijakan luar negeri AS lebih memberikan perhatian pada fenomena itu?” Brzezinski, yang tidak terlibat dalam pemerintahan Reagan maupun Clinton, menjawab dengan pikiran pendek yang penuh duri: “Apa yang paling penting bagi sejarah dunia? Pejuang muslim militan atau pembebasan Eropa Tengah dan akhir Perang Dingin?”
Dia pasti lebih cerdas dalam mengingat aroma busuk yang ditinggalkan Presiden Eisenhower di akhir tahun 1950-an. Sepanjang diskusi, Eisenhower mencatat sebuah “kampanye kebencian melawan kita bukan dilakukan oleh pemerintah-pemerintahnya, tapi oleh rakyat” dunia Arab. Dewan Keamanan Nasional-nya menganalisis keadaan tersebut dan mencapai satu kesimpulan: Orang Arab kebanyakan merasa bahwa, dengan mendukung rezim opresif demi tujuan mengontrol aliran minyak, AS dianggap tengah menghalangi demokrasi. Pemahaman tersebut sudah tertangkap oleh radar selama empat puluh tahun, pada saat Taliban mengambil alih Afghanistan dan menyediakan surga yang aman bagi para teroris Al-Qaeda. Empat puluh tahun, dan masih belum diperhatikan.
Aku berharap bisa mengatakan bahwa pandangan sempit Washington sama hati-hatinya dengan rezim-rezim di Afghanistan dan Irak di masa lalu. Tapi aku tidak bisa mengatakannya. Izinkan aku mengilustrasikan dalam sebuah percakapan yang aku tonton baru-baru ini antara pembawa acara Phil Donahue dan Charles Dolan, ketua Komisi Penasihat AS untuk Diplomasi Publik—sebuah badan yang mencoba untuk menghapus kesan negatif terhadap Amerika di seluruh dunia.
DOLAN: “Aku rasa pemerintahan Bush telah melakukan beberapa hal brilian dalam hal diplomasi publik sejak mereka bekerja. Meskipun belum menyentuh masalah kontroversial, tapi mereka tengah mencoba—”
DONAHUE: “Meninggalkan Kyoto (protokol tentang lingkungan hidup), tidak ingin melakukan apa pun dengan Pengadilan Kejahatan Internasional, mengatakan hal-hal buruk tentang PBB. Sungguh kita seperti ingin memasuki kota sendirian saja, kita tidak membutuhkan siapa pun untuk menolong kita.”
DOLAN: “Phil, kalau Anda ingin saya berbicara tentang kebijakan-kebijakan mereka, kita perlu lima kali wawancara lagi.”
DONAHUE: “Tapi kita sedang berbicara tentang alasan kenapa kita harus dipahami dengan cara seperti ini! Sepertinya kita tidak ingin bermain dengan siapa pun, atau organisasi internasional mana pun! Kita tampak sangat arogan dengan sikap seperti ini.”
(SUNYI)
DOLAN: “Tapi Saya sedang berbicara tentang cara kita berkomunikasi dengan dunia—hal yang tadi kita bicarakan. Bagaimana kita merespons citra yang salah tentang AS di luar negeri? Saya rasa itulah yang sedang kita bicarakan.”
Apakah Dolan gila? Kuakui bahwa dia tidak akan bisa menghina bosnya atau kebijakan-kebijakannya di depan kamera, tapi bukan itu masalahnya. Dolan tidak ingin ditanya tentang apakah ini semua, dalam faktanya, adalah citra yang salah tentang Amerika. Dia hanya ingin berbicara tentang bagaimana melawan citra-citra seperti itu dengan alat-alat dan taktik-taktik komunikasi. Luar biasa! Dolan juga seorang wakil Presiden senior di Ketchum, sebuah agen Public Relations. Wahai Amerika, itu bukanlah inti diplomasi publik. Usaha sungguh-sungguh untuk bertindak benar ketimbang hanya terlihat benar, haruslah menjadi tatanan dunia saat ini.
Amerika, kerjamu menyingkirkan Taliban membuat jutaan orang Afghanistan menjadi bahagia. Meskipun demikian, sejak itu kegagalanmu untuk menempatkan tentara di luar Kabul hanya membuat para pemimpin perang tribal dan simpatisan Taliban tersenyum. Sudah pasti, konstitusi yang baru memperkenalkan hak-hak perempuan dan peradilan yang mandiri. Tapi hanya di atas kertas. Dalam kenyataan, seorang pemimpin perang yang oleh Sekretaris Pertahanan AS baru-baru ini digambarkan sebagai “orang yang menarik, penuh pertimbangan dan perhitungan” telah membuat Departemen Baik dan Buruk kembali berkuasa. Departemen ini memaksakan pemisahan antara anak laki-laki dan perempuan, mengutuk kebebasan pers, melarang pembacaan puisi, menghajar perempuan yang berserikat dan berkumpul, dan mempersiapkan kembalinya Taliban.
