photo

Book

book cover

The Trouble With Islam Today: A Muslim's Call for Reform in Her Faith. Published in more than 30 countries and languages.

Learn More

Buy the US paperback
Amazon | Barnes & Noble

Audio Book

Audio Book

The Trouble With Islam Today, narrated in English by Irshad Manji, with music by Deeyah and Gary Justice.

Buy Now

Free Translations

For where the book is banned, censored, or difficult to access:

button
button
button_lang button button

Reformist Quran

2.jpeg

A progressive, 21st-century translation -- in English. The U.S. publisher bailed on it after the Prophet Muhammad cartoon riots. But fear didn't stop the translators.

Read and interpret for yourself.

BERIMAN TANPA RASA TAKUT

Kata Pengantar oleh Profesor Khaleel Mohammed

KATA PENGANTAR
Oleh Profesor Khaleel Mohammed
Imam dan Profesor San Diego State University

SEBUAH FAKTA yang sederhana: Saya sepatutnya membenci Irshad Manji. Jika kaum muslim mendengar kata-katanya, mereka akan berhenti mendengar orang-orang seperti saya, seorang imam yang melewatkan waktu bertahun-tahun di universitas Islam.
Dia mengancam otoritas lelaki saya dan berkata banyak hal tentang Islam yang saya harap tidak benar. Dia bermulut besar dan menjalin fakta di atas fakta untuk membenarkan analisisnya. Dia tidak takut mati; dia hanya takut jika pikiran seseorang mati. Dia seorang lesbian, dan pendidikan madrasah saya telah merasuk ke dalam diri saya, hampir tertanam ke dalam DNA saya, di mana Allah membenci kaum gay dan lesbian. Saya seharusnya membenci perempuan ini.

Tetapi kemudian saya melihat ke dalam hati saya dan menggunakan nalar saya, dan saya sampai pada sebuah kesimpulan yang tidak mengenakkan: Irshad berkata benar. Dan Tuhan saya memerintah saya untuk menegakkan kebenaran—yang berarti bahwa saya harus berdampingan dengannya.

Bagaimanapun, ini bukanlah alasan kenapa saya menulis pengantar ini. Saya menulis kata pengantar ini karena saya perlu bertobat untuk tidak lagi berlaku seperti seorang munafik.

Saya sering menghargai keberanian saya dalam menentang para ekstremis Islam dan terorisme. Saya tidak mampu mengecilkan arti penghargaan-penghargaan tersebut karena hal itu menuntut keberanian yang tinggi. Dan, sebab tidaklah memerlukan pengorbanan testosteron besar-besaran untuk membela Irshad jika ia membutuhkan pembelaan.

Akan tetapi baru-baru ini, saya mendapatkan kesempatan itu, dan saya gagal melakukannya. Saya baru saja pulang dari sebuah konferensi di mana saya menimbulkan kehebohan dengan mendorong kaum muslim untuk melampaui sentimen anti-Semitisme. Beberapa muslim memutuskan untuk melakukan hal yang tepat: Mereka menemui saya untuk mengetahui secara tepat apa yang telah saya katakan. Di tengah-tengah diskusi, seseorang dari mereka mengatakan nama Irshad. Mereka mencemooh dia sebagai lesbian kecil tukang bikin onar. Dan di sanalah saya duduk, seperti seekor ayam yang lumpuh, bungkam dan diam, tidak ingin berlanjut pada masalah lainnya. Saya, seorang lelaki, “penegak dan pelindung” kaum perempuan, dianggap demikian oleh amanat ilahi dalam naskah abad ke-7 di mana para guru madrasah mencekokiku sepanjang waktu. Aku pun tak kuasa berkata sepatah kata pun.

Itulah sebuah momen ketika saya menyadari bahwa semua omong kosong ini harus diakhiri. Apakah saya seorang muslim atau tidak? Apakah saya peduli pada kebenaran atau tidak? Itulah sebabnya sekarang saya menyatakan, tidak hanya untuk orang Islam yang menemui saya, tetapi untuk semua muslim: Saya mendukung perjuangan Irshad Manji. Dia ingin kita melakukan apa yang diperintahkan oleh Kitab Suci pada kita: Akhirilah sikap-sikap kesukuan, bukalah mata Anda, dan lawanlah penindasan, bahkan jika penindasan itu dirasionalisasi oleh imam-imam terhormat kita, syekh-syekh kita, mullah-mullah kita, profesor-profesor kita, dan oleh dogma apa saja yang dikemas dengan rapi oleh orang Islam.

Sangat jarang seorang muslim menyatakan secara terbuka apa yang banyak kita ketahui tapi tidak berani mengonfirmasinya. Irshad sedikit bersemangat saat memaparkan serangan orang Yahudi, sebagaimana saat berbicara tentang dorongan untuk melemparkan tanggung jawab atas semua penyakit Islam pada kolonisasi Barat; ia mengabaikan sejarah Islam sendiri tentang imperialisme dan pelanggaran hak asasi manusia yang terus berlanjut atas nama Allah. Sepanjang bukunya, Irshad tetap patuh pada Perintah Ilahi: “ Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar menegakkan keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri ataupun ibu-bapak dan kerabatmu.” (An-Nisa: 135).

Dengan hanya patuh kepada Allah, Irshad menyerang para mullah dengan segala permainan mereka. Salah satu prasyarat berat dari ijtihad, tradisi Islam dalam berpikir independen, adalah seseorang harus akrab dengan semua ulama salaf Islam. Pada poin ini, Irshad berbeda dengan banyak ulama Islam. Dalam faktanya, bukunya ini dapat menjadi pengantar atas pandangan-pandangan intelektual muslim modern. Di mana lagi kita dapat menemukan analisis yang tajam tentang Saad Eddin Ibrahim, Mahmoud Taha, Khaled Abou El Fadl, Nasr Hamed Abu-Zeid, dan beberapa yang lainnya?

Irshad membuka diri pada kritik dengan memilih bentuk ekspresi demokratis yang bersifat menantang—ia menulis buku ini dalam bentuk surat terbuka. Pendekatannya ini akan menantang ego para elite, karena dia menolak untuk menulis secara ketat buat kita dan konstituen kita yang eksklusif. Karya Irshad tidak jatuh ke dalam tipologi teori-teori akademis yang ditulis nyaris dalam jargon menara-gading yang sukar dipahami. Karyanya juga tidak merepresentasikan nyanyian romantis tentang Islam yang bermakna hanya bagi pengikutnya. Alih-alih, gaya, kejujuran, dan keterbukaan Irshad membuat bukunya memiliki kelas tersendiri.

Anda para pembaca mungkin tidak sepakat dengan semua kesimpulan Irshad. Saya pun demikian. Tetapi justru itulah tujuan dia. Ia mengharapkan seseorang yang mempertanyakan pemikirannya, untuk diajak berdialog dan bertanya tentang Islam.

DR. KHALEEL MOHAMMED mengajar agama di San Diego State University dan merupakan anggota Pusat Studi Islam dan Arab di universitas tersebut. Dia juga seorang imam yang mempelajari ilmu Syariah di Muhammad bin Saud University di Riyadh (Sunni) dan Zeinabiyya di Damaskus (Syiah). Mendapat gelar Ph.D dalam hukum Islam dari McGill University. Informasi lebih jauh tentang Dr. Mohammed bisa didapatkan di www.forpeoplewhothink.org.