Kau bilang penuh pertimbangan? Penuh perhitungan? Amerika, apa kau serius? Kalau ya, di mana batang hidungmu sekarang? Kau tidak suka tentara-tentaramu menjadi pasukan penjaga perdamaian, tapi dalam kasus itu, kenapa kau tidak mempercepat pelatihan terhadap polisi lokal dan menambah pasukan internasional yang sudah ada di sana? Apa yang terjadi dengan instingmu terhadap keamanan—dan kebebasan?
Berkaitan denganmu, wahai teman-teman muslimku, aku mendengar kegeramanmu. Washington harus memberikan apresiasi bahwa ketika kelompok muslim liberal berkata, “Kami membencimu”, itu bukan karena Amerika secara langsung melakukan kekejaman terhadap dunia Islam. Tapi lebih karena Amerika gagal—berlawanan dengan kepentingan keamanannya sendiri—untuk membantu meredakan kekejaman di dunia Islam dalam jangka panjang. “Bijaksanalah!” kau ingin berteriak kepada Washington. Aku juga ingin berteriak. Bukan kepada Washington. Tapi kepadamu. Aku ingin berteriak, “Bersikap dewasalah!” Kelompok muslim liberal harus bersuara keras terhadap kenyataan ini: Washington adalah harapan yang tak terwujud, bukan penjahat yang utama. Bahwa Presiden Bush yang telah membantu proses pembebasan Saad Ibrahim, dan sebagai konsekuensinya untuk demokrasi Mesir, memberi kita alasan untuk mempercayai Amerika. Aku meminta kepada Anda apa yang telah diminta oleh Ibrahim kepada para pemilih di negaranya: Hentikan sinisme dan bersikaplah yang konstruktif. Adalah mungkin jika Amerika membutuhkan pertolongan kita untuk mengaktualisasikan potensi besarnya sebagai bangsa yang humanis.
Untuk mencapai itu, kaum muslim harus mengajukan sebuah pertanyaan yang mendasar: Apa yang kita butuhkan untuk mereformasi diri? Masalah pribadi apa yang telah berkembang besar menjadi masalah semua orang? Karena baik Israel maupun Amerika tidak berbicara omong kosong tentang akar penderitaan kaum muslim di seluruh dunia, apakah Islam yang berbohong? Islam merangkai kebudayaan dari Afrika Utara sampai Asia Selatan, dan di masing-masing budaya ini, catatan ekonomi dan hak asasi manusia jauh tertinggal di belakang belahan dunia lainnya. Apakah Islam sangat menindas kreativitas, kemajuan, dan demokrasi?
Terlalu mudah untuk berkata tidak. Pikirkanlah dengan cara ini. Negara muslim Pakistan lahir pada tahun 1947, setahun sebelum negara Yahudi Israel berdiri. Jika visi Jinnah masih berlanjut, bukan tidak mungkin Pakistan akan menjadi modern, plural, dan spiritual sebagaimana Israel. Ternyata ia menjadi sebaliknya: menjadi lebih feodal, sektarian, dan gila. Biarkan aku meneruskan perbandingan ini. Pada tahun 2002, sebuah tim tenis ganda yang terdiri dari satu orang Pakistan dan satu orang Israel menjadi berita heboh. Peristiwa itu menjadi berita besar bukan hanya karena menawarkan prospek kerja sama antara kaum muslim dan Yahudi, tapi juga karena reaksi dari masing-masing negara mereka. Asosiasi Tenis Israel memberikan persetujuan kepada atletnya untuk bermain dengan atlet Pakistan. Sementara itu, Asosiasi Tenis Pakistan mengancam akan mendepak atletnya.
Jika Israel bisa melihat jauh melampaui politik meskipun sehari-hari selalu dalam keadaan siaga terhadap tetangga muslimnya, mengapa Pakistan tidak bisa—atau tidak akan bisa—menghadapi tantangan ini? Tentu saja, dikotomi ini berhubungan dengan kompas etika masing-masing negara, pastinya terinspirasi oleh nilai-nilai agama di masing-masing negara. Jelaslah, demokrasi bisa bertahan hidup di Israel yang beragama Yahudi. Tidak demikian dengan negeri Islam—setidaknya belum.
Meskipun demikian, tidak berarti kemudian Islam adalah sebuah masalah. Lagi pula, sebagian besar muslim di dunia—yaitu muslim di luar Timur Tengah—hidup dalam demokrasi elektoral. Dengan demikian, pemerintahan mereka lebih bisa menawarkan kebebasan dan keterbukaan. Mungkin potensi Islam untuk mengembangkan demokrasi yang penuh makna berada dalam fakta bahwa Al-Quran tidak merekomendasikan bentuk pemerintahan tertentu. Meyakini bahwa Al-Quran adalah karya Tuhan—secara keseluruhan atau sebagian—tentu tidak membuat kita terus berkreasi, bukan? Tidakkah itu memberi konotasi bahwa kita, sebagai individu yang diberi kehendak bebas, sepatutnya berpartisipasi dalam pemerintahan kita? Adalah masuk akal jika kaum muslim adalah sebuah umat yang dipersatukan oleh iman dalam Tuhan. Setiap orang berkata kita adalah satu umat yang dipersatukan oleh iman dalam Tuhan. Kita percaya bahwa kita seperti itu. Dan harus seperti itu.
Bayangkanlah jika kita bukan satu umat. Bayangkanlah jika kita tidak benar-benar dipersatukan oleh iman dalam Tuhan, tapi oleh ketundukan kepada budaya tertentu. Mungkinkah Islam—yang pasif sekalipun—lebih merupakan keyakinan tentang cara-cara hidup di padang pasir ketimbang kearifan ilahiah, dan bahwa kaum muslim diajarkan untuk menjiplak cara hidup orang Arab, di mana syekh-syekhnya berkuasa penuh dan setiap orang merasa geram di bawah kekuasaan mereka? Dengarkan baik-baik Raja Fahd dari Arab Saudi. “Sistem demokrasi yang lazim dipraktikkan di dunia tidak tepat diterapkan di Arab Saudi. Tidak ada sistem pemilihan dalam dogma Islam” karena Islam memandang seorang pemimpin sebagai “gembala” yang bertanggung jawab atas “domba-dombanya”.
Raja Fahd tidak hanya menyamakan kaum muslim dengan domba, tapi dengan tanpa ragu-ragu dia juga menyatakan apa yang buruk bagi Arab padang pasir, pastilah buruk bagi Islam semuanya. Anda mungkin protes, juga aku, bahwa dia salah karena tidak tepat dalam berbicara. Yang jelas, kaum muslim tidak memprotesnya secara massal. Kita seharusnya memprotes secara massal, setidaknya karena Raja Saudi menyandang gelar Penjaga Dua Tempat Suci—Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Siapa yang memilih Fahd sebagai pelayan Islam? Bukan kita. Siapa yang mendukung Fahd? Kita. Tapi kita membayar harga yang sangat mahal karena kita bahkan tidak memikirkan hal itu.
Apakah kolonisasi yang dilakukan negeri Arab adalah masalah yang harus kita reformasi?
- Kata Pengantar oleh Profesor Khaleel Mohammed
- Sekapur Sirih
- Catatan Pengarang
- Surat Terbuka
- Bab 1 - Kenapa Aku Menjadi Muslim Refusenik?
- Bab 2 - Tujuh Puluh Perawan?
- Bab 3 - Kapan Umat Islam Berhenti Berpikir?
- Bab 4 - Gerbang dan Korset
- Bab 5 - Siapa Mengkhianati Siapa?
- Bab 6 - Wilayah-wilayah Rawan dalam Islam
- Bab 7 - Operasi Ijtihad
- Bab 8 - Kaum Muslim Perlu Bersikap Jujur
- Bab 9 - Terima Kasih kepada Peradaban Barat
- Kata Penutup
- Bacaan-bacaan yang Dianjurkan
- Ucapan Terima Kasih
- Tentang Pengarang
Documentary

Irshad's PBS Documentary: Faith Without Fear follows my journey around the world to reconcile Islam and freedom.
Learn More and View Clips...
Buy Now in the USA
Buy Now in Canada
Get Involved

Irshad is pioneering efforts throughout the world to promote Muslim reform and moral courage. To join her mission, first get informed about all that she's doing.
Click here for concrete actions you can take to support Irshad's work.
Get Updates
Want to know more about what Irshad's doing? Sign up to her confidential mailing list.
Click here to see photos of Irshad's latest events and read her newsletters.
Around the Web
Join conversations about Muslim reform and moral courage around the web.
Click the links below to get involved:
RSS Feed - get the latest updates as soon as they go live